Press "Enter" to skip to content

Makan, Musik, dan Nostalgia di “Keuken 2016”

Harus diacungin jempol, nih, untuk kinerjanya Pemerintah Kota Bandung yang udah membuat ruang terbuka publik yang nyaman dan keren. Salah satunya dengan membuat taman yang bersentuhan dengan sungai. Hihi. Macam di Seoul gitu, tapi yang Bandung ini juga nggak kalah keren dong sama yang di Seoul. Kita juga punya tempat nongkrong di pinggir sungai yang kemarin jadi venue acara Keuken 2016. Yes, festival makanan tahunan yang digelar Minggu (21/8) kemarin ini diadain di Jalan Ir. Soekarno, Cikapundung Timur.

Daerah Cikapundung Timur ini merupakan tempat di mana pertama kali banget acara Keuken digelar oleh HTH Experience, makanya mereka mengusung tema Revisiting The River ini punya maksud buat mengunjungi kembali daerah pinggir sungai Cikapundung yang dulunya nggak asik, dan sekarang udah bertransformasi jadi tempat nongkrong yang asik. Mungkin sekalian ingin memunculkan budaya “nongkrong” di sungai circa 1930-an kali, ya? Sok tau gini aku teh. Beberapa pengunjung yang udah berumur berpendapat kalau acara kali ini menarik banget. “Mengingatkan jaman waktu sungai-sungai masih bersih. Jaman noni-noni Belanda suka kuriak. Hehe,” ujar Pak Deden yang dateng barengan sama cucunya. Waduh pak, itu jaman kapan atuh asa geus lila jaman noni Belanda mah

IMG_0494-copy-1024x683

Acara festival makanan ini memenuhi sepanjang jalan dan “dibendung” oleh venue musik di Plaza Cikapundung Riverspot. Banyak banget tenant yang ikut ngeramein Keuken 2016 ini. Mulai dari pasta, nasi, taco, sampai makanan unik lengkap. Ada semua deh! Aku aja sampai bingung mau makan apa. Harus muter 3x dulu baru bisa mengukuhkan pilihan. Seandainya, nih, ya, kemarin aku bawa uang banyaaaaaaaak, kayaknya aku beliin deh satu-satu, tapi apa daya, aku ini hanya mahasiswa nggak berpenghasilan tetap. Hiks. Eh, tapi itu nggak mengurungkan niat untuk nyobain makanan unik dong, beruntung bagi pengguna T-Cash karena bisa dapetin diskon sampai 20% di semua tenant, baik makanan dan minuman! Hehe. Lumayan diskon goceng.

Asyiknya lagi, nih, ada sesi Tap & Rush, di mana kita bisa dapetin makanan dengan harga Rp1.000 aja di tenant tertentu. Makanya kuping aku udah siap tiap dengerin sirine sebagai tanda Tap & Rush dimulai. Lumayan dapet jus. Nggak cuman interaksi searah alias jajan doang, nih, yang hadir di Keuken, pengunjung juga bisa ngikutin kelas kopi dari Coffee Cult dan sesi Kitchen Stage yang dimeriahin sama Chef Chandra dari Chef’s Table NET TV dan Elephant Kind! Yes, bisa liat Bam Mastro masak!

Selain ada tenant makanan dan minuman, Keuken 2016 ini juga menghadirkan talent musik lokal dengan vibe berbeda di tiap sesi. Sesi Good Morning ada Ryo, Haxanized, dan Dash dengan DJ-set asyik mereka. Sesi Daylight Lunch ada Haz, Awfi, dan Magis dengan DJ-Set yang bikin semangat. Tapi sayang, nih, dua sesi terakhir, Sunset by the River dan Moonlight Dinner harus ngaret dan akhirnya kepotong hujan pas malem-malem. Padahal ada Symphoni Polyphonic, Maraha, dan Tre yang masih harus tampil.

Seperti pada acara HTH Experience yang lain, yang juga mengusung #GoodFestival, Keuken 2016 ini juga mengajarkan pengunjungnya untuk berperilaku yang good juga. Banyak propaganda soal management limbah dan sampah, angkutan umum, food packaging, dan kebijakan untuk nggak merokok. Hmm, mereka teh emang terkenal banget yak, untuk memadukan edukasi peduli lingkungan dan festival-festival gitu. Oh iya, yang bikin menarik lagi, nih, ya, semua kepedulian kita terhadap lingkungan tuh nggak cuma-cuma! Kalau kita ngumpulin 10 sampah ke booth #GoodFestival kita bisa dapet topi dan kalau ngumpulin 20 sampah dapet tas atau payung! Pantesan kemaren banyak yang mungutin sampah. Huh dasar oportunis! Tapi bagus ketang, pemberian insentif untuk efek jangka pendek memang baik karena bisa memupuk rasa gotong royong buat sesuatu yang dicinta, dalam hal ini ya Bandung.

IMG_0499-copy-1024x683

Gelaran kali ini bisa dibilang terlihat cukup penuh, mungkin karena venue-nya yang jauh lebih kecil dari dua acara sebelumnya yang digelar di Apron Bandara Husein Sastranegara dan Balai Kota Bandung. Pengunjung yang datang keluar-masuk juga membuat lokasi selalu terlihat ramai. “Gue datengnya ke yang Keuken #4, sih, yang di Gudang KA tea, yang ini padukdek, sih, mungkin karena tempatnya sempit kali, ya?” ujar Mirza, pengunjung.

Selain itu menurut aku, nih, konsep mengunjungi sungainya masih kurang dapet soalnya nggak ada interaksi dengan Sungai Cikapundung itu sendiri. Beda dengan Musca yang bener-bener intimate banget dengan si Hutan Babakan Siliwangi-nya. Ada beberapa pengunjung juga yang komentar kalau ada “bau sungai”. Huh, padahal itu baunya juga karena kalian-kalian manusia suka buang sampah sembarangan di sungai, tau!

Melihat aktivasi ruang terbuka publik di alam seperti di daerah Cikapundung Timur ini, seharusnya bisa memberi wawasan dan membukakan mata para pengunjungnya bahwa manusia itu hidup berdampingan dengan alam. Segala ketidak-nyamanan yang ada seperti “bau sungai” itu akibat pemukiman yang semakin padat dan keacuhan pada penduduk untuk melestarikan alam perkotaan. Yah, semoga aja ke depannya banyak acara-acara yang ikut menyelipkan propaganda cinta lingkungan seperti Keuken, jadi kalau bikin acara itu bukan cuman sekadar estetika tanpa esensi.

 

Foto: Ayub Syirajul Kahfi

Comments are closed.