Press "Enter" to skip to content

“Lalala Festival”: Tajuk Internasional yang Musti Dipertanyakan

Emang ya, yang gratisan itu selalu enak. Hehehe. Apalagi kalau dapet tiket konser. Rejeki anak soleh mah nggak ke mana yak! Rejeki di bulan November yang menimpa aku adalah kedapetan tiket yang ngakunya, sih, The First International Forest Festival yang digelar di hari Sabtu (5/11) kemarin. Lalala Festival, yang udah jadi bahan omongan sejak bulan Agustus yang lalu, terlebih karena uniknya lokasi, line-up pengisi acara, dan harga tiket yang musti nabung dulu. Hamdalah, untung ada di ROI! jadi dapet hibah. HAHAHA.

Usaha aku untuk dateng ke venue cukup gede, lho! Aku berangkat naik mobil dari Bandung sekitar jam 12 siang dengan harapan sampai sana sekitaran jam 2, eh taunya baru sampai jam 4! Macet luar biasa dari Pasar Lembang menuju Cikole. Jalannya yang hanya satu lajur bikin kendaraan yang keluar-masuk cari parkir untuk pengunjung Lalala Festival menghambat sepanjang Jalan Raya Tangkuban Perahu. Hal ini dikarenakan kurangnya penunjuk jalan dan poster venue acara membuat pengunjung cukup bingung, walaupun sudah pernah dikasih tau via medsos bahwa kendaraan pribadi nggak boleh masuk ke daerah Hutan Pinus Cikole, tapi masih banyak aja pengunjung yang berusaha masuk ke sana untuk parkir. Heu. Akibat nggak suka membaca atau emang nggak mau repot sedikit!

Setelah bermacet dan berhujan ria aku langsung masuk ke venue. Menariknya, aku pikir udah deket setelah dari gate tiket, taunya musti jalan lagi, terlebih jalanan basah dan tanah yang sudah berubah menjadi lumpur mempersulit jalan menuju venue, untung baca tulisan #OOTD ROI! jadi nggak saltum deh~ Rupanya venue sudah cukup penuh dengan pengunjung, banyak dari mereka merupakan pemegang tiket early entry yang sudah was-was takut kena penalty 200K kalau masuk ke acara lebih dari jam 3. Kebijakan yang baru dipublikasikan beberapa jam setelah open gate tersebut malah bikin ngambek orang-orang. Yaiyalah, dengan kondisi macet begini gimana caranya sampai jam 3, apalagi aturan baru disosialisasikan hari H.

3

Dengan datang jam 4, aku pikir sudah ngelewatin banyak artis, karena di rundown sendiri semua aktivitas berjalan mulai pukul 12 siang. Namun karena hujan, rundown jadi ngaret hampir 2 jam. Venue yang cukup besar bikin pengunjung harus sedikit “olah raga” dengan naik turun undakan. Di Lalala Festival sendiri terdapat 3 panggung utama, Nature Stage, Future Stage, dan Lalala Stage. Tiga panggung ini jaraknya lumayan jauh satu sama lain, meh teu kadenge meureun nya mun aya nu manggung. Pas jam 4, MYMP lagi main di Future Stage, membawakan lagu request-an fans yang dikirimkan lewat Facebook-nya MYMP. Cukup jauh dari Future Stage, ada Lalala Stage yang mana semua penampil utama di acara ini bakalan tampil, kedengeran desas-desus katanya Isyana batal tampil.  Penonton yang udah ada di sekitar panggung pun mulai ngampar sembari milih spot untuk nonton artis besar selanjutnya; Kimokal dan Maliq & D’Essentials.

Tanah yang becek dan licin membuat banyak “bangkai” sandal jepit bergelimpangan, banyak juga orang yang lututnya udah kotor. HEHEHE. Kanyahoan tisoledad and tisereleuh nyak?! Aku juga jatoh. Kualat, padahal udah pake sepatu gunung. Beberapa pengunjung yang dandan totalitas pake flat shoes dan wegdes terlihat kesulitan, bahkan udah ada yang nyeker! Di bagian bawah venue terdapat banyak tenant makanan, pakaian, dan beberapa stand sponsor. Kerennya, nih, semua pembayaran dilakukan cashless, kayak GTO, jadi gelang tanda masuk kita itu udah dilengkapi dengan kartu yang bisa di-top-up dengan token untuk membeli macem-macem makanan dan merch official. Panggung ketiga, Nature Stage berada paling jauh di antara 2 stage lainnya. Di sini yang tampil merupakan band lokal dan band kurasi, dari lokasinya yang cukup “diasingkan” terkesan mereka hanya sebagai band pengiring untuk nemenin makan. Waduuuuh! Sok tau gini.

4

Karena capek, akhirnya aku balik lagi ke Lalala Stage buat nge-cup tempat biar bisa nonton artis yang aku tunggu-tunggu, nih, Keith Ape. Akhirnya dapet spot ena’ di deket FOH. Walaupun agak jauh dari stage, tapi ya, lumayan bisa numpang duduk. Pukul setengah 6, Kimokal mulai memainkan lagu mereka yang punya mystical vibe, dan saat di panggung Kallula bilang dia cukup bete karena rundown super ngaret, tapi ia minta pengunjung untuk tetep semangat nungguin penampil lainnya. Jeda cukup lama terasa waktu pergantian penampil di panggung, kurang lebih 30 menit. Untungnya, penampilan Jasmine Thompson dan Maliq & D’Essentials yang tampil setelah Kimokal bikin suasana di Cikole jadi lebih hangat dan membara. Edaaan. Naon atuh? Meskipun banyak yang mikir kalau Maliq & D’Essentials batal tampil karena di-skip. Kekopongan jeda antara artis satu dan lainnya membuat suasana jadi super garing. Keputusan pihak Lalala untuk nggak memakai MC nggak diantisipasi dengan memakai voice over, seenggaknya untuk memberi tau informasi, perubahan rundown, dan lainnya. Di sini pengunjung benar-benar diawurkeun untuk menikmati acara tanpa ada arahan apa-apa dari panitia.

Seusai Maliq, pengunjung kembali diminta untuk menerka-nerka penampil selanjutnya karena nggak ada sama sekali informasi yang diberikan. Massa mulai berkumpul, bau-baunya, sih, Kodaline bakalan main. Area Lalala Stage jadi super padat begitu One Day dimainkan. Kodaline yang menjadi headline utama dari Lalala Festival ini sukses membuat banyak pengunjung histeris. Kurang lebih mereka membawakan 10 lagu termasuk 2 lagu encore. Seluruh lagu terfavorit di Indonesia dinyanyiin. Aku bisa bilang momen ini kerasa kayak konser tunggalnya Kodaline, bahkan mereka sempat melakukan encore dengan All I Want yang sempat diteriaki berulang kali oleh pengunjung saat Kodaline meninggalkan panggung. Kalau aku fans besarnya Kodaline, aku bakalan sangat puas dan senang melihat mereka pertama kali banget di Indonesia terlebih vibe Cikole yang sangat mendukung ambience Kodaline.

5

Pengunjung mulai bubar, hampir setengahnya! Padahal ada voice over yang meminta untuk pengunjung buat nggak pulang dulu, tapi suara tersebut nggak memberi informasi kalau Bag Riders sudah di panggung dan semua baru mulai berkumpul saat Bag Riders membawakan lagu pamungkasnya, Shooting Stars. Setelahnya, Keith Ape akhirnya naik ke panggung pukul setengah 2 malam, Underwater Squad harus menunggu sekitar 5 jam dari jadwal rapper asal Korea ini tampil. Sayangnya, nggak seperti Kodaline, Keith Ape hanya membawakan 4 lagu termasuk It G Ma dan Diamond, entah karena terlalu lama menunggu atau masalah kesehatan. Saking ngawangnya sampai salah greeting, “Thank you Singapore!”. Kumaha, sih, Aa teh huhu. Lalala Festival ditutup dengan mystery guest, Discovery tribute to Daft Punk. Mereka membawakan remix lagu Daft Punk yang dikemas lebih idealis. Beberapa pengunjung pun ada yang kecewa karena mengharapkan Daft Punk yang hadir.

Secara keseluruhan memang terlihat ada gap besar dan miskomunikasi antar panitia, kerancuan rundown acara, sign, tempat penukaran cashless system, dan ditambah lagi kondisi tanah sehabis hujan yang bikin bete semua orang karena nggak bisa pamer Yeezy. Hal ini membuat para pengunjung marah-marah di komen Instagram-nya Lalala, merasa uang yang mereka keluarkan itu nggak worth it. Di sisi lain nggak bisa dipungkiri bahwa line-up Lalala Festival sendirilah yang menjadi daya tarik masyarakat, sound system dan lighting luar biasa di ketiga panggung juga patut diacungi jempol. Sayangnya pihak penyelenggara hanya berfokus pada apa yang terjadi di panggung. Keselamatan, kenyamanan, dan keamanan pengunjung seolah diabaikan. Bahkan yang memesan tent package heboh meminta uang mereka kembali karena spesifikasi tenda nggak sesuai dengan yang dipromosikan.

2

Sebenarnya perlu dipertanyakan kembali penempatan kata “International” dan “Forest” di jargon Lalala Festival. Pasalnya standar operasi masih sangat jauh dari festival internasional, mulai dari akses masuk dengan sistem shuttle yang papuket, di dalam venue dan ketika pulang kembali dengan shuttle yang papuket juga. Acara yang selesai pukul 3 subuh ini membuat macet Lembang dan membuat beberapa warga sekitar geram, dan nggak ada sama sekali awareness branding tentang kehutanan yang diberikan. Kesannya malah cuma gara-gara pengisi acara yang beberapa dari luar negeri dan lokasi di hutan pinus aja jadi jargon. Aku juga sempat bertanya ke beberapa panitia yang mengakui kurangnya koordinasi antara atasan dan volunteer yang menyebabkan banyak volunteer blah-bloh dan lempar sana-sini ketika ditanya oleh pengunjung. Halah yasudahlah, mari kita belajar banyak kalau force majeur jangan dijadiin alasan untuk mengelak, pengunjung juga jangan terlalu lebay dan menyalahkan penyelenggara. Yaudah makan cuanki aja ah, mumpung musim ujan. Anget.

 

Foto: Haruka Fauzia

Comments are closed.