Press "Enter" to skip to content

Mengenang Bandung Tahun 1950-an di Pameran SADA

Sabtu (17/1) kemarin aku diajak jalan-jalan ke tahun 1950 sama SADA,Soundscape Presentation of 1950s Bandung. Suguhan berupa 2 buah karya sound art instalation oleh Satriyo Utomo (Good Old Sounds) dan Sandi Mardiansyah (Asian-African Brotherhood) dengan kurator Adrian Benn digelar di Garasi 10, tepatnya di Jalan Rebana No. 10. Agak somewhere out there, sih. Kedua karya yang dipresentasikan dalam pameran ini merupakan eksplorasi imajinasi terhadap ruang bunyi kota di era 1950-an, disusun dengan menggunakan materi audio yang direkam pada masa sekarang.

Yaaa, pameran ini udah kayak mesin waktu, di mana kita diajak berfantasi dengan suara sibuknya Kota Bandung sehabis perang di akhir tahun 1949. Pada karya Good Old Sounds terdapat 2 foto tepat di Alun-alun Bandung pada tahun 1950 dan 2015, jadi kita bisa ngebedain suara keadaan Alun-alun pada masa heubeul dan kiwari. Sound awesome

Banyak perbedaan yang signifikan yaitu pada suara kendaraan dan kicauan burung yang nihil di tahun 2015. Bandung tahun 50-an mah, adem~ Satu foto lagi dengan eksplorasi sisi lain dari Ijzermanpark alias Taman Ganesha pada tahun 1960. Fix, jatuh cinta sama suara burung di tahun 1960 lah.

Alun-alun jaman kiwari
Alun-alun jaman kiwari.

Di pameran ini, Kang Satriyo ingin memberikan gambaran bagaimana kehidupan pada masa dulu dan sekarang dengan menampilkan beberapa foto dan audio, seakan kita bisa tau bagaimana keadaan pada masa transisi dan jaman sekarang. Begitu penjelasan yang singkat dari karyanya sendiri. Keren, Kang!

Karya selanjutnya adalah Asian-African Brotherhood. Yang bikin keren adalah kita hanya masuk ke dalam tirai hitam dan langsung mendengarkan pidato Bung Karno pada konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955. Disusun secara kronologis mulai dari kedatangan pada delegasi, Bandung Walk, hingga konferensi. Tegang, cuy!

ngadem sama suara Bandung tahun 50an
Ngadem sama suara Bandung tahun 50-an.

Terakhir ada performance dari Resiguru yang berkolaborasi dengan penari kontemporer Galuh Pangestri. Resiguru menginterpretasikan suasana tanah sunda pasca kemerdekaan melalui bentuk musik yang kontemporer. Kolaborasi dengan maksud meleburkan emosi dalam bentuk narasi suara dan gerak. Edyaaannn~ mancap!

Pameran mesin waktu ini cuma sampai hari minggu aja, jadi jangan sampai ketinggalan! Oh iya, tanggal 25 Januari juga bakalan ada pemutaran musik Indonesia sebelum tahun 1960. Jadi, ajak mamah kamu sama papah juga, bakalan seneng lah berasa muda lagi di Garasi 10. Padahal mah si mamah juga beloman lahir taun segitu. Hih.

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *