Press "Enter" to skip to content

Lucky “Matoa” Aria dan Jam Tangan dari Limbah Kayu

Kalau ada yang bilang ilmu bisa didapat dimana saja, ada benarnya. Kalau ada yang bilang nggak harus kuliah untuk jadi kaya, bisa jadi. Lucky Aria rasanya bisa membuktikan dua hipotesis itu. Tiga kali pindah kampus sampai akhirnya memutuskan untuk putus kuliah, cowo kelahiran 28 tahun silam ini sekarang menjadi pengusaha yang bisa dibilang mapan.

Dari sepotong limbah kayu, cowok  yang akrab dipanggil Uuk ini menyulapnya menjadi sebuah jam tangan kece bernama Matoa. Dari sanalah pundi-pundi uang didapatkan. Gokil!

Foto: Cinta Marezi
Foto: Cinta Marezi

“Dari SMA senengnya main, mikirnya kalau banyak main, ya harus banyak uang. Bagaimana caranya main terus, tapi nggak minta (orang tua),” ujar Uuk membuka kisahnya. Boleh jadi kamu bakal menertawakan alasan Uuk ini. Tapi, kalau kamu tau berapa rupiah yang dihasilkan Matoa setiap bulannya, siap-siap cengo.

Jangan salah sangka dulu, di dunia ini nggak ada yang instan kecuali Mie. Itupun harus direbus, lumayan lama, kalau apinya kecil bisa sampai 10 menit. Apalagi kalau pakai arang, bisa nggak jadi mienya. “Dulu banget pernah usaha kecil-kecilan jual handphone, ya modalnya dari uang jajan, lumayan,lah,” kisah Lucky.

Dari bisnis handphone aja Uuk bisa punya banyak karyawan waktu itu. Passion? Bukan sihUuk justru menyangkalnya, karena menurut Uuk, passion itu nggak dicari, tapi datang tiba-tiba. “Mengalir begitu aja, sih, ketika itu saya terlintas aja kepikiran,” tambahnya.

Paska bisnis handphone, Lucky sempat beberapa kali coba-coba bisnis lain. Kegagalan,sih, udah jadi hal biasa buat dia. “Namanya juga proses, hehehe,” timpal cowok yang pernah jadi disc jockey ini.

Namun, Uuk nggak menyangkal kalau cuma pengalaman aja nggak bikin sukses. Pondasi yang kuat itu juga penting dalam bisnis. “Saya juga sempat jadi karyawan. Jadi Public Relation, terakhir jadi head marketing communication. Dari sana saya belajar ilmu marketing, public speaking dan leadership,” kenang Uuk.

Setelah 4 tahun menduduki posisi head marketing komunikasi dengan membawahi 400 orang, Uuk memutuskan untuk resign. Cukup, lah, belajarnya,” timpal Uuk.

Dibilang Gila

Dengan pengalaman bisnis bejibun dan pondasi yang kuat, Uuk kembali ke fitrahnya. Yoi, jadi entrepreneur lagi di bawah bendera Matoa (yang diambil dari nama pohon asli Papua).

“Sebelumnya, pernah punya jam tangan kayu dari Amerika,unik. Ya, udah langsung disitu saya terbesit buat bikin. Tapi dengan harga yang terjangkau, agar konsumen Indonesia bisa menikmati jam tangan kayu itu” kata Uuk menceritakan awal mula ide bisnis Matoa.

Lagi-lagi bukan perkara gampang untuk mengubah ide jadi kenyataan. “Malah, saya sempat dibilang gila gara-gara ide ini, cuek aja, lah, hehehe” pungkasnya.

Sebelum tercipta produk Matoa,  ide “gila”-nya ini memaksa Uuk untuk melakukan riset yang nggak sebentar. Ya, karena belum ada yang bikin di Indonesia, butuh usaha keras untuk bisa cari vendor yang tepat, termasuk mencari bahan juga. “Satu tahun riset, lumayan blusukan kemana-mana. Belum lagi biayanya yang cukup besar. Akhirnya, nemu. Saya menggabungkan limbah kayu dengan mahony dan ebony”.

Foto oleh: Cinta Marezi
Foto oleh: Cinta Marezi

Produk kece, tantangan selanjutnya adalah bagaimana Uuk mempromosikan produknya. Berpegang pada prinsip ekonomi, untuk urusan promosi dia nggak mau mengeluarkan biaya yang besar.  Strategi utama si Matoa ini Word Of Mouth aja, ya gimana caranya dengan biaya semurah mungkin orang bisa banyak tahu. Pokoknya harus semakin banyak diomongin, lah,” bocor Uuk.

Strategi pendukungnya, Uuk cukup cerdik dengan mendekati pihak pemerintah, dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Mayan, lah, suntikan dana sekaligus promosi gratis. “Dapet link ikut pameran gratis ke luar negeri. Dapat duit jualan, nggak ada setor-setor ke pemerintah pula,” ujarnya bangga. Bisyaan euy!

Dari strategi-strategi yang dilakukannya itu, produk Matoa sekarang udah didistribusikan sampai ke beberapa negara seperti Kanada, Malaysia, Singapur, Jepang dan Dubai. Mamprang! Dasar si Uuk, brand terkenal dan keuntungan rupiah semakin besar nggak bikin dia puas!

Matoa, bagi Uuk lebih dari sebuah brand. Matoa merupakan bisnis, jam, dan definisi waktu yang sudah ia lalui. Baginya, Matoa bukanlah tujuan akhir perjalanannya, melainkan awal dari semua yang akan dilalui Uuk.”Masih ada mimpi supaya produk Matoa bisa masuk Amerika, dan menyaingi produk-produk di sana,” tutupnya. SIIIIIIP!

 

@LuckyD_Aria | @matoa_talks | www.matoa-indonesia.com

 

7 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *