Press "Enter" to skip to content

“Kemah Manja” di Summer and Rain Music Camping Festival 2015

Tibalah pula pada gelaran acara musik yang banyak dinantikan hampir seluruh anak muda Bandung dan sekitarnya. Yap, Summer and Rain Music Camping Festival 2015 telah sukses digelar pada 21-22 Maret 2015 kemaren di Rahong Camping Ground, Pangalengan. Pengunduran acara dari tahun kemaren pun akhirnya berbuah hasil. Gigs ini sukses membuat perhatian dan ketertarikan anak hipster dan anak gaul Bandung dan sekitarnya untuk datang ke acara ini. Nggak hanya dari dalam kota, banyak pula penonton dari luar kota yang rela mengorbankan uang, tenaga, dan waktunya untuk datang ke acara ini. Cieee..

Mengusung tema di tengah alam terbuka, Yamasurih sebagai brand baru yang merupakan pelopor dari terbentuknya acara ini memang sukses membawa suasana gigs yang berbeda. Mulai dari konsep acara camping manja dengan mendengarkan lelaguan dari berbagai band folk, postrock, dan shoegaze di tengah alam yang asri, sungguh nggak terbayangkan syahdunya. Yamasurih mewujudkan itu! Hebat yah!

SAR-PW2

Meskipun keadaan alam yang kurang bersahabat, antara panas dan hujan yang pas sesuai tema acara, nggak meyurutkan antusias penonton yang hadir. Berbekal stelan anak gunung sejati, keinginan untuk mendengarkan musik indie, dengan mental pecinta alam, penonton pun berbondong-bondong memadati arena camping ground. Little Lute mengawali di bukanya acara dengan permainan musik ukulele dan senandung ringan dari Dea sang vokalis. Ucapan selamat datang pun seakan tersirat dari pertunjukan musik mereka. Selanjutnya ada penampilan dari Akarsana dan Suara, Pemandangan, dan Space and Missile pada siang ke sore hari.

SAR-PW1

Menuju malam, Serayu Jingga, Anjing Balada yang banyak menyanyikan lagu nostalgia, dan The Fox and The Thiefes dengan alunan musik distorsi yang renyah sukses membuka malam dengan semangat membara untuk menunggu perfoma band lainnya. Ada pula Teman Sebangku, Rusa Militan, Fluxeminimix dengan musik post rock yang menyayat hati, Nada Fiksi, Ansaphone, dan terakhir Tiga Pagi sebagai penutup pada malam itu. Musik khas Indonesia dibawakan Tiga Pagi untuk menemani tidur malam para penonton.

Nggak hanya gigs saja, ada pula kegiatan workshop (kniting & coffee brewing workshop), juga fasilitas game outdoor. Penonton yang jenuh bisa merefreshnya dengan ikutan workshop ataupun bermain di tengah alam, Seru, kan?

SAR-PW3

Di hari kedua, Teman Sebangku membuka acara dengan perfoma mereka di tengah keramaian penonton yang masih belum bernyawa, alias masih bangun tidur. Musik sederhana dari mereka membuat penonton senyum-senyum manis saking terbawa merdu lagunya. Setelah itu ada Spring Summer dengan lagu menyayat hati Temporary Feel, dan Deugalih and Folks dengan karismanya tersendiri.

Udah? Hmm…belum. Under The Big Bright Yellow Sun pun tampil setelahnya dengan perfoma yang selalu maksimal. Selanjutnya ada penampilan akustik dengan tatanan musik bercita rasa tradisional dari Parahyena, Mustache and Beard yang pastinya bikin kita makin sayang sama alam sekitar. Heu. Pertunjukan penutup dari band asal Jakarta L’Alphalpha juga melengkapi kemanjaan hari itu.

Yeaaah…semua band sudah tampil dengan berbagai variasi genre. Pengetahuan musik kita pun kaya selama dua hari hehe. Meskipun acara musik sempat terganggu dengan hujan besar dan keadaan yang kurang kondusif, tetapi acara tetap berjalan lancar sampai penonton merasa ‘kekenyangan’. Semoga ada acara musik dengan tema camping manja lagi di tahun yang akan datang. Mungkin di dalam goa, di tengah laut, atau di dataran kutub es. Pokonya, terimakasih Yamasurih, terimakasih Summer yang Rain!

 

_____________________________

foto: Aokan

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *