Press "Enter" to skip to content

Kaleidoskop 2019: Seada-adanya Kota Bandung

Selamat menempuh tahun yang baru, warga kreatif. Sebetulnya saya nggak begitu familiar dengan membuat kaleidoskop atau rentetan momentum yang terjadi dalam satu tahun ke belakang. Tapi, melalui tulisan ini saya mau absen beberapa catatan yang rasanya bukan cuma saya saja yang ngutruk. Boleh? Hehehe, pakai izin segala, memangnya kamu instansi terkait?

Mundur jauh setahun ke belakang, memasuki tahun 2019 Kota Bandung harus bersedih dengan minimnya ruang alternatif yang bisa dijamah dan diberdayakan. “Ruang” yang selalu diharapkan bertambah justru kini terbatas. Beruntungnya, pegiat kreatif masih mampu menyiasati itu semua sehingga iklimnya masih dalam kadar baik-baik saja. Beberapa helatan seru di tahun 2019 sukses digelar dengan memanfaatkan ruang publik, ruang alternatif, dan tentu sebuah lapangan milik aparat yang bisa disewa. Dengan seada-adanya, sektor kegiatan kreatif mah uyuhan banget. Ah, sakieu ge tos aya~

Sektor rekreasional semacam sandang, pangan, dan wisata masih jadi ujung tombak serta selalu menunjukkan “indikator baik”; kemacetan di akhir pekan dan mobil yang parkir di atas trotoar, seperti yang bisa kita nikmati di bilangan Jalan Riau atau Jalan Tamansari. Hihihi, nikmat~ Sedangkan prestasi paling hangat adalah predikat Kota Peduli HAM yang diraih Kota Bandung pada 11 Desember 2019, yang tanpa tedeng aling langsung dicoreng lewat aksi penggusuran warga Tamansari secara tiba-tiba di keesokan harinya. Gelar yang mubadzir dan sekaligus mengherankan.

Wajah Pemerintah Kota yang tampak buruk di mata masyarakat justru semakin diperparah oleh mereka sendiri. Tentu kita masih ingat kejadian awkward saat Dinas Pendidikan yang melakukan perobohan gedung Sekolah Dasar, yang nyatanya termasuk dalam cagar budaya. Atau carut marut rekayasa lalu lintas yang membuat pihak Pemkot dan Dinas Perhubungan saling bingung, solusi apa yang paling tepat saat awak media meminta kutipan. Atau upaya chickenisasi (pemberian anak ayam, RED) yang ditawarkan Pemkot untuk menekan ketergantungan penggunaan ponsel bagi siswa SD dan SMP di sebagian Kota Bandung. Atau yang terbaru, momen penghujung tahun di mana imbauan merayakan pergantian tahun dengan berdzikir dari Pak Wali Kota, justru diimbangi dengan daftar titik perayaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Aneh, kayak yang nggak pernah ngobrol. Pada sudah familiar sama whatsapp kan? Punteun~

Momen berikutnya yang saya ingat antara lain keriuhan yang muncul saat logo HUT Kota Bandung ke-209 yang ada burung perkututnya (eh, perkutut apa pi’it, sih?), serta keluhan terkait pembangunan yang nggak jelas buat apa dan siapa. Permasalahan viral setahun bahkan satu dekade ke belakang seolah masuk telinga kanan lalu keluar lagi karena mental. Sebagai kota yang dianggap “kreatif”, buat saya Kota Bandung seperti kehabisan ide untuk menghadirkan solusi. Padahal kalau bingung dengan kompleksitas kota yang terus berkembang, Pemkot bisa saja melibatkan dan konsultasi dengan ahli di institusi terkait, atau turun ke pegiat yang lebih sering terjun di bidang teknis. Eh, bicara mah mudah~ Tapi, pengakuan Kang Uha, manusia gorong-gorong asal Cicadas, mengenai “laporan yang udah lama nggak ditanggapi” adalah pertanda bahwa koordinasi teknis lapangan antara Pemkot, Dinas, dan UPTD terkait nggak berjalan baik.

Teranyar, Pemkot sedang ngebut membangun fly over di Jalan Jakarta dan Jalan Laswi sebagai salah satu upaya pengurai kemacetan. Inget ya, mengurai bukan menghilangkan. Juga wacana pembuatan fly over di sejumlah lokasi lain. Padahal, selain macet dan banjir, peningkatan fasilitas semacam ruang terbuka hijau, gedung pertunjukan, sekolah alternatif bagi anak jalanan atau warga kurang mampu, dan sarana transportasi yang memadai juga belum terlihat lagi geliatnya. Memang harus dilihat urgensinya, sih.

Mudah-mudahan saja Pemkot bisa punya opsi baik dan cara yang manusiawi untuk memperbaiki catatan minornya, bukan hanya mempercantik atau membuat “monumen” sebagai tanda eksistensi pernah berkiprah jadi orang nomor satu di Bandung. Dan mungkin, lambatnya kinerja Pemkot bisa jadi karena branding yang nggak “sekuat” periode sebelumnya. Contoh kecil, movement Kang Pisman saja timbul tenggelam. Haduh, jadi serius banget catatan teh, harusnya ada bagian lucunya alias punchline kalau kata stand-up comedian.

Sekalipun rudet banget, saya masih seneng kok sama Kota Bandung. Apa boleh buat?


Salam sayang,

 

Yang Tumbuh Besar di Bandung

Fadli Mulyadi

Comments are closed.