Press "Enter" to skip to content

Konser Tunggal Anti Diam dari The PAPS

Yang saya tau, sebenernya berita perihal acara “spesial” ini nggak terlalu digembar-gembor ke sana, ke mari, tapi karena saya follow akun Instagram-nya mas-mas The PAPS ini, akhirnya dengan cepat saya langsung tau kalau mereka bakal ngadain konser tunggal. Sebagey fans mereka di beberapa tahun terakhir, saya nggak mungkin ngelewatin momen yang mungkin dalam waktu yang agak lama bakal diadakan lagi. Membatalkan seluruh jadwal, mulai dari main PS jeung barudak komplek, gapleh di kosan temen kampus, dan mencari calon… legislatif. Kade.

Sabtu (10/12), jam 9 malam pas, saya dateng ke IFI Bandung. Seperti biasa, kalau ada event, rezeki tukang parkir IFI Bandung emang nggak usah diragukan lagi. Dihadapkan dengan sebagian teman-teman berambut gimbal yang memakai baju tipis khas rastafara. Ya, lumayan ngasih petunjuk kalau ini emang konser The PAPS yang dimaksud. Nuhun nya, a. Setengah 10 malam, konser pun dimulai.

Empat punggawa yang sambil senyam-senyum itu pun naik ke atas panggung. Kali ini Palestine dari album ke-2 pun didaulat jadi pembuka malam itu. Belum terlalu banyak reaksi dari penonton, yang keliatan hanya barisan tengah saja yang sudah mulai melenggok melemaskan badannya. Stretching seraya lentur untuk dancingdancing indehoy. Sampai akhirnya Dave naik ke atas panggung sambil menggaet Fana dari album pertama, diikuti Turn Me On dan Have Fun Around secara medley. Semua penonton mulai berteriak, sebagian naik ke panggung buat melancarkan serangan dive ke penonton lainnya. Mulai rame yeuh. “Makasih banyak buat IFI dan temen-temen yang udah hadir. Tenang aja lu semua, kira-kira semua lagu The PAPS dah malem ini kita bawain,” kata Dave di sela lagu.

Dibuai jadi nomor selanjutnya yang bikin penonton makin kegirangan. Rasanya nggak ada tempat untuk cuma diam, menyaksikan atau sekadar melipat tangan. Nggak ada lagi gengsi yang nahan buat joget-joget asik. Life Is Big Joke, Dingin, Keep Walking digeber tanpa ampun di setlist selanjutnya. Malem itu energi Dave dan kawan-kawan emang kayak nggak ada habisnya. Bisa dibilang sedikit saja dari waktu mereka buat ambil napas di jeda-jeda lagunya. Selebihnya, garelo lah. Beberapa kali juga saya liat air minum yang tumpah di panggung. Entah kesenggol atau gimana. Maceuh.

Lagu kenamaan nomer selanjutnya bisa dibilang adalah lagu yang jadi kebangsaan para penggemarnya. Sementara, membius seluruh penonton yang hadir. Alhasil karaoke massal pun melakoni malam itu. Uluuuh, pang syahduna sadunia. Dilanjut dengan Excuse Me yang menyisakan feedback delay yang sangaaat panjang, sambil menunggu kejutan selanjutnya dipersiapkan. Garandeng yang menyayat hati teh nu kieu tah. Heu. Dimasukannya contrabass dan gitar akustik untuk mengiringi track dari album ke-2, Dipantai.

Dilanjut dengan Serangan Optik yang kembali memanaskan suasana, sebelum akhirnya pecah dengan track kenamaan, Perlahan Tenang. Semua yang di ruangan itu rasanya nggak mau kelewat sama track yang satu ini. Kojo bos, tiati. Ada yang bikin aerobik serentak. Ada yang cuma kumpulan, 5 orang atau kurang. Ada juga yang jogetnya individu, biasanya cuma lutut yang gerak. Ke atas, ke bawah sesuai irama. Yang tipe ini salah satunya saya. Semua senang, semua ngesang.

Jeda yang lumayan ini saya pakai buat ke toilet, karena nggak kuat sebenernya dari waktu dateng. Cuma udah di-dugdag karena denger intro, jadi saya tahan, dan waktu masuk lagi ternyata lumayan ngantre. Jadi saya duduk-duduk dulu, sambil liat sampai antreannya kosong. Waktu masuk, disambut sama salah satu lagu favorit di album pertama, Hang Loose Baby. Nggak kuat, langsung aja joget lagi, walaupun barisan nggak se-depan yang awal tadi. Lalu dilanjut dengan When We Meet yang masih dari album pertama.

Dilanjut dengan track nomer 9 di album ke-2, Hari Yang Panjang. “Apa yang kita tulis, itu yang pasti kalian alami. Nilainya historical, jangan sembarangan lu sama lagu kita!” kata Dave tentang lagu itu. Mereka pun memberi isyarat kalau ini sebagai lagu terakhir mereka, dan berpamitan sambil berterima kasih kepada yang dateng dan support mereka sejauh ini. Lalu lagu terakhir mereka, Lebih Dari pun dihajar sampai habis. Sampai puas. Sampai suara berat, dan sampai di penghujung. Huaah. Sempat ada teriakan khas encore waktu itu, berharap mereka bisa kembali. Namun apadaya, tangan tak sampai. Cie elah. What a good time. Jempol untuk The PAPS! Gilz!

 

Foto: Alfi Prakoso

Comments are closed.