Press "Enter" to skip to content

Keuken 10: Sebuah “Kolebs” antara Rasa dan Karya di Atap Terbuka

Festival Kuliner Tahunan bertajuk Keuken akhirnya berhasil digelar di Minggu (4/8) yang lalu. Sebagai festival makanan yang menjadi salah satu ikon Kota Bandung, Keuken 10 yang dihelat di Rooftop Parking Bandung Trade Mall lagi-lagi berhasil membawa nuansa lain untuk menikmati panganan dengan pemilihan tempat yang nggak umum. Mantep atuh, barudak eksplor.

Mengusung semangat Craft in Taste atau “berkolaborasi melalui perpaduan rasa dan karya”, selain menghadirkan beragam tenant panganan yang biasa kita temui di beberapa edisi sebelumnya, Keuken 10 juga menggandeng sejumlah kolaborator untuk memperkenalkan inovasi-inovasinya dalam dunia kuliner dan kerajinan. Memangnya hanya yucuber saja yang bisa kolebs? Pokoknya mah yang saya bayangkan saat itu, kalau mampir ke Keuken 10 pasti bakal wareg sekaligus bisa bawa pulang ide baru buat pelajaran KTK di sekolah. Hm, ngora~

Perayaan edisi ke-10 ini cukup berhasil menarik sobat foodies buat mantengin aksi kolaborator di Kitchen Stage, open house kerajinan oleh Bukatana Makerspace, sektor area mumusikan, dan tenant-tenant kuliner yang jadi jagoan Keuken. Ya, meski nggak sampai padukdek, karena hari itu bertepatan dengan jadwal Persib Bandung main. Pasti stadion anu langkung pinuh, punteun. Gelaran kali ini bisa dibilang terlihat cukup penuh, mungkin karena venue-nya yang jauh lebih kecil dari dua helatan sebelumnya. Pengunjung yang datang keluar-masuk juga membuat lokasi selalu terlihat ramai.

Seperti pada helatan HTH Experience yang lain, yang juga mengusung #GoodFestival, Keuken kali ini juga mengajak pengunjungnya untuk tetap berperilaku yang good juga. Misal, berbicara dengan Bahasa Sunda lemes. Hehehe, teu ketang. Banyak propaganda soal management sampah, penggunaan angkutan umum untuk menuju venue, food packaging, dan kebijakan untuk pengaturan lokasi merokok. Meskipun beberapa upayanya masih belum maksimal selama kegiatan, tapi yang namanya edukasi peduli lingkungan mah harus selalu atuh ya. Minimal dengan dateng ke #GoodFestival teh bisa bikin kita jadi mawas diri. Wareg, puguh. Sadar, juga.

Menurut saya mah pemilihan lokasi rooftop ini nggak begitu mengejutkan, ya, meskipun Keuken bukan acara yang perlu membuat pengunjungnya terkejut oge sih nyak? Anda pikir ini Istana Boneka? Eh, itu juga nggak mengejutkan, sih. Kulinernya udah hauce, campaign berkolaborasi dan berkerajinannya dapet, cuma masih saja ada pengunjung yang mengeluh “mejanya jorok” karena cukup banyak food container yang kerap ditinggal di meja. Heran, boss. Batur mah sudah sampai ke tahap eksplorasi metode pengelolaan sampah, kita mah kitu weh miceun runtah sorangan wae hese! Maaf, jadi ngadat, hehehe.

Pemadaman listrik yang bergulir cukup lama di hari itu membuat keinginan untuk berkuliner sambil lihat Bandung dalam 360 derajat tentu saja sirna, namanya juga urgensi nasional. Meskipun nggak begitu jadi masalah, segala keseruan di Keuken 10 masih terasa kok dengan hadirnya konsep yang segar dan kuliner yang ena’-ena’, apalagi Keuken masih saja nggak lelah untuk selalu menyelipkan propaganda cinta lingkungan yang bikin acara ini nggak sekadar kaya estetika, tapi juga punya esensi. Hahaha. Serius banget, boss! Pokoknya mah, sampai ketemu lagi di Keuken selanjutnya. Reclaim the street, eat!


Website: keukenbdg.com

Instagram: instagram.com/keukenbdg

Foto: dok. Keuken

Comments are closed.