Press "Enter" to skip to content

Melanjutkan Hura-Hura di “Limunas XIV”

Sebelum menemukan puja-puji saya tentang gelaran Limunas edisi ke-14, ada baiknya kamu baca tulisan ini terlebih dahulu biar anggapan minor bisa tercerahkan, karena pemilihan line-up edisi ini nggak sesederhana ‘asal band badag‘. Dua kelompok musik yang didapuk menghajar panggung Limunas kali ini adalah Syarikat Idola Remaja, persekutuan bijak kawan-kawan musisi di Bandung; dan Fourtwnty, yang selama ini kita kenal sebagai band indiepop dengan kiprah legitnya di permusikan tanah air.

Minggu (28/7) malam, saya datang menuju IFI Bandung tanpa ekspektasi macam-macam selain melanjutkan rutinitas menikmati magis Limunas yang kali pertama saya ikuti sejak dihelat di Reneo Cafe, medio 2011. Urusan registrasi media yang butuh menghabiskan dua batang rokok membuat penampilan pembuka dari Syarikat Idola Remaja tak saya nikmati sedari awal. Tapi, toh, beberapa momen yang tersaji masih bisa saya tangkap. Lagian emang pengen ngerokok dulu, sih.

Saya nggak sempet bagiin kuesioner (dan untuk apa juga) tentang apakah para penonton yang datang ini mengenal Syarikat Idola Remaja atau nggak, hanya saja yang terlihat adalah mayoritas dari mereka begitu menikmati sajian harmoni senang-senang ini. Bagi saya, ada dua hal yang menyenangkan dari event musik di mana kita nggak tau salah satu atau beberapa band pengisinya; cari tau dan dengarkan sebelumnya, atau nikmati langsung penampilannya lalu biarkan mereka tinggalkan kesan. Mungkin yang terjadi malam itu ya poin kedua.

Syarikat Idola Remaja tampil memikat. Energi positif yang ditampilkan berhasil menular ke seluruh sudut ruangan. Massa pecah saat Ari Lesmana, vokalis Fourtwnty, muncul dan bergabung bernyanyi bersama, yang dikonfirmasi langsung olehnya di atas panggung, bahwa selanjutnya ia akan ikut andil dalam projek musik ini. “Doa” menjadi penutup perjumpaan Syarikat Idola Remaja. Sungguh khidmat.

Sehabisnya, pintu Auditorium IFI terbuka. Pengeras suara memberikan informasi bahwa ada jeda sekitar 20 menit untuk mempersiapkan set selanjutnya. Para penonton yang mayoritas remaja mengisi pinggiran luar venue, layaknya murid-murid menunggu les Bahasa Perancis. Sementara saya beli dulu infused water ke kafe yang ada di situ.

Pengeras suara kembali mempersilakan penonton masuk. Venue penuh sesak, melebihi sebelumnya. Mulai terasa efek nyata dari tiket acara yang ludes terjual. Teriakan histeris menyambut Fourtwnty yang pada malam itu tampil dengan set utuh, lengkap dengan cangkir lawas sebagai properti. Mungkin isinya kopi, senja, dan seisi dunia. Satu persatu nomor unggulan dibawakan. Saya tak akan merunut lagu apa saja yang dibawakan, karena sejujurnya saya tak banyak tau lagu-lagu mereka, meskipun sedikitnya cukup bisa ikut bergumam lirik-liriknya.

Sesekali menyimak gelagat penonton yang kompak berkaraoke, sambil ponsel pintarnya tak lepas merekam dan diangkatnya tinggi-tinggi. Lalu hadirnya penonton asal Jepara yang sengaja hadir ke Bandung mengendarai motor, dan pemuda dengan ikat kepala khas Rey ‘Kelompok Penerbang Roket’. Momen menarik adalah padamnya listrik saat nomor “Diskusi Senja” tengah dibawakan. Sehabisnya, Ari cuma nyeletuk, “keren ya gimmick-nya hehehe,” dan penonton terus bernyanyi sampai akhirnya sound kembali normal. Sempat mengecek timeline twitter ternyata ada gempa di Banten. Tapi, sudahi sajalah cocoklogi ini.

Fourtwnty lanjut menghajar panggung dengan amunisi yang para penggemarnya hapal semua. Di tengah penampilan, Teh Boit naik ke atas panggung, lalu melakukan crowd surfing. Keisengan yang mengagetkan. Kayaknya ini kali pertama ada crowd surf di acara musik (((indiepop))). Oh ya, hampir tak ada jarak antara penonton di barisan depan dengan speaker monitor di panggung. Dekat sekali sedekat jarak antar warung di gang rumah saya. Dan malam itu ditutup dengan megah lewat “Fana Merah Jambu”. Semua senang. Tak terkecuali saya.

Sama seperti yang Limunas kutip di siaran pers, dari atas panggung, Ari mengatakan bahwa ia tak menyangka bisa diajak untuk menjadi penampil di helatan ini. Band yang menjadi nominasi ‘grup band paling ngetop’ versi penganugerahan musik di televisi nasional ini bisa diterima dengan baik oleh kawan-kawan Bandung. Pun ia mengabarkan bahwa kini ia telah resmi menjadi warga Bandung melalui proses naturalisasi. Nggak ketang, kamu pikir dia Cristian Gonzales?

Secara sadar saya bisa katakan bahwa edisi kali ini berjalan sukses. Kolektif huruhara-hurahura ini kembali membuktikan bahwa pergerakan musik kita baik-baik saja, dengan konsistensinya mengajak band dengan kualitas yang baik dan punya karya yang bisa melampaui zaman. Semua, kan, hanya soal bagaimana kita menempatkan perspektif. Bisa saja kamu-kamu yang menempatkan diri dengan setelan indie versi sendiri, tak begitu antusias akan Limunas XIV. Tapi ini bisa jadi medium yang menggembirakan bagi para pendengar musik lainnya, yang juga punya setelan indie versi mereka sendiri.

Selalu ada alasan di balik headliner yang diusung Limunas, dan kali ini saya menemukan alasan itu setelah menyaksikan langsung acaranya.

Comments are closed.