Press "Enter" to skip to content

Interview With Ari Bobovich, “Si Sarang Jurich”

Kembali di rubrik wawancarrnya ROI! Radio saudara-saudara. Apa kabar ? Sehat semua ? Apa sudah makan ? Kalau belum, jangan makan, nanti gendut. Kali ini, kembali pemimpin redaksi saya agak kabetrik kepalanya. Belum sembuh,sih, tepatnya. Jadi saya disuruh wawancarrr lagi. Apal pan ? Yang wawancara benda tea teh.

Iya, pokoknya saya disuruh wawancarrr lagi. Setelah melalui proses yang alot (dorong-dorongan di loteng depan kamarnya Agam, yang jatuh duluan kalah/mati), akhirnya diputuskan kalau wawancarrr kali ini temanya adalah jungjurigan, alias hantu. Ini dalam menyambut hari paling seram di dunia, 1 Oktober, yang berkaitan dengan G-30…. eh bukan, yah? Oh, 31 Oktober, halloween sob !

Kali ini tamunya istimewa sekali, karena bukan patung, bukan pot bunga, bukan duit. Yang pasti dia besar. Banget. Kamu kalau mau masuk sama temen-temen sekelaseun juga bisa. Kalau anak kuliah seangkataneun juga bisa masuk ke si “orang”ini. Pokoknya gitulah, gede banget. Namanya Arbo. Nama panjangnya Arboretum. Nama gaulnya Ari Bobovich. Dia berada di kampus Jatinangor Universitas Padjadjaran. Ari Bobovich ini adalah hutan buatan yang dibuat oleh Unpad, di tengahnya ada danau gitu. Biasanya anak-anak pertanian, biologi, dan peternakan Unpad nongkrong-nongkrong ngerjain tugas di sini. Kadang botram juga. Tempatnya enak sih, tapi saya agak tegang wawancarr dia, soalnya malem-malem. Sensasinya beda, lho! Simak aja yuk hasil wawancarrnya di sini.

Punten, ini Aa Arbo?

Arbo (A): Iya, bener, saya Ari Bobovich, kamu siapa?

Ini, saya Bima, dari ROI, disuruh wawancara Aa Arbo.

A: Panggil aja saya Ari

Oh, iya, Ari, siap.

A: Jadi mau nanya apa ?

*eh naha jadi saya nu ditanya ?* gini a, apa kabar dulu deh A?

A: Baik.

Euu, katanya Aa teh angker ?

A: Nggak. Kata siapa ?

Banyak yang bilang begitu sih A. Saya sendiri pernah ke sini, terus denger suara burung gagak jam 2 pagi, mestinya mah udah sepi kan,yah ?

A: Kamu salah dengar.

Nggak mungkin A, soalnya teman saya juga dengar.

A: Teman kamu juga salah dengar.

Nggak mungkin sa.. oh ya udah deh, udah berapa lama di sini A?

A: Dari 1995

Wah, itu jaman-jaman Persib masih jago ya?

A: Nggak tau, nggak nonton bola.

*aduh anjrit meuni hese kieu narsum teh*, hmm, Aa kerjaannya apa aja, ya?

A: Diam aja, pelihara pohon, simpan binatang ternak, dikunjungi orang.

Oh gitu ya, kalau itu danau gunanya apa A?

A: Latihan perahu karet.

Katanya airnya bikin gatel ya kalau kena kulit?

A: Nggak tahu, belum pernah.

Ini kan indah yah a, tapi kenapa banyak yang bilang angker,ya?

A: Soalnya kamu datangnya malam-malam.

Eh tapi…

A: Coba kamu datangnya siang, pasti nggak serem.

Iya, tapi..

A: Nggak usah tapi, tapi. Dengar yah, kadang orang,tuh, suka nggak tahu aturan. Hutan malam ya jelas angker. Jangankan hutan, rumah sakit, sekolah, rumah kamu juga. Kenapa? Karena gelap. Kalau gelap, kamu nggak bisa lihat apa-apa. Manusia itu takut sama apapun yang nggak terlihat, karena mereka nggak tahu harus berbuat apa dan bagaimana ketika gelap! Kalau siang, saya ini tempat anak-anak Unpad belajar. Tau? Memahami tanaman dan binatang, memahami ekosistem, bukan buat jurit malam jurit malam !

Oh.. gitu A?

A: Oh gitu, oh gitu ! NGERTI NGGAK KAMU ?

Eh, Insya Allah ngeri, eh ngerti, A.

A: Sudah! nggak usah bilang-bilang lagi saya angker! tulis artikelnya yang bener, kasih tau sama orang-orang!

*aduh sing demi ieu mah, angker mah hanteu, sieun mah heeuh*, eh iya, atuh a punten, saya pulang aja ya kalau begitu

A: Kamu juga mikir, wawancara malam-malam jam 1 gini. Pulang sana!

SIAPPPP… Hatur nuhun A.

A: Enya.

Saya pun lalu pergi meninggal kan Aa Ari. Jujur, ini adalah wawancara paling menyeramkan yang pernah saya lakukan. Ternyata, untuk takut, nggak harus sama hantu aja. Tapi sama orang galak juga. Haaah. Nggak lama saya berjalan ke tempat parkir mobil, terdengar suara “hiiihiiihiii, bade ka mana atuh aaaaa ?”. Saya menoleh ke pohon di belakang saya, di atasnya ada sosok perempuan. Yang sudah bisa anda semua duga, berbaju putih, berambut panjang, berwajah putih, dengan polesan hitam di sekitar matanya. Hampir saya pingsan, lalu sadar, kalau ternyata itu Sella, yang ngurusin rubrik ULIN di ROI. Ngarereuwas wae sateh Sella !

 

 

foto: Alfi Prakoso

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *