Press "Enter" to skip to content

Menerima Diri dengan Ringan di “Kabar Angin”

Kabar Angin, adalah tajuk dari pameran tunggal Iabadiou Piko, seorang perupa seni lukis abstrak asal Yogyakarta. Karena kabar angin memang, aku tau-tau sampai di sini menyempatkan waktu di sore hari untuk lihat yang ingin dilihat. Pameran yang dibuka pada Selasa (3/11) kemarin tersebut, akan berlangsung hingga Rabu (18/11) di LOTFLOFT, Jalan Saminten nomor 25, Bandung. Masih banyak waktu, apalagi di hari Sabtu (7/10) acara pameran bakal ditambah keseruannya dengan lantunan musik dari The Fox & The Thieves. Terbaiks kan!

Suasana galeri.
Suasana galeri.

Para pengunjung pameran disodorkan lembar edukasi, yang di dalamnya berisi pertanyaan-pertanyaan esai seputar pameran, kayak lembar LKS yang dikasih waktu kamu karya wisata bareng sekolahan gitu geuningan. Diisinya nggak perlu dengan gaya akademisi, gaya lau aja. Caela. Ditinjau dari pola acak penciptaan karyanya yang dapat disandingkan dengan gambar anak-anak, pembukaan pameran sore itu juga dilengkapi kedatangan temen-temen bocah dari semAta (gallery for kids) yang jadi tamu khusus untuk ikut berkarya ala Piko dengan media yang persis sama. Mendadak riuh memang, bocah-bocah ngegambarnya pakai backsound “fff, bam, tuss-tuss”, bikin pengen nyubit, tapi ada orang tuanya. Jadi sidakep bari balem aja aku.

Piko dan adik-adik.
Piko dan adik-adik.

Piko, atas karyanya bilang kalo dia sengaja memberi kebebasan bagi para penikmat karyanya. Bukan masalah ketika penikmatnya merasa nggak nyaman, nggak ngerti, atau bahkan nggak ngerasain apa-apa, karena Piko bukan membicarakan tentang gagasan. Ya, gagasan gambar-gambarnya adalah “tanpa gagasan”. Ekspresi yang keluar secara acak, bebas, dan intuitif dari karyanya dianggap sebagai ruang kontemplasi diri, sebuah upaya pembebasan. Terdengar idealis? Nggak juga, sih, do’i termasuk orang yang terbuka terhadap berbagai pola pikir. Justru itu bentuk apresiasinya terhadap kebebasan, kepada orang lain maupun terhadap diri. Katanya lagi, bahwa karya itu nggak ada yang gagal, palingan belum selesai. Begitu yang terjadi pada pola penciptaan karyanya. Menerima diri yang mestinya sederhana, memang kadang sekadar soal waktu.

Emangnya dikira cuma corat-coret doang? Emang! Bedanya yang ini pakai pemaknaan. Aku, sih, penasaran pengen liat isi lembar pertanyaan esai para pengunjung yang lain. Menurutku, ini adalah salah satu pameran yang begitu mengangkat sisi personal para penikmatnya, untuk menerima diri, bahwa jawaban kamu emang keren kok! Haha. Cobain kesana deh..

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *