Press "Enter" to skip to content

Kaleidoskop 2019: Ekosistem Musik yang Lebih Baik

Tahun 2019, buat saya pribadi, menjadi sebuah tahun yang menggelora untuk dunia permusikan Indonesia. Itu pun yang masih keliatan dan saya perhatikan aja. Kenapa masih menggelora dan bukan makin mantap? Karena memang semuanya masih berkembang. Sama kayak negara ini. Dari saya SD sampai sekarang, disebutnya masih sebagai negara berkembang. Nggak pernah maju.

Arti menggelora di sini adalah sebuah semangat untuk terus membuat karya yang baik, bahkan monumental. Entah buat para penggemar atau penggiatnya sendiri. Selain itu, tulisan ini semata-mata nggak hanya berkisar soal berapa banyak rilisan kece yang hadir atau pertunjukan musik keren yang berhasil maupun sekadar menjadi wacana di tahun ini. Kalau mau dijabarin, sih, bisa aja. Cuma saya bingung mulai dari mana. Habis banyak banget. Beneran. Tapi, menurut saya, ada hal yang nggak kalah penting perihal ekosistem musik.

Kalau ditelisik, di tahun 2019 ini banyak sekali dokumentasi digalangkan yang menambah kedeketan antara musisi dan fans-nya. Contohnya adalah kelahiran konten video seperti Ngobam (Ngobrol Bareng Musisi) oleh Gofar Hilman, Shindu’s Scoop milik Shindu Alpito, serta Soleh Solihun dengan The Soleh Solihun Interview-nya yang cukup banyak mengundang musisi atau pelaku seni musik sebagai narasumber.

Selain program tersebut, masih banyak kok yang lainnya. Kan nggak mungkin ditulis satu per satu. Kayak artikel SEO aja ngejar word count. Tapi, (lagi-lagi) bagi saya pribadi, ketiga program tersebut mampu menarik atensi yang lebih serius dari para penggemar kepada musisi idolanya kalau dilihat dari banyaknya penonton serta komentar yang terunggah. Melalui konten tersebut, para fans diajak untuk mengenal sisi lain dari para musisi dan secara sukarela menghabiskan waktu berjam-jam.

Selain itu, penggiat dokumentasi musik dalam bentuk video yang sedang getol-getolnya di tahun ini adalah Hasief Ardiasyah dan PFVideoworks. Kedua nama tersebut memang bukan nama baru lagi di dalam ruang lingkup permusikan, namun aktivitas mereka di tahun ini dapat dibilang penuh gelora. Dengan swadaya mereka senang mengabadikan konser-konser dan mengunggahnya ke kanal YouTube-nya, dengan kualitas yang cukup baik. Memang, beberapa tahun lalu kita sudah mengetahui Sounds From The Corner melakukan hal yang sama dengan konsep yang lebih megah, tapi nggak ada salahnya kan menawarkan alternatif?

Bentuk support dan dokumentasi lain yang menggelora, tentu kembali aktifnya Deathrockstar ke permukaan. Meskipun emang nggak vakum-vakum amat di tahun-tahun sebelumnya, cuma di tahun ini, blog/media musik tersebut kembali berjejaring kepada siapa pun. Entah sekadar nginfoin perihal rilisan, event yang enak, atau mengajak para netizen beropini. Intinya mah engaging. Naon nya artina engaging teh?

Memang sudah pasti para penggemar akan membuat skena menjadi lebih hidup. Ekosistem yang baik tidak hanya berasal dari aktivitas jual-beli merchandise, tiket, dan rilisan. Kritik, saran, obrolan ringan nan intim yang terdokumentasi akan membuatnya lebih baik. Karena jika terekam, semuanya tak akan (bisa) mati. Seperti apa yang dilantunkan oleh Jimi Multhazam.

Jadi, mari menatap tahun 2020.


Kecup sayang,

 

Penyayang ROI! Radio

Ichsan ‘Spaceboy’ Ramadhan