Press "Enter" to skip to content

Mata Kota: Flyover Jakarta

Ada tiga kemungkinan seseorang berkoar melempar kritik atau sekadar keluhan. Pertama, ia yang meneguhkan diri sebagai social justice warrior. Kedua, aktivis cum anggota Lembaga Swadaya Masyarakat. Ketiga, mereka-mereka sebagai masyarakat terdampak.

Aku termasuk di nomor terakhir, warga yang tiap hari bolak-balik dari Cicadas menuju Kiaracondong selayaknya angkutan umum warna biru dan merah. Habis Kiara Artha Park, ada lagi aja, nih, yang bikin musti ngetem.

Sebuah alat berat berjenis kendaraan excavator Komatsu P-200 terparkir di tengah ruas Jalan Jakarta yang bisa dipastikan pemiliknya tak sedang sarapan di KFC. Kabar flyover baru di persimpangan Jalan Jakarta-W.R. Supratman akhirnya tersebar luas Selasa (3/9) pagi, bersamaan dengan flyover lain di persimpangan Jalan Pelajar Pejuang-Laswi-Gatot Subroto. Sesungguhnya aku nggak begitu kaget. Tahun lalu, teman kuliahku bercerita tentang rencana pembangunan jembatan pendek ini. Perusahaannya kebagian mengerjakan dokumen UKL-UPL; dokumen pengelolaan lingkungan hidup bagi rencana usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib AMDAL. Selang setahun, kita kaget semuanya benar-benar terjadi.

Masih ingat betul bagaimana kita semua, sebagai masyarakat Kota Bandung, merasa terganggu dengan pembangunan jembatan pelangi di persimpangan Antapani-Kiaracondong. Beberapa bahkan merasa masalah kemacetan masih belum teratasi pascapembangunan. Setuju tak setuju, kita harus akui bahwa perencanaan kota di tangan para pemangku kebijakan seringkali tak sejalan dengan apa yang masyarakat keluhkan. Ngeluhna naon, anu digawekeun naon.

Flyover lintas Jalan Jakarta-W.R. Supratman ini panjangnya direncanakan 500 meter. Jika dari Jalan Jakarta, turunannya tepat di depan SMPN 22 Bandung. Secara logis, sependek apa pun flyover yang dibuat, sedikitnya akan ada titik kemacetan yang terurai setelah jalan layang terbangun. Aku cukup yakin Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung punya kapabilitas untuk kemajuan kota. Terlebih Dinas Perhubungan, yang belum lama ini ‘sukses’ merekayasa warga demi kepentingan lalu lintas Cipaganti dan sekitarnya.

Apa pun itu, pembangunan akan tetap berjalan, dengan atau tanpa kita. Lagipula, ini baru jalan layang, belum tol dalam kota. Terima aja, boss. Kalau kata Mang Oded akan ada lagi 7 flyover seperti ini, kemungkinan pembangunan lebih dari angka tersebut tentu masih ada. Mungkin 30, seperti kata teman kuliahku. Karena semuanya adalah kejutan.

Mengutip perkataan Mang Oded di postingan Facebook; “Kita buat drama baru.”