Press "Enter" to skip to content

Mengutus “Unconscious Shimmering” sebagai Babak Baru Cathuspatha

Awal tahun 2020, tepatnya di bulan pertama tahun ini, saya mendapat kabar baik dari manajer Cathuspatha, unit indie-rock asal Bandung, bahwa mereka siap untuk kembali bermusik. Alangkah senangnya. Bertahun lamanya saya menunggu momen ini sambil acap kali memutarkan lagu mereka berjudul X yang saya unduh secara ilegal lewat platform Soundcloud.

Kelompok musik yang merupakan format terusan dari band lawas bernama Vickyvette ini bisa dibilang memegang peranan dalam skena rock lokal pada medio 2010-an. Menggebrak melalui panggung kolektif, ajang kompetisi musik LA Light Indiefest vol. 3, dan musik yang ‘berantakan’ sejak terbentuk di tahun 2005. Rock terdengar lebih kompleks dan berbeda di tangan mereka.

Adalah Muhammad Rayhan Sudrajat (vokal, gitar), Raden Prajadhipa Akbar Wiriadinata (gitar), Mohammad Shadian Merwyn (drum), dan Adithya Dwi Prawira (bass) yang kemudian membawa kembali band ini setelah mengubur diri di tahun 2012. Bila penasaran dengan sepak terjang mereka, silakan cari di mesin pencari, karena arsip wawancara kami bersama mereka di tahun tersebut tidak bisa terselamatkan. Selepas bubar—bila harus dikatakan begitu—beberapa dari mereka masih aktif di perskenaan. Misalnya Rayhan, yang hingga kini konsisten dengan solo project-nya.

Semester kedua menjadi momentum bagi Cathuspatha untuk merilis (ulang) mini album bertajuk Unconscious Shimmering. Karya ini sebetulnya tercatat sebagai diskografi Vickyvette, yang kali pertama dilepas tahun 2010. Tentu dengan iktikad menyegarkan ingatan kalian, mereka kemas ulang. Ayo gih pada kenalan lagi.

Memuat 7 materi lama, nuansa lawas turut tercermin dari cover artwork yang dikerjakan oleh Andri Irianto. Visual khas dari rilisan band-band era sebelum musik begitu komersil dan ungkapan ‘maen musik mah idealisme aing‘ masih laku di tongkrongan. Proses rekamannya sendiri dibantu kawan-kawan musisi, antara lain Mario ‘Rusa Militan’ (bass), Maul Nando ‘Perunggu’ (vokal latar), dan Dida Frilyana (kecapi, suling). Ranah remastering menjadi bagian Baséput yang ia kerjakan di Melbourne, Australia.

Bebunyian noise, distorsi, hingga atmosferik menguasai penuh komposisi lagu. Oh ya, kalian dipersilakan untuk menyebut genre mereka dengan sebutan apa pun, entah itu space-rock, experimental-rock, art-rock, atau bahkan post-hardcore. Saya cukup menamainya sebagai unit rock saja karena siapalah saya.

Unconscious Shimmering sudah tersedia di layanan musik digital seperti Bandcamp dan Spotify. Sementara waktu, dengarkan sajalah musiknya. Toh, nanti akan ada waktunya sendiri menikmati sajian musik mereka secara live, yang tentu saja dengan pendewasaan musiknya. Dewasa~ Selamat datang kembali, Cathuspatha!


Twitter: @cathuspatha

Instagram: instagram.com/cathuspatha

Foto oleh Jovy Akbar – Shutterbeater