Press "Enter" to skip to content

Limunas XV: Rock Akhir Tahun dan Asa Keberlanjutan Kolektifan

Jauh sebelum Limunas XV dihelat, tepatnya saat kawan-kawan Limunas mengumumkan lineup, ada ragam respons yang muncul. Ada yang kegirangan, bersemangat, pun yang kini tak lagi mencibir. Ya, tentu kita masih ingat tentang pilihan band di edisi sebelumnya. “Nggak Limunas banget,” pikir beberapa orang, sekalipun Limunas merilis penjelasan panjang lebar.

Saya nggak ambil pusing. Rekam jejak Liga Musik Nasional sudah cukup jelas melalui gelaran-gelaran sebelumnya. Jadi, tak ada perasaan apa-apa selain antusias menikmati sajian dari The Panturas, FSTVLST, dan The Flowers, tiga band lintas generasi cum lintas domisili. Jauh hari saya sudah memesan satu tiket, karena satu jatah akses media menjadi milik Salman, reporter sekaligus desainer grafis ROI!


Sore itu, saya dan Salman tertahan di kawasan Jalan Ciumbuleuit. Hujan turun deras sehabis kami siaran. Jam menunjukkan pukul 19.20, artinya The Panturas sudah semestinya tampil bila mengacu pada rundown. Tak semua orang rela menerobos hujan. Sambil menunggu reda, Salman bercerita kalau ini adalah gelaran Limunas pertama yang bakal ia datangi. Tak ada kalimat lain selain, “Hayu, Man, kita gas.”

Sesampainya di IFI Bandung, beruntunglah The Panturas masih sempat kami nikmati. Kurang lebih tersisa 3 lagu terakhir, termasuk nomor “Gurita Kota”. Penampilan di Limunas XV adalah panggung mereka yang kesekian bagi Salman, tapi jadi yang pertama bagi saya menonton langsung unit surf-rock asal Jatinangor ini. Cukup puas dengan energi yang sukses mereka tularkan. Ingin teriak ‘we want more’ tapi kan kami aja yang telat. Nya kumaha deui. Kajeun baseuh kesang daripada baseuh kahujanan.

Ada interval waktu antar penampil untuk para kru mempersiapkan set panggung selanjutnya. Selain mengisap tembakau dan menyapa kawan-kawan yang turut hadir, momen ini dipakai beberapa orang untuk mengamankan merchandise t-shirt eksklusif di booth Omuniuum. Saya juga ke situ, ngambil zine Limunas yang dibagikan cuma-cuma. Setelah mengonfirmasi ke Teh Boit, salah satu warga Limunas, layout zine ini dikerjakan oleh Om Jaka dari estafet kaset, baru disiapkan hari-H jam 9 pagi dan selesai cetak jam 12 siang.

Memasuki sesi berikutnya, venue dibalut fog tebal menyambut Farid Stevy. Ia membuka pentas perdana FSTVLST di Bandung selama 15 tahun bermusik, dengan membacakan frasa apik mengiringi trek “Hal-Hal Ini Terjadi”, layaknya pendongeng yang membuat sekelilingnya menyimak secara saksama. Pun kemudian ia mengambil telepon genggam salah satu penonton untuk membacakan caption unggahan Instagram milik Teh Boit.

Bermuatan tentang segala pertaruhan di Limunas edisi sebelumnya, dan perjalanan panjang menggelar event sebagai kolektif huru-hara hura-hura selama 8 tahun terakhir. Farid Stevy tak hanya membuka penampilannya secara khidmat, namun juga menerangkan dengan jelas apa yang akhirnya membawa kelompok musik rock asal Jogjakarta tersebut berlabuh di Bandung. Sebuah peristiwa agung. Baginya, bagi Limunas, dan bagi siapa saja yang malam itu menyempatkan hadir ke acara.

Hal selanjutnya adalah senang-senang. Berturut-turut nomor berbahaya dari album Hits Kitch (2014) dan album II yang masih dalam progres, dibawakan dengan energi penuh membakar seisi ruangan tanpa api. Wah, bagaimana bisa? Hahaha naonsih. Barisan depan tak henti ikut bernyanyi menyerukan lirik, sambil melakukan stage diving, crowd surfing, moshing, dan apa pun yang mereka inginkan. Seisi Auditorium IFI merayakan hari itu dengan caranya masing-masing.

Total empat mikrofon diarahkan menghadap penonton. FSTVLST memainkan “Mati Muda”. Farid Stevy keluar dari sarangnya, melempar tubuh menuju crowd. Jaket kulit, topi, kaus sleeveless Serigala Malam, ia tanggalkan dengan hanya bertelanjang dada plus kaca mata berwarna merah. Malam itu ditutup dengan lagu ‘Menantang Rasi Bintang’ yang disetel, seraya penonton merangsek menginvasi panggung, memeluk para personil, dan diakhiri crowd surfing Farid Stevy yang diangkat mengelilingi venue. Epik. Semoga ini menjadi awal bagi panggung FSTVLST di Bandung.

Selagi menunggu jeda, ada pemutaran perdana video klip “Roda-Roda Gila” milik The Flowers. Melalui pengeras suara, dua pemandu acara juga mengingatkan penonton untuk tetap di tempat. Sayang, itu malam Senin. Tagar #BesokSenin memenangkan perdebatan di dalam kepala beberapa orang, sekalipun kelompok musik rock n roll senior asal Jakarta ini baru kembali manggung di Bandung setelah 9 tahun lamanya.

Meskipun begitu, venue tetap dipenuhi penonton, baik muda-mudi maupun yang berusia dewasa. Zaid ‘Njet’ Barmansyah dan kawan-kawan memainkan nomor andalan seperti “Tolong Bu Dokter”, “Bayangan”, dan “Rajawali”. Skill gitar Boris, siulan saxophone dari Eugen, betotan bass Vian, serta hentakan drum dari Dado membikin siapa saja bergerak. Meskipun berbeda generasi, rasanya musik yang mereka mainkan masihlah relevan dinikmati oleh kaum yang mengaku muda. Tak ada gap di antara penampil dan penonton saat Njet lupa lirik lagu. “Ulang lagi boleh ya, hehehe,” katanya. Dibalas dengan “Siaaaaap… Santaaaaaiii…” oleh penonton. Massa meledak saat Doddy Hamson, vokalis Komunal, ikut mengisi suara pada dua lagu terakhir. Pusing kepala! Teriakan ‘we want more’ sukses memaksa mereka membawakan lagu berikutnya.

Entah harus berapa kali saya katakan dalam setiap ulasan acara Limunas, mereka lagi dan lagi membuktikan bahwa pertunjukan yang baik adalah pertunjukan di mana kita benar-benar menginginkannya. Limunas dengan segala pertimbangannya untuk membawa sebuah band ke dalam set panggung, dan kita semua yang rela merogoh kocek untuk mendapatkan pengalaman menikmatinya tanpa perlu ambil pusing akan siapa saja lineup-nya, demi keberlanjutan gigs kolektif.

Saya tutup tulisan ini dengan kutipan dari Salman. “Satu bulan ini mungkin saya nggak akan cepat melupakan peristiwa helatan Rock Akhir Tahun dari Limunas XV. Tanpa bermaksud menjilat atau melebih-lebihkan, ini gigs terbaik yang pernah saya rasakan.” Sekali lagi, terima kasih Liga Musik Nasional. Eight years and still counting!