Press "Enter" to skip to content

Konser Kembali Ke Akar: Melestarikan Alat Musik Tradisional Indonesia

Bandung kedatangan tamu spesial dari Jakarta! Bukan, bukan busway yang datang ke sini. KunoKini, grup perkusi eksperimental asal Jakarta, menggelar konser bertajuk Kembali Ke Akar bersama band asal Jakarta lainnya, Matajiwa dan Parisude. Konser ini digelar pada hari Minggu (22/6), bertempat di Maja House Bandung, yang diselenggarakan oleh Kereta Senja Management bekerja sama dengan Maja House.

Gelaran konser Kembali Ke Akar ini adalah yang ketiga, setelah pada tahun 2013 juga digelar di Jakarta dan Jogjakarta. Konser ini bertujuan untuk lebih mengenalkan kepada kamu-kamu tentang bebunyian khas Indonesia serta alat musik tradisional yang kini mulai ditinggalkan dan terlupakan. Selain penampilan musik yang dimulai dari jam 7 malam, siang harinya dilaksanakan Kelas Musik, sebuah diskusi mengenai alat musik tradisional Indonesia, dengan mengundang komunitas penggiat aktif kesenian tradisional Indonesia yang ada di Bandung.

Penampilan dari Parisude.
Penampilan dari Parisude.

Parisude kebagian tampil lebih dulu. Unit etnik elektronika yang dimotori Amanda Chitarra (singer) dan Mirza Yudhistra (composer) ini nggak terlalu asing buat penikmat musik di Bandung, karena mereka sempat berkolaborasi dengan band postrock A.F.F.E.N (sekarang bernama TROU, RED) yang juga masuk ke dalam album Trikaya Parisude. Parisude berhasil menghipnotis penonton lewat lagu-lagu di album tersebut, antara lain Banyu dan Dibawah Langit Yang Sama. Duh, kurang hidangan prasmanannya nih.

Matajiwa (kiri), dan kolaborasinya bareng Amanda Chittara (kanan).
Matajiwa (kiri), dan kolaborasinya bareng Amanda Chitarra (kanan).

Kemudian Matajiwa membuat segerombolan penonton duduk rapi menikmati musik etno-psychedelia-rock, yang lebih senang mereka bilang musik rock. Adalah Anda Perdana (vokal, gitar) dan Reza Achman (drum perkusi), dengan sentilan-sentilan terhadap bangsa Indonesia serta sisi kemanusiaan, yang terselip dalam tiap bait dalam liriknya.

Kekaguman semakin menjadi ketika Semesta, Sisi-sisi dan 1 dibawakan dengan apik. Penampilan malam itu ditutup dengan kolaborasi bareng Amanda, vokalis Parisude, membawakan lagu The Journey Continues, yang masuk ke album CD II mereka berjudul “1″. Sehari sebelumnya mereka baru merilis album CD II di 365 Ecobar, Jakarta. Enak, sering-sering aja manggung di Bandung, mas-mas ganteng.

Goyang bareng KunoKini.
Goyang bareng KunoKini.

Kejaiman penonton mulai dileburkan oleh penampil yang ditungguin, KunoKini! Ya, tanpa malu-malu penonton mulai joget-joget asik merespon musik Indo Beat Ethnic Experimental. Kunokini adalah sebuah grup musik, yang pada karya serta penampilannya menggunakan bermacam alat musik pukul dan tiup asli Indonesia, dan pada konser ini mereka memainkan alat musik Taganing (Batak), Tifa (Irian) dan Beduk Pandeglang.

Lagu-lagu di album pertama mereka, Reinkarnasi, antara lain Lagu Jawa, 350 Years, Rasa Sayange dan Indo Baru, dibawain dengan aransemen menarik. Selain lagu di album tersebut, mereka juga bawain lagu Combat, Beautiful Energy dan Maritim, yang merupakan sneak peek album kedua. Jadi penasaran, soalnya sneak peek aja udah enakeun.

Penonton pada puas.
Penonton pada puas.

Penonton puas, dan bajunya dibasahi keringat. Tapi jangan cuma puas, pesan-pesan yang disampaikan di konser ini juga harus diterapkan atuh, yaitu melestarikan alat musik tradisional Indonesia. Gerakan itu musti dimulai dari kamu-kamu wahai pemuda, sebelum (lagi-lagi) diklaim negara lain. Mari mulai bergerak!

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *