Press "Enter" to skip to content

Kota Kreatif juga Bisa Kekurangan Ruang Alternatif

Kalau kamu hendak olahraga dan beli sarapan ke CFD Dago, coba sambangi monumen “.bdg” di sekitar Jalan Cikapayang. Betul, di situ juga ada monumen kecil dengan tempelan jargon emerging creative city. Sebuah jargon yang penuh kepercayaan diri sekaligus tantangan buat Kota Bandung, tentunya. Menurut data dari KemDikBud, per tahun 2015, Kota Bandung termasuk ke dalam salah satu kota dalam jaringan kota kreatif versi UNESCO. Tapi, sudah sampai mana kemajuannya? Apakah dengan menjamurnya mobil toko di Jalan Diponegoro sudah cukup dibilang kreatif? Hehehe.

Sebagai kota yang memiliki sejarah perkembangan scene industri kreatif, kemudahan akses dan ketersediaan teknologi, serta menumpuknya talenta berbakat, Kota Bandung masih memiliki keterbatasan dalam tersedianya ruang alternatif yang menjadi inkubator bagi komunitas untuk bereksperimen. Kalau taman, tempat kopi, dan titik banjir, sih, sudah lumayan banyak. Nuhun.

Pemerintah Kota bukannya nggak berupaya menyediakan ruang alternatif. Sebuah ruang kreatif yang megah di Jalan Laswi berhasil dibangun dengan pembukaan yang cukup menjanjikan. Seolah menjadi angin segar, setelah dua tahun berdiri, ruang kreatif bikinan PemKot itu kini malah mati suri. Alih-alih menjadi ruang yang ramai dan menjadi salah satu oase bagi komunitas yang ada di Kota Bandung, kabar miris malah tercium dari ruang plat merah tersebut. Terlepas dari kebenaran isu yang beredar, bangunan tersebut memang sepi pengunjung. Sok, coba kamu mampir, lalu bandingkan jumlah pengunjungnya dengan tonjolan warna-warni di bagian luar gedung. Mari berhitung, kawan.

Pembangunan kota yang masif nyatanya nggak diikuti dengan terciptanya ruang alternatif yang ideal bagi individu dan komunitas di Bandung untuk terus berkreasi; membuat sebuah pagelaran, menjadi ruang diskusi, atau sekadar jadi tempat foto-foto buat memperelok feeds instagram. Ketersediaan ruang alternatif ini sebetulnya masih cukup rancu, apakah harus berbentuk ruangan tertutup atau bisa saja memanfaatkan ruang terbuka milik plat merah? Ya, meskipun, kebanyakan ruang milik plat merah di Bandung masih dirasa belum representatif secara fungsi dan kebijakannya meureun ya?

Hadirnya kolaborasi antara kafe dengan komunitas atau ruang milik privat dengan sebuah kolektif, rasanya bisa menjadi salah satu cara untuk menyiasati minimnya jumlah ruang alternatif. Meskipun, risikonya adalah pergerakan komunitas pasti sangat terbatas. Alah, kumaha atuh? Apakah kita harus udunan untuk punya sebuah ruang yang jadi milik bersama? Sebelum udunan, mungkin bisa juga kita tanya ke kawan-kawan pendukung Persib di Bandung yang sanggup memiliki kantor distrik. Sungguh guyub dan bisaan.

Sayang beribu sayang, di tengah minimnya lapakan buat nge-gigs atau pameran, Spasial sebagai salah satu ruang alternatif yang sehat, harus tutup usia per bulan Mei tahun ini. Tentu sebuah kehilangan yang cukup berdampak. Setelah menjadi “rumah” untuk hampir 300-an acara, akhirnya Spasial harus tutup usia. Sebelumnya, Lucky Line Skatepark -yang di awal kehadirannya menarik perhatian banyak penikmat skateboard– juga terpaksa harus berhenti beroperasi karena satu dan lain hal. Meskipun keduanya berujar kalau mereka nggak benar-benar pergi, tapi, harus sampai kapan kita menunggu mereka hadir kembali? Apakah harus selalu menunggu uluran tangan plat merah? Kan, kita kota kreatif, hayu atuh, mainkan~

Kalau begitu, mari sejenak kita percayai ungkapan “mati satu, tumbuh seribu”, di mana setelah Spasial atau Lucky Line Skatepark berhenti, ruang-ruang lain yang baru pasti akan muncul dan tumbuh. Kalem, optimis we heula. Sambil sama-sama mengelaborasikan ide dan harapan akan hadirnya ruang alternatif yang ideal, sementara mah kita dukung dan bikin rame ruang alternatif swadaya yang masih tersedia semacam Los CihapitLou Belle, Rumah Kultur107 Garage Room, Ruang Putih, atau Warung Kopi di Babakan Siliwangi. Biar yang tersisa bisa terus hidup. Tapi, jangan lupa, siapkan uang parkir dua ribu rupiah.


Foto: dok. ROI!

Comments are closed.