Press "Enter" to skip to content

Laporan Spesial Dari Jepang: “L’arc Casino 2015”

Hai hai! Kali ini, saya berkesempatan untuk menulis laporan spesial dari Jepang. Mungkin laporannya sudah telat sekitar satu minggu, tapi nggak apa-apa, lah, daripada nggak sama sekali. Jadi, saya secara kebetulan berkesempatan untuk menghadiri konser istimewa dari grup band Jepang legendaris L’arc en Ciel (yang selanjutnya akan saya sebut dengan Laruku), mereka mengadakan konser di Osaka – kampung halaman mereka, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir –. Konser ini diadakan pada tanggal 21 dan 22 September 2015. Saya sendiri berkesempatan untuk hadir di konser yang tanggal 22 September 2015.

Bisi disangka hoax.
Bisi disangka hoax.

Konser ini sangat istimewa. Pertama, ini adalah konser Laruku di Osaka setelah sekian lama dan kedua, ini adalah konser yang pertama kalinya diadakan di Yumeshima. Apa itu Yumeshima? Itu adalah nama pulau buatan manusia yang berada di daerah Konohana, Osaka. Jepang adalah negara yang memiliki ruang sempit, tentunya melebarkan tanah. Dengan segala kontroversi tentang reklamasi, hal tersebut adalah salah satu solusi mereka mengatasi keterbatasan ruang tersebut. Sebenarnya teknik ini sudah dilakukan untuk Kansai International Airport yang juga berada di Osaka. Yumeshima dalam Bahasa Jepang berarti pulau impian, maka jelas pulau ini adalah pulau yang diimpi-impikan oleh orang Jepang.

Hal lain yang membuat konser ini istimewa adalah temanya, L’arc Casino. Atau Casino Laruku. Kurang lebih begitu maknanya. Mengapa Casino? Karena rencananya, di Yumeshima ini akan diadakan kasino besar pada tahun 2020 nanti. Ya, sambil menyambut Olimpiade Tokyo 2020. Memang hebat, ya, mereka melakukan pembangunan yang berkesinambungan dengan proyek-proyek lain yang ada di negaranya, sehingga segalanya berjalan selaras, dan saling menopang. Okay, cukup tentang trivia-nya, sekarang mari kita bahas konsernya.

Venue-nya sendiri sangat sederhana. Ketika masuk, kita akan dihadapkan dengan berbagai macam stand makanan, minuman, suvenir, yang bertemakan L’arc Casino. Yang unik, salah satu jaringan convenience store terbesar di Jepang, Lawson, mengubah namanya menjadi L’awson, mengikut cara Laruku menulis namanya. Cuaca hari itu cukup panas, sehingga banyak orang mengantri membeli makanan dan minuman khas musim panas Jepang.

Setelah dihadapkan pada stand itu, kita langsung bisa masuk ke area konser yang juga sederhana. Kursi-kursi lipat tersusun rapih, dengan nomor-nomor yang sudah ditentukan. Oh, iya, untuk urusan tiket, hanya ada 1 macam tiket di konser ini, seharga 11,000 yen, dan untuk nomor kursi dan lainnya, itu ditentukan oleh keberuntungan saja. Gate dibuka jam 12 siang, saya memutuskan untuk langsung masuk dan duduk-duduk di tenda yang disediakan panitia. Saya kira akan sulit masuk gate-nya setelah lewat jam open gate, tapi ternyata saya salah. Sama sekali nggak ada security checking yang biasanya bikin macet di gate masuk. Oleh karena itu, semua bisa langsung masuk ke area konser.

Batu-batu berserakan di venue konser.
Batu-batu berserakan di venue konser.

Di area konser sendiri banyak batu berserakan, karena tanah buatan ini teksturnya agak mirip seperti pantai yang nggak berpasir. Selain itu, di daerah suvenir, mereka menjual pisau Swiss Army karya Tetsu (pemain bass Laruku). Kreatif. Botol minumpun bisa bebas masuk ke area konser. Luar biasa bukan? Mengingat sama sekali nggak ada security checking. Yak. Inilah Jepang. Negara di mana kamu bisa merasa aman di manapun kamu berada.

Sekitar jam setengah 5 sore waktu Jepang, kegaduhan pun dimulai. Diawali dengan video animasi yang memperkenalkan para anggota band Laruku, mereka lalu datang diusung menggunakan mobil American Muscle dengan kap terbuka. Mereka datang dengan berdandan ala-ala orang yang datang ke Casino, necis dan terlihat banyak duit. Mereka pun membagi-bagikan uang palsu yang bergambarkan Tetsu, Ken, Hyde, dan Yuki.

Tanpa banyak bicara, mereka langsung menggoyang penonton dengan lagu-lagu lawas. Diawali dengan SEVENTH HEAVEN, Driver’s High, lalu Pretty Girl. Setelah itu, Hyde menyatakan bagaimana kangennya dia dengan Osaka. Sambutan yang hangat dari seorang Hyde. Lalu konser dilanjut dengan Blurry Eyes dan Flower. Setelah dua lagu itu, konser rehat sejenak.

Dekorasi panggung yang keren.
Dekorasi panggung yang keren.

Saya bingung, mereka mau apa? Ternyata… MEREKA PINDAH STAGE!!. Ini luar biasa, seumur-umur menonton konser, baru sekarang saya melihat ada band yang pindah stage di tengah-tengah konser. Mereka pindah ke panggung lain yang ada diujung stage utama. Mungkin maksudnya agar semua penonton bisa menikmati mereka dari berbagai sisi. Pyrotechnic di sisi lain dari stage ini sangat keren. Setelah memainkan and She Said, Route 666, HEAVEN’S DRIVE, Wind of Gold, It’s The End dan MY HEART DRAWS A DREAM, mereka pun kembali ke stage utama. Di tengah-tengah lagu-lagu tadi, diselipi juga interaksi yang luar biasa kocak. Hyde membawa seekor burung Kakaktua yang pandai berbicara. Burung tersebut berbicara jauh lebih banyak daripada Yuki yang memang jarang berbicara.

Balik lagi ke stage utama, mereka memulai konser kembali dengan lagu Trick, dilanjut karaoke massal di lagu Revelation, dilanjut lagi ke XXX dan TRUST. Setelah itu, mereka memperkenalkan lagu baru yang baru keduakalinya diperdengarkan ke depan umum (sebelumnya dimainkan di hari pertama); Wings Flap! Lagunya keren! Nggak aneh kayak single terbaru mereka, Evergreen. Setelah lagu baru rahasia dimainin, konser dilanjut dengan Lies and Truth, Link, HONEY, STAY AWAY, READY STEADY GO, dan Pieces. Konser ini berakhir dengan tanpa encore. Agak mengecewakan, sih, tapi, ya, mengingat konser sudah berjalan selama 3 jam, oke, lah.

Overall, konsernya sendiri asik. Setlist-nya menarik. Tapi sayang, soundset-nya sangatlah berantakan. Sound di sisi kanan dan kiri penonton saling kejar-kejaran. Belum lagi delay dari para pemain dan suara yang keluar. Sungguh mengecewakan dari band sekelas Laruku. Namun, kekecewaan itu agak tertutup dengan pesta kembang api yang ada di paruh akhir konser.

Setelah konser berakhir, penonton berduyun-duyun keluar, dan inilah bagian yang gila. Ribuan atau mungkin puluhan ribu penonton harus mengantri bus untuk kembali ke stasiun. Ini terjadi karena area konser yang memang jauh dari stasiun dan belum ada akses langsung ke stasiun kecuali dengan bus khusus. Saya mengantri sekitar 2 jam hingga akhirnya bisa naik bus sampai stasiun. Yang luar biasa, mereka mengantri dengan sangat tertib. Ada satu hal yang istimewa yang bisa saya lihat di sini, yaitu perlakuan orang Jepang terhadap orang dengan kursi roda. Mereka sampai menyediakan 1 bis khusus untuk satu orang, SATU ORANG pengguna kursi roda. Ya, jadi dalam 1 bus itu berisi 2 orang penumpang saja, orang dengan kursi roda dan pendampingnya. Tentunya merekapun diprioritaskan. Hebat !

Antrian menuju shuttle bus. 2 jam kayak gini coy!
Antrian menuju shuttle bus. 2 jam kayak gini coy!

Saya baru sadar bahwa saya telah menonton konser Laruku ketika sudah di bus dan melihat potongan tiket konser tadi. Wah, sudah mabrur saya sebagai fans Laruku! Secara objektif, saya kasih nilai 6 dari 10 untuk konser ini, karena jujur saja, sound yang merupakan bagian penting dari jiwa sebuah konser, nggak bisa ditawar-tawar kualitasnya. Namun secara subjektif, saya bisa kasih konser ini nilai 100 dari 10, karena sungguh istimewa bisa menonton Laruku yang pulang kampung.

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *