Press "Enter" to skip to content

Lucy: Jika “Einstein” dan “Darwin” Bertemu

We are not human beings having a spiritual experience; we are spiritual beings having a human experience.” — Pierre Teilhard de Chardin

Heroine kita kali ini bernama Lucy (Scarlett Johansson), seorang exchange student yang sedang melakukan studinya di Taiwan. Seperti remaja pada umumnya, Lucy yang sedang mengalami kenakakan muda-mudi harus terjebak dalam drug trafficking mafia Korea yang ingin menyebarkan narkoba jenis baru yang mereka selundupkan di dalam tubuh para kurirnya. Terbangun dengan luka sayat yang baru dijahit diperutnya, Lucy harus menerima kenyataan dirinya telah dipaksa menjadi kurir narkoba yang sama sekali nggak dia sadari.

Keajaiban terjadi saat penyiksaan yang Lucy alami harus merobek bungkusan narkoba yang ada di dalam perutnya sehingga narkoba yang bocor itu diresap langsung oleh sistem metabolisme Lucy. Menyerap dosis tinggi dari narkoba yang tidak diketahui itu ternyata membuat Lucy bisa mengakses kemampuan otaknya lebih dari kapasitas manusia normal pada umumnya.

Dengan kemampuan menggunakan otak diatas rata-rata manusia normal, Lucy mencari tahu apa yang terjadi dengan dirinya setelah nggak sengaja mengonsumsi narkoba tersebut. Lucy akhirnya tau dia mengonsumsi narkoba baru jenis CPH4, sebuah hormon sintetis yang sama dengan hormon yang dihasilkan oleh ibu hamil untuk memberikan janinnya nutrisi saat berkembang dalam tingkatan sel terkecil. Lucy kemudian menghubungi Prof. Norman (Morgan Freeman), seorang ahli dibidang neurosains yang kemudian membimbing Lucy mengatasi kejaran mafia Korea yang sedang memburu dia.

Menonton film sci-fi seperti ini saya selalu dihadapkan pada dua pilihan;

1. Kita akan selalu mencari penyangkalan terhadap sebuah gambaran yang sutradara film berikan. Tak ayal, saya mendengar komentar seperti “Ah lebay, masa gitu banget” atau “Nggak mungkin banget,sih” di dalam studio selama film berlangsung. Denial seperti ini memang terjadi karena logika yang disuguhkan berlebihan sehingga nggak sampai pada benak penonton. Tapi jangan remehkan kemampuan berimajinasi seorang manusia, lho! Ingat berapa banyak teknologi masa kini yang dulu hanya berupa sketsa “ngawur” yang dihasilkan oleh Da Vinci? Yeah, you know what i mean.

2. Daripada bersikap defensif dan mencari penyangkalan sehingga mengurangi seni dari menonton sebuah film, bagaimana kalau kita amini maksud sang sutradara? Oke, begini maksud saya, Luc Besson mencoba mengajak kita untuk berkhayal bagaimana jika seorang manusia nggak perlu lagi memikirkan kebutuhan manusiawinya? Bagaimana jika seorang manusia sudah sangat efektif dan efisien hingga ke tingkat selnya sehingga tidak perlu lagi makan dan minum untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya? Seperti apa kehidupan manusia nantinya? Seperti apa kehidupan bersosial manusia nantinya?

Selain menyajikan evolusi Darwin yang tertinggi dan konsep Einstein tentang kemampuan otak manusia, Luc Besson juga menyajikan konsep Altruisme. Sebuah konsep yang mengajarkan pentingnya perhatian pada orang lain tanpa memikirkan diri sendiri, a selflessness. Besson mempunyai gagasan bahwa saat seseorang sudah mencapai kemampuan maksimalnya, maka satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah mewariskan semua ide, pemikiran dan cara yang paling efektif untuk menghadapi semua masalah yang ada sebagaimana Besson tunjukan dengan ending cerita film ini.

Ya memang, banyak cara untuk menikmati film sci-fi seperti ini dan pilihan saya kembalikan pada kalian semua. Overall, film ini menyajikan konsep menarik tentang human brain capacity dengan action yang, yaaa lumayanlah dengan (mendompleng) persona Scarlett Johansson’s femme fatale sebagai Black Widow di Marvel The Avengers dan Morgan Freeman sebagai everybody’s favorite wiseman.


Judul : Lucy
Sutradara : Luc Besson
Penulis Naskah : Luc Besson
Durasi : 89 menit
Genre : Action, Sci-fi
Pemeran : Scarlett Johansson, Morgan Freeman, Min-sik Choi

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *