Press "Enter" to skip to content

“Limunas XIII”: Hajatan Intim yang Paripurna

Rasanya nggak semua hal harus dibuat dalam skala yang besar, misalnya polisi tidur. Hoream atuh, nanti jadi tanjakan. Hehe. Mungkin, sama halnya dengan menggelar acara musik, membuat gelaran dengan skala yang intim nyatanya tetap bisa mengundang keseruan yang paripurna. Salah satu penggagas gelaran intim yang selalu menuai apresiasi tentu saja Kolektif Limunas.

Konsistensi Liga Musik Nasional atau biasa dipanggil Limunas dalam menghadirkan gigs -dengan skala penonton yang terbatas- di Kota Bandung memang nggak perlu diragukan lagi. Oh jelas, hal itu dibuktikan dengan helatannya yang ke-13 di Sabtu (22/12) yang lalu. Menghadirkan Kelompok Penerbang Roket (JKT), Jangar (Bali), dan Brigade Of Crow (BDG) sebagai pemandu pesta, Auditorium IFI Bandung berhasil dibuat lebih bising dibanding hari biasanya. Jelas atuh ini mah, kan nuju aya acara~

Seperti yang sudah diduga, malam itu Aa-Aa dengan kaos Kelompok Penerbang Roket sudah banyak ngumpul di sekitaran IFI. Ada yang sedang sebats dulu, ada yang melipat banner “pencarter roket”, ada juga mereka yang nyebrang dari arah BEC, nggak tau deh, habis pada beli charger meureun ya? Lupa nggak ditanyain.

Malam itu, panggung Limunas XIII dibuka oleh aksi Brigade Of Crow. Menyodorkan perpaduan metal dengan punk yang ngebut, para serdadu gagak langsung kokoceakan di atas panggung Limunas XIII. Memainkan lagu-lagu dari album teranyarnya yang bertajuk Delta Blues Narkotik, kawanan serdadu gagak berhasil menjadi band pembuka yang top-markotop kalau kata Benu Buloe si host acara kuliner. Beberapa kali menyebut dirinya sebagai unit dengan Dirty Metallic Crust ‘N’ Roll Mayhem. Saya nggak tau apa artinya, tapi intinya sih, Brigade Of Crow mencoba memainkan musik yang ngebut pake banget malam itu. Oh iya, pada pake karburator RX-King apa Ninja RR nih? Sori.

Berselang lima belas menit, penontong langsung dihajar oleh Jangar. Sebagai salah satu garda anyar dari Bali, unit kuartet heavy-rock yang digawangi Gusten Keniten (Vokal), Pasek Darmawaysya (Drum), Dewa Adi (Gitar), dan Rai Biomantara (Bass) ini tampil tanpa ragu tampil di hadapan penonton Limunas XIII. Membawakan nomor-nomor seperti Titan, Ruptural, H.S.S, hingga Gestok, Jangar juga berusaha membuat penampilan apiknya terasa lebih mencekam dengan meminta hanya disorot lampu berwarna merah. Hm, untung cuma warna merah, coba kalau minta warna hijau botol caplang, wah, ribet boss~

Penampilan Brigade Of Crow dan Jangar nyatanya membuat tensi penonton juga semakin memanas, meski belum banyak yang moshing, tapi penonton terlihat sudah mulai menikmati pesta. Boleh juga sih, apresiatif.

Sampai di sini, mungkin bisa dianggap kalau Limunas XIII terasa begitu menyenangkan. Tentu, tensi penonton semakin memuncak saat Kelompok Penerbang Roket mulai memainkan intro. Sedikit disayangkan memang, di lagu keempat gitar milik Rey Marshall sempat mati karena panangan penonton yang kopepang. Punteun atuh, tong sagala dicabak. Meskipun tidak se-liar penonton di helatan Limunas IX atau Limunas X; yang bahkan melakukan steal the mic dan menginvasi panggung, insiden “kokorobet” properti penampil mungkin baru terjadi di helatan kali ini. Betul, tidak sengaja memang, tapi cukup disayangkan. Untungnya aksi improvisasi instrumental dari Coki dan Viki bisa sedikit mengelabui penonton dari insiden tersebut. Jam terbang, tidak panik~

Membawakan setlist dari perpaduan album Teriakan Bocah dan Galaksi Palapa, di luar insiden gitar mati sih, aksi Kelompok Penerbang Roket memang sangat paripurna, terlebih memberikan dua encore yang klimaks. Termasuk ke dalam band yang memiliki kualitas oke antara hasil rekaman dan aksi panggungnya, penampilan KPR malam itu di Limunas XIII kembali membuat standar baru untuk para juru pesta di helatan-helatan selanjutnya.

Segitu aja kali ya? Pokoknya helatan yang digagas oleh Limunas selalu berhasil dikemas dengan apik. Moshpit yang aman, ajang reuni bersama kawan, semua tersaji di Limunas. Semoga di helatan selanjutnya bisa terus konsisten memberikan komposisi-komposisi penampil yang nggak kalah menarik. Banyakin band Bandung (lagi) bisa meureun ya? Hehehe.

Foto oleh: Fadli Mulyadi

Comments are closed.