Press "Enter" to skip to content

Mata Kota: Seputar Cihapit

Apa ingatan kalian yang paling lekat tentang sebuah kawasan di Bandung Kota bernama Cihapit? Mayoritas di antara kalian pasti menyantumkan pasar dalam daftar, salah satu pasar tertua di Bandung yang selepas direvitalisasi Pemerintah Kota pada tahun 2017 menjadi begitu ikonik. Ditambah goresan mural pada tembok serta kehadiran para penggiat dan pelestari yang mengaktivasi ruang pasar yang tergabung dalam wadah bernama Los Tjihapit.

Sebentar, ada yang sempat membaca keluhan pembaca harian Pikiran Rakyat sebulan yang lalu? Tentu ada yang ‘hilang’ dari Cihapit. Entah apa itu.

Saya nggak akan mengkritisi apa yang berubah dari sana, toh, saya cuma warga angkatan 90an yang lahir dan besar di kawasan Cikaso. Toh, tak pernah ada keluhan yang saya rasakan tentang kawasan ini. Malah, satu masa dalam hidup saya sedikit banyak merekam yang pernah hadir di seputarnya. Semua didapat dari ibu saya, seorang pensiunan pegawai negeri sipil, yang pada masa aktifnya mengurusi seorang bocah SD seperti saya. Karena sering ngintil, jadi banyak diajak berkeliling. Entah itu untuk makan siang, atau berbelanja mainan. Katakanlah medio 2000.

Minggu (8/9), saya menyempatkan cukup waktu main ke sana. Mengisi fondasi dengan mie ayam bakso dan sebatang rokok di persimpangan Sabang-Pulolaut.

Dalam gambaran besar, pandangan kita akan langsung tertuju pada Pasar Tradisional Cihapit. Dulu, beberapa kali ibu mampir ke sana beli bahan pangan untuk kemudian dititipkan kepada saya dan bapak pengayuh becak. Karena saya mah pengen pulang lebih cepet dari beliau, kartun siang-sore pada seru. Tertulis di salah satu pertokoan; Toko P&D Tjihapit. Penamaan tersebut menguatkan identitas bahwa kawasan ini telah berkembang sejak lama sekali, di mana istilah ‘P&D’ memiliki kepanjangan Proviand & Drank yang maknanya adalah ‘makanan dan minuman’, diambil dari Bahasa Belanda. Pernah liat tulisan itu di kawasan lain?

Sementara perkenalan pertama saya dimulai dengan Lotek Tjihapit; kantin legendaris yang telah berdiri sejak tahun 1970. Buat saya, loteknya khas. Berkatnyalah lotek menjadi makanan favorit hingga kini. Berkatnya pula asam urat pernah singgah dan merundung leher ini~ Coba deh ngobrol sama penjualnya, saya yakin beliau sepakat bahwa antara lotek atah, lotek asak, karedok, dan gado-gado itu masing-masingnya berbeda. Lotek atah bukanlah karedok. Itu hal dasar yang harus kita pahami. Baru nanti kita bahas apa itu pencok.

Lanjut perpanganan, ibu melabuhkan pilihan ke RM Aloha. Lontong kari ayam adalah kuncian. Sayangnya, kios yang mereka tempati sejak lama, kini tertutup rapat tampak seperti dijual. Aktivitas mereka kini pindah ke Jalan Sabang, tak jauh dari pintu masuk samping pasar. Setiap hari buka mulai jam 9 pagi sampai 5 sore, terkhusus Minggu hanya sampai 2 siang. Sampai sekarang, ibu masih suka pesen makanannya via Go-Food.

Sehabis kamerekaan, saatnya membina sifat konsumtif dalam diri dong. M&M The Nice Shop tujuan selanjutnya sebelum kembali ke kantor dinas. Apa aja dibeli. Pernik unik maupun persandangan. Toko serba ada ini (dulunya) terletak di Jalan Sabang No. 9-11, jajaran seberang SDPN Sabang Bandung. Setelah menutup gerai (lupa tahun berapa, tapi 2010 udah nggak ada), kini tanah tersebut menjadi rumah dan tempat praktik dokter gigi. Tempat terbaik, before Miniso was cool tea geuning.

Menjelang remaja, akhirnya saya mengenal Surabi Cihapit. Berlokasi di samping pasar, tepatnya di pelataran Toko P&D Djitu. Satu-satunya (atau yang sepanjang umur ini saya tau) memegang gelar surabi oncom terbaik, karena oncomnya beneran, nggak seada-adanya kayak surabi gerobak yang sering mangkal di hampir setiap gang kawasan Bandung Raya. Bukanya dua shift, pagi (06-12) dan sore (15-22). Siangnya pada ngapain? Mungkin makan siang di Lotek Tjihapit. Nggak usah terlalu dipikirin lah~

Kenangan teh nya… Beberapa kali saya bangkitkan dengan cara mengunjunginya. Cuma sekarang mah jajannya pakai uang sendiri. Sekadar mengingat, menghargai perjalanan hidup, atau mencuri pandang wajah-wajah lama yang masih bertahan di sana. Udah, sih, itu aja. Oh ya, beberapa gerai lain yang menurut saya menarik ada kios buku Tjihapit, Toko Obat Waras, Toko Pyramid Sport, Bubur Ayam PMI 79, dan masterpiece dari Empal Gentong Cihapit. Punten, Sambal Khas Karmila mah henteu euy