Press "Enter" to skip to content

“KamisArt”, Peringatan Sewindu Aksi Solidaritas untuk Korban Kasus HAM

Kamis menjadi hari sakral untuk orang-orang yang mencari keadilan dalam kasus HAM. Tahun 2015 ini adalah tahun ke-8 aksi kamisan yang awalnya hanya diselenggarakan di Jakarta, tepatnya di depan Istana Negara. Kegiatan kamisan ini udah berlangsung sejak tanggal 18 Januari  2007 dan memasuki kamisan ke-382 kali. Kegiatan ini digagas oleh Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), KontraS, dan JRK.

Bandung pun ikut menyuarakan hak-hak tersebut melalui acara kamisan yang rutin dilaksanakan di depan Gedung Sate. Kamis (22/1) lalu merupakan kamisan ke-82 yang diselenggarakan oleh Aksi Kamisan Bandung. Pada peringatan sewindu kamisan ini, Aksi Kamisan Bandung mengambil tema “KamisArt” atau Kamis Movement Arts.

Peringatan ini dibuka dengan orasi dari Wanggi Hoed yang merupakan inisiator dari Aksi Kamisan Bandung. Bro yang satu ini menjadi salah satu contoh anak muda yang peduli pada kasus-kasus HAM yang nggak pernah tuntas di negeri ini. Wanggi melaksanakannya dengan aksi nggak sekadar obral-obral teori belaka.

orasi Wanggi Hoed yang kalem namun membakar jiwa raga
Orasi Wanggi Hoed yang kalem namun membakar jiwa raga.

Kamis Movement Arts ini adalah sebuah ekspresi publik untuk mengingat bersama mendukung gerakan para korban pelanggaran HAM yang setiap melakukan aksi sejak tahun 18 Januari 2007,” jelas Wanggi kepada teman-teman media sesaat sebelum acara dimulai.

Selain orasi dari Aksi Kamisan Bandung, perwakilan LBH, dan perwakilan KontraS, ada juga pameran karya seni yang isi posternya menyindir para pelaku kasus HAM yang nggak pernah terungkap hingga hari ini. Selain itu ada penampilan tari dari Lokra (Kelompok Anak Rakyat) yang mengambil tajuk “Fly Munir”. Tarian ini mengingatkan kita terhadap kasus pembunuhan aktivis HAM, Munir. Komunitas-komunitas maupun individu yang ikut bergabung dalam kegiatan ini juga banyak banget, seperti Komunitas Taman Kota, Perpustakaan Jalanan, Teater Cassanova, HPB (Hate Peurih Banget), Galuh Pangestri, Mixi Imajimimetheatre, Dimas Wijaksana, Untung Wardojo dan Solidaritas Sahabat Kamisan.

Kegiatan ini cukup menyedot perhatian masyarakat, buktinya adalah dengan hadirnya beragam individu dengan latar belakang yang berbeda. Ada bapak-bapak, ibu-ibu, anak muda, hingga anak-anak sekalipun hadir di acara ini. Hal ini memperlihatkan sebuah solidaritas dari masyarakat untuk para korban HAM masa lalu, dan kegiatan ini nggak hanya dimiliki oleh para korban aja, melainkan kita sebagai generasi penerus bangsa.

Alm. Munir yang digambarkan sedang dijemput kematian
Alm. Munir yang digambarkan sedang dijemput oleh kematian.

Harapan sudah tentu terus mengalir dari para korban HAM, aktivis HAM, dan seluruh masyarakat agar kasus HAM dapat dituntaskan, terutama pada pemerintahan baru yang dipimpin oleh Bapak Presiden Joko Widodo. Nah, kita sebagai anak muda tentunya jangan tinggal diam, seenggaknya kita mesti mengetahui apa yang terjadi pada negara ini.

Untuk kalian yang belum pernah mengikuti kegiatan kamisan dan ingin ikut beraksi, dateng aja ke depan Gedung Sate setiap hari Kamis jam 4 sore, dipastikan Wanggi Hoed ada di sana. Jangan diam! Lawan!

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *