Press "Enter" to skip to content

Mempelajari Kisah Sang Karikaturis di “Pameran Pri S: Sepilihan Karya dan Arsip”

Jum’at (5/8) sore kemarin sedang cerah-cerahnya, dan aku tergerak buat datang ke pameran terus ikutin diskusi ringan di Bale Handap Selasar Sunaryo sambil makan es krim. Heu. Diskusi kali ini merupakan salah satu bagian acara dari pameran Pri S. : Sepilihan Karya dan Arsip. Selain pameran dan diskusi, di hari itu juga resmi diterbitkan buku Pri S: Serumpun Tulisan  yang isinya tulisan Pak Pri tentang seni di Indonesia, yang bukunya udah dibedah duluan pada tanggal 29 Juli kemarin, diterbitkan oleh Desain Graphis Indonesia.

Pameran ini mengisahkan tentang jalan hidup sang karikaturis untuk majalah/koran Tempo dengan memamerkan kumpulan karya seni semasa hidup beliau, muatan media mengenai Pri, sampai koleksi bungkus rokok milik Priyanto Sunarto. Di pameran ini dapat dilihat juga karya dari seorang mantan dosen seni rupa ITB dan IKJ, beberapa karya berupa logo untuk suatu perusahaan bahkan logo ITB sekarang yang merupakan adalah hasil karya Pak Pri beserta teman-temannya. Menurut aku, sih, karya yang paling menarik itu hasil karikaturnya, yang isinya banyak nyindir pemerintah. Pas ngeliatnya, aku seuri-seuri sorangan. Sorry. Buat kamu juga yang lagi datang waktu itu dan tertarik buat mempelajari karikatur, langsung datang aja ke Ruang A dan Ruang Sayap di Selasar Sunaryo sampai tanggal 14 Agustus mendatang.

edittt

Setelah puas melihat pamerannya, semacam ada dorongan magis yang seakan-akan menarik aku dan peserta lainnya untuk ikutan diskusinya yang dimulai pukul 4 sore. Bohong ketang, padahal mah hayang datang weh. Hehe. Diskusi ini menghadirkan pembicara Jim Supangkat (kurator seni rupa senior, salah satu eksponen GSRB), Bambang Bujono (kritikus seni rupa) dan Aminudin T.H. Siregar (Direktur Galeri Soemardja & sejarawan seni rupa).

Pembicara pertama adalah Pak Bambu yang membeberkan beberapa gambar dari Pak Pri yang nggak lolos direksi untuk Tempo. Sebuah gambar yang dianggap terlalu menyindir pemerintah tentang mantan Presiden RI yaitu Megawati, sehingga gambarnya nggak dimuat dengan alasan kita semua akan hilang pekerjaan, ujar Pak Bambu selaku teman direksi di Tempo.

edit3

Semenjak pertama kali menggambar karikatur di tahun 1979, pak Pri mengakui dirinya sebagai “Tukang Gambar”. Gaya gambar yang santai serta informatif membuat gambarnya sangat disukai pembaca, malah jadi hal utama ketika pembaca untuk membeli majalah Tempo selain tentang issue-nya. Karya pak Pri yang menginspirasi ini bisa memicu para karikaturis atau yang cuma hobi gambar untuk membuat karikatur santai tapi “ngena”, karena semua karya yang berkesan akan selalu diingat, guys! Selamat berkarya.

Comments are closed.