Press "Enter" to skip to content

Memahami Rantai Distribusi Ikan lewat Film “FIN”

Banyak orang yang pasti “tau jadi aja” kalau urusan soal perut. Apalagi di bulan puasa ini, asa semua we dihabek, asal kenyang we~ Ternyata, makanan yang dikonsumsi kita sehari-hari tuh punya cerita yang panjaaaaaaaang banget, macam sirotolmustaqim gitu, ya. Subhanallah. Ketidaktahuan masyarakat akan jalur distribusi global makanan inilah, yang menarik Patrick Gilfether dan Kirk Pearson untuk memunculkan kepekaan lewat film dokumenternya yang berjudul Fin yang digelar di OMNI Space.

Aku dateng di hari pertama dong, Minggu (12/6). Sempet bingung, kan biasanya film dokumenter itu subjeknya orang. Nah kalau dalam film ini tokoh utamanya adalah tuna sirip kuning! Yes, film ini menceritakan perjalanan tuna tersebut dari masih berenang-renang di lautan Banda Aceh sampai akhirnya ada di piring restoran sushi di Jepang sana.

“Sebenernya kita juga nggak paham betul soal distribusi ini, justru dengan adanya proyek ini malahan kita jadi tau. Jadi bukan berangkat dari “sama-sama tau” tapi “sama-sama nggak tau”, begitu,” ujar Patrick sebagai sutradara.

Ketertarikan Patrick pada tema globalisasi membawanya pada pembuatan film yang hanya memakan waktu 4 bulan dari proses pengambilan gambar sampai eksibisi. Ambisi dan keinginan untuk ngasih tau masyarakat akan panjangnya cerita makanan mereka yang tersaji di atas piring.

Selain itu, pengemasan film ini nggak kayak dokumenter biasanya. Patrick dan Kirk mengemasnya agar lebih interaktif, di mana penonton dapat dengan leluasa memilih scene yang ingin ditonton. Dengan instalasi sederhana, penonton bisa memilih alur cerita sendiri dan frame secara nggak berurutan yang memungkinkan mereka merekonstruksi konsep rantai perdagangan yang sangat efisien sehingga membuat film ini nggak berawal dan nggak berakhir. Sayangnya, menurut aku, nih, ya, kita jadi agak bingung gitu untuk menemukan “alur” dari ceritanya. Meskipun benang merahnya ketangkep tapi perlu menonton beberapa frame secara ulang untuk bisa paham film dokumenter ini secara utuh.

Buat kalian yang kepo, bisa dateng aja ke OMNI space! Pameran ini bakalan dihelat dari tanggal 12-16 Juni 2016. Cawkeun bari ngabuburit!

Comments are closed.