Press "Enter" to skip to content

“Inside Out”: Tentang Tindak Tanduk Manusia

Inside_Out_2015_film_poster

Pixar, studio animasi yang berada di bawah bendera Disney memang kerap berhasil menghasilkan animasi-animasi kelas wahid dengan tema yang unik dan fantastis. Sebut saja trilogi Toy Story yang menceritakan tentang mainan anak yang bisa hidup, atau Cars, yang berkisah tentang mobil-mobil yang bisa berbicara dan berinteraksi layaknya manusia. Nggak kehabisan ide, kali ini Pixar mengeluarkan sebuah animasi yang menceritakan tentang emosi. Ya, bagaimana emosi bekerja dalam tubuh kita.

Riley Andersen (Kaitlyn Dias) adalah seorang anak perempuan yang di dalamnya hidup 5 macam emosi: Joy (kesenangan, Amy Poehler), Sadness (kesedihan, Phyllis Smith), Fear (ketakutan, Bill Hader), Anger (kemarahan, Lewis Black), dan Disgust (rasa jijik, Mindy Kaling). Riley yang tumbuh besar di Minnesota ini harus menerima kenyataan bahwa pekerjaan ayahnya (Kyle MacLachlan) membuatnya harus pindah ke San Fransisco, sebuah hal yang sangat berat bagi Riley yang berusia 11 tahun.

Dalam kepindahan itu, Riley mengalami berbagai macam emosi di dalam tubuhnya. Emosi-emosi ini saling bertengkar untuk mengambil alih “kendali” Riley, yang nantinya akan menentukan tindakan apa yang Riley lakukan. Dalam gejolak tersebut,  “sial”-nya, si Joy dan Sadness yang tentunya memberikan keseimbangan dalam emosi Riley, secara nggak sengaja harus mengalami “petualangan” yang dahsyat dalam alam pikiran Riley.

Dalam alam pikiran itu, Joy dan Sadness bertemu dengan Bing-Bong (Richard Kind) yang merupakan kawan imajiner Riley. Perlu diingat, bahwa dalam budaya barat, kawan imajiner adalah sesuatu yang dianggap wajar dimiliki setiap anak hingga mereka tumbuh dewasa. Joy dan Sadness pun bertualang untuk menyelamatkan Riley yang di dalam hatinya makin hari makin berantakan. Tanpa Joy dan Sadness, keadaan emosi Riley menjadi nggak stabil, dan itu menghancurkan hal-hal yang menyokongnya: hobi, keluarga, dan kawan-kawan. Hal-hal tersebut pun mulai beruntuhan, hingga Riley nyaris mengalami sesuatu yang mungkin kita kenal dengan “mati rasa”.

Bisakah Joy dan Sadness kembali ke ruang kontrol emosi Riley? Saksiin aja di bioskop kesayangan anda.

The Review

Bagi saya, film ini adalah film yang sangat unik. Seperti biasa, film animasi Pixar bisa dinikmati oleh semua umur. Untuk para anak-anak, desain para karakter dan komedi slapstick yang mereka peragakan mampu mengundang gelak tawa. Sedangkan untuk para remaja, kisah emosional yang ditunjukkan mampu menggugah emosi mereka. Dan untuk para orang dewasa (seperti saya), film ini mengajak kita untuk berpikir tentang bagaimana emosi mengendalikan manusia.

Tiap kali Riley merespon sesuatu, emosinya-lah yang bekerja. Ketika Joy yang menang, maka memori yang muncul adalah bulatan berwarna kuning, bulatan itu bergerak di dalam kepala riley, dan masuk ke dalam rak ingatan. Ketika Sadness yang menang, maka bulatan yang muncul adalah yang berwarna biru. Begitu seterusnya; Anger=merah, Disgust=hijau, dan Fear=ungu. Memori-memori inilah yang disimpan dalam rak ingatan Riley.

Yang unik, ketika Riley masih kecil, kebanyakan ingatan itu berwarna kuning, deretan bulatan berwarna kuning berderat rapih di rak tersebut. Ini menggambarkan bagaimana manusia selalu bahagia ketika mereka masih bayi. Nggak perlu memikirkan banyak hal, hanya bersenang-senang setiap hari.

Selain itu, Joy di sini memiliki sifat yang agak egois. Ia dengan semena-mena memaksa menekan Sadness untuk nggak mencampuri ingatan Riley terlalu banyak. Ini juga menggambarkan bagaimana manusia seringkali menjadi egois ketika mereka mengedepankan kebahagiaan mereka di atas yang lain.

Satu lagi hal yang menarik, dalam perjalanan Joy dan Sadness, mereka menemukan Train Of Thought, di mana di dalamnya terdapat box yang berisi fakta dan opini. Box itu jatuh karena Bing-Bong, dan isinya tercampur. Ini menggambarkan tentang bagaimana masih banyak manusia yang kesulitan membedakan mana fakta dan opini (seringkali bisa kita lihat dalam debat baik di televisi maupun media sosial).

Poin-poin tadilah yang menyebabkan saya sangat menyarankan film ini. Saya beri nilai 8/10. Oh iya, performa Amy Poehler sebagai Joy juga sangat luar biasa! Masih tersisa sedikit aura dari Leslie Knope, karakter yang ia mainkan dalam serial Parks and Recreation (yang benar-benar keren). Selamat menyaksikan dan beremosi!

P.S: sebelum film dimulai ada film pendek tentang gunung berapi. Keren juga. Tapi awas, ketika nonton dengan pacar, jangan nyeletuk yang aneh-aneh, nanti dia marah.

Inside Out (2015)

Sutradara: Pete Docter

Produser: Jonas Rivera

Screenplay: Pete Docter, Meg Lefauve, Josh Cooley

Skenario: Pete Docter, Ronnie del Carmen

Pengisi Suara: Amy Poehler, Phyllis Smith, Bill Hader, Lewis Black, Mindy Kaling, Richard Kind, Kaitlyn Dias, Diane Lane, Kyle MacLachlan

Musik: Michael Giacchino

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *