Press "Enter" to skip to content

Memvisualkan Rasa yang Ada di “Tabu Loro Show, LocArt 2015”

Hari Jumat (9/10) kemarin, aku jalan-jalan lagi ke daerah Jalan Sulanjana, tepatnya menuju ke Galeri Hidayat. Panca inderaku menangkap bahwa ada keramaian tercipta di galeri tersebut. Usut punya usut, ternyata akan ada pembukaan pameran LocArt 2015 yang mengambil judul Tabu Loro Show. Pameran ini hanya dibuka 3 hari saja, alias, saat kamu membaca artikel ini, maka hari ini adalah hari terakhir pameran berlangsung. Huft, singkatnya, padahal bagus-bagus lho, karyanya.

Tabu Loro Show merupakan adaptasi dari kata ‘tabula rasa’ yang berasal dari bahasa latin dan mempunyai makna kertas kosong. Menurut pemikiran John Locke yang ditulis ulang pada pengantar oleh kurator pameran ini, Pemandangan Band, bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan, yang dengan kata lain bermakna ‘kosong’, dan seluruh sumber pengetahuan yang dimiliki hingga saat ini berasal dari pengalamannya merespon dunia luar.

Antara Desain dan Seni
Antara Desain dan Seni.

Terdapat 24 karya seniman muda yang dipamerkan pada LocArt 2015 kali ini. Karya-karya yang ditampilkan ini merupakan hasil respon tiap seniman terhadap apa yang mereka telah lalui dan persoalan-persoalan yang muncul saat ini. Para seniman memberikan perspektif baru tentang bagaimana cara mengungkapkan suatu permasalahan dengan melakukan eksperimen terhadap karya. Medium yang digunakan pun beragam, mulai dari kertas binder, hingga pohon pun ada. Beneran, ada pohon, lho!

Ada karya yang mencuri perhatianku, yaitu berasal dari seseorang bernama Alima Hayatun Nufus dengan judul Under The Ocean. Jika dilihat dari kejauhan, mungkin tampak seperti ilustrasi pada umunya. Gambar yang diangkat adalah seorang perempuan berambut pendek yang tersesat dalam hutan dan lautan. Melalui wawancara singkat yang dilakukan oleh diriku, Ima bilang bahwa hutan dan lautan itu layaknya alam bawah sadar manusia. Kita hanya mengetahui lautan hingga batas tertentu saja, padahal masih banyak yang bisa kita ketahui jauh di bawah sana. Sama halnya dengan alam bawah sadar kita, kita hanya mengetahui sebagian tanpa menyadari betapa luasnya pemikiran kita. Hm, makna mendalam yang disajikan melalui gambar lucu, cantik, dan cute. Hehe.

Under The Ocean by Alima Hayatun Nufus
Under The Ocean by Alima Hayatun Nufus

Selanjutnya adalah karya dari Putri Fidhini, dengan judul Between Space #6 Seeing Duality of Reality Within Projection-Series. Jadi, lukisan ini tergabung dalam satu series, dan katanya ini tuh, produk tugas akhirnya gitu. Nah, sebuah pengalaman menarik terekam dalam lukisan ini, Putri mencoba menceritakan pengalamannya tentang fenomena yang ia alami, yaitu lucid dream. Kalau nggak tau googling dulu aja. Dalam statement-nya, ia memiliki suatu pertanyaan besar tentang hubungan antar ruang dan manusia dengan ruang itu sendiri, yang diyakini sebagai realitas kehidupannya. Maka, muncullah karya ini, coba lihat, yang mana asli yang mana mimpi, bingung kan?

Seeing Duality of Reality Within Projection by Putri Fidhini
Seeing Duality of Reality Within Projection by Putri Fidhini

Kalau saya cerita terus tentang karya-karya yang ada, kamu jadi nggak dateng dong. Jadi, yaudah, sampai sini aja. Masih banyak karya lainnya yang oke banget dan sayang untuk nggak dilihat. Jadi, mari ramai-ramai datang ke hari terakhir LocArt, ya! Jangan sampai keburu ditutup, aku tunggu kamu di rumah, eh, di Galeri Hidayat. Bye, see you there!

                                                                                              

Foto: Aulia Akbar

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *