Press "Enter" to skip to content

Kearifan Lokal di “Pasar Gelap” Cucukrowo Mekgejin

Di penghujung tahun 2014, apakah kamu-kamu masih kurang beruntung dalam mencari nafkah? Belajarlah pada Cucukrowo Mekgejin. Minta ajarin gimana caranya dapet uang dalam waktu satu malam, bahkan dalam satu jam aja, tanpa menggadaikan STNK motormu yang knalpotnya masih rawing. Iya, media bergaya slengean ini secara mendadak menggelar Pasar Gelap, yang dijadiin clearance sale pernak-pernik Cucukrowo Mekgejin, Selasa (30/12) kemarin. Sebenernya mereka bekerja sama dengan Kongsi Dagang Muchos Libre, tapi da itu teh mereka-mereka juga.

Lho, kenapa media ngeliput media? Ya nggak apa-apa atuh meuni gengsian. Dally (@korongmentah) dan Dilla (@bagongtempur) teh selalu bikin sesuatu yang sederhana tapi menarik euy. Kesel. Pasar Gelap ini diadain di Taman Lansia, dan mengambil spot di sungai yang belum jadi. Tersembunyi pokoknya. Hanya diterangi oleh sebuah lampu batre, transaksi jual-beli pun gelap-gelapan da kurang terang.

Kondisi lapakan sebelum digondol warga.
Kondisi lapakan sebelum digondol warga.

Dimulai dari jam 7 malem, orang-orang yang dateng lumayan banyak, walaupun nggak sampai penuh kayak launching produk celana dalam pria di sebuah mall. Baru sekitar 14 menit, jualannya udah laku banyak. Sialan. Pernak-perniknya banyak, sih, ada zine edisi lama sampai yang paling baru, zine edisi The Best Of tulisan ketololan yang hakiki, postcard, sticker pack, news letter sama kaos Muchos Libre dan Baby Eat Crackers.

Beberapa orang pada ngebagel, soalnya barang incarannya udah dibeli orang lain. Ya mungkin buat mereka barangnya si Cucuk tuh penting pisan buat dikoleksi, ditambah harganya pada murah. Yang paling murah adalah kentut, lima ratus rupiah. Acaranya emang dibikin mendadak dan cuma berlangsung satu jam. Kesederhaan ini justru jadi ajang interaksi yang intim, dan jadi ajang kenalan sama orang baru. Terus katanya mau bikin acara Part 2-nya. Enakin!

Tau-tau udah jam 8 malem. Belum beres, masih ada bonus berupa pembacaan puisi hantoe dari para personil Muchos Libre. Yang bacanya mah mereka berdua, sebagey atuh vokalis hahaha. Membacakan kumpulan puisi karya Taufiq Ismail, Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, mereka membawakannya bergiliran. Pas Bagongtempur baca, Korongmentah nyenterin pakai hp, begitu juga sebaliknya. Romantis.

Adegan romantis, Dally nyenterin Dilla.
Adegan romantis, Dally nyenterin Dilla.

Yang paling epik mah pas Bagongtempur bacain daftar isi dijadiin puisi. Luar biasa. Panjang weh siah. Disambut tepuk tangan hadirin yang masih kuat sampai akhir di sana. Setelahnya masih ada kuis, dan dadakan juga. “Tebak lagu, ya,” kata Korongmentah dengan manisnya. Hahahahaha satanik. Walaupun jawabannya salah, tetep dapet hadiah berupa jualan mereka sendiri.

Acara yang mengajarkan saya banyak hal tentang kearifan lokal. Mulai dari minimnya penerangan biar kayak jamannya si papah masih SD, keintiman sesama kolektor, serta acara yang nggak mesti pakai izin segala lah. Sekarang mah birokrasi perizinan event susah, mereka bikin gampang, dan bisa ternyata. Dan mereka nggak peduli yang datengnya sedikitan, yang penting jualannya laku dan mereka jadi kaya. Yaudah, selamat kaya raya, Cucukrowo Mekgejin!

_________________________________________________________________

Temukan pernak-pernik Cucukrowo Mekgejin di sini :

Twitter : twitter.com/cucukrowo_mek

Instagram : instagram.com/cucukrowo_mek

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *