Press "Enter" to skip to content

Ini 5 Film yang “Melawan Keterbatasan”!

­Kali ini, duet maut MinBim dan MinRen akan membahas tentang film-film yang kiranya dapat menggambarkan tema ROI! bulan ini; Melawan Keterbatasan. Kami memilih 5 film yang kami rasa mampu mewakili tema tersebut. Film tersebut adalah I am Sam yang melawan “keterbatasan” karena bawaan lahir, Dallas Buyers Club yang melawan “keterbatasan” kesehatan, Dead Poets Society yang melawan “keterbatasan” teoritis yang dibuat oleh orang lain, Jackass yang melawan “keterbatasan” tubuh manusia, serta Jiro Dreams of Sushi, yang melawan “keterbatasan” yang dibuat diri sendiri. Seperti apa itu rasanya melawan keterbatasan? Sok mangga dicek ini listnya!

1. I am Sam (2001)

foto: www.bigpondmovies.com
Ini namanya cinta sejati! hiks

The Story: Sam Dawson (Sean Penn) adalah lelaki dewasa dengan keterbelakangan mental yang mempunyai seorang anak perempuan hasil pernikahannya dengan wanita tuna wisma yang sudah lama meninggalkannya. Sam yang sangat menyukai The Beatles memberikan anaknya nama Lucy Diamond (Dakota Fanning), sesuai dengan lagu favoritnya. Sam dan Lucy mempunyai ikatan bathin yang begitu besar. Dengan segala keterbatasan Lucy tumbuh menjadi gadis kecil yang pintar, nggak jarang Lucy menolong ayahnya di beberapa kesempatan. Masalah menjadi rumit ketika Lucy memasuki usia 7 tahun dan harus mendapatkan pengawasan orang dewasa yang mampu secara finansial dan inteleltual menjadi orang tua asuh Lucy. The Boundaries: Keterbelakangan mental yang dialami Sam hanya mampu membuatnya mempunyai pola pikir seperti anak usia 5 tahun. Namun itu tidak menghalangi instingnya sebagai orang tua ketika Lucy terancam dipisahkan darinya oleh dinas sosial. Sam dengan giat bekerja dikedai kopi untuk menanggung biaya hidupnya dengan Lucy. Siapkan tisu saat menonton film ini karena akan banyak sekali invisible ninja yang akan memotong bawang sepanjang film.

2. Dallas Buyers Club (2013)

Itu yang kiri Jared Leto. Adeuh

The Story: Ron (Matthew McConaughey) divonis positif menderita HIV sesaat setelah dia terbangun dari pingsannya. Dokter mengatakan Ron hanya punya waktu hidup 30 hari lagi akibat penyakitnya itu. Dengan waktu yang begitu terbatas, Ron yang sekarat mencari cara untuk memperpanjang umurnya. Sampai akhirnya Ron mengenal sebuah obat AZT yang dapat mengembalikan sistem kekebalan tubuhnya. Obat AZT ternyata punya efek samping. Obat itu memang bisa mengembalikan kekebalan tubuh, namun efek sampingnya mematikan karena sangat beracun. Dia kemudian pergi ke Mexico dan bertemu dokter ilegal yang memberikannya obat yang serupa AZT tapi nggak memberikan efek samping sama sekali. Melihat peluang bisnis dari obat ilegal ini, Ron yang masih terbelit dengan gaya hidupnya yang berantakan kemudian menyelundupkan obat ilegal ini dan mendirikan Dallas Buyers Club untuk merawat penderita HIV/AIDS yang punya harapan sembuh atau hidup lebih lama dari vonis yang diberikan. The Boundaries: Ya, memang film ini bukan contoh yang baik-baik banget, sih, tapi usaha Ron untuk sembuh dari penyakit dengan usahanya sendiri patut diberi apresiasi. Terlebih kejelian Ron yang melihat peluang bisnis dari keterbatasannya somehow bisa menjadi inspirasi. Berawal dari semangat melawan keterbatasan kemudian mempunyai kemampuan menolong mereka yang mempunyai kekurangan yang sama (terlebih lagi jadi bisnis hehe) kan bisa jadi cita-cita yang mulia. Asal inget aja caranya yang halal ya gaeees…

3. Dead Poets Society (1989)

Duduk, woi!
Duduk, woi!

The Story: Berkisah tentang sebuah sekolah unggulan dengan sistem tradisional yang sangat kaku. Para murid baru sekolah itu bertemu dengan dengan seorang guru baru yang nyentrik, Mr. John Keating (Robin Williams), yang mengajari mereka tentang bagaimana cara menghadapi hidup dengan luar biasa, yang ia rangkum dalam sebuah ‘mantra’: Carpe diem. Seize the day. Taklukan harimu. Anak-anak yang terinspirasi oleh kelas itu kemudian menghidupkan kembali sebuah ‘ekstrakulikuler’ nggak resmi yang dulunya digawangi oleh Mr. Keating, Dead Poets Society, sekelompok penikmat puisi yang menikmati puisi melewati batas-batas teoritis yang kerap diajakarkan di sekolah tersebut. Namun, pada akhirnya, kelabilan mental para pemuda ini dalam menginterpretasikan ajaran Mr. Keating mulai memakan korban. The Boundaries: Seni adalah suatu bentuk hiburan yang tidak bisa dibatasi oleh angka. Ia tidak bisa dinilai. Ia bisa dirasa, ia bisa dinikmati. Namun, ia tidak bisa dikuantifikasikan. Pada awalnya di film ini diceritakan bagaimana puisi dapat dinilai dengan sebuah diagram kartesius agar dapat diketahui nilainya. Dari makna, dan bentuk puisi. Namun, Mr. Keating mengajarkan muridnya untuk menyobek halaman itu. Menurutnya, puisi itu muncul dari perasaan yang paling dalam, dan apa yang disampaikan oleh penulis, tidak dapat dinilai begitu saja oleh orang lain. Nggak ada standar yang menentukan kebagusan sebuah puisi. Begitu juga dengan hidup. Nggak usah kamu peduli dengan apa yang didiktekan oleh orang lain dalam menjalani hidupmu. Karena jika kamu menuruti mereka, itulah batas yang mereka buat untuk memagari dirimu. Ketika kamu melupakan semua itu, kamu menjadi dirimu sendiri, melepaskan diri dari batas-batas semu yang membelenggu. Kurang lebih, seperti itulah pesan tentang anti-keterbatasan dari film ini.

4. Jackass 3D (2010)

Payun teuing, a..
Payun teuing, a..

The Story: Segerombolan anak muda yang gemar menyiksa diri sendiri dan kawan-kawannya. Menarik jenggot dengan super glue, mencabut gigi yang sehat dengan mobil Lamborghini, duduk di toilet yang penuh dengan kotoran segar untuk dilontarkan ke udara, meminum air keringat, ditabrak oleh pemain American Football professional, melewati ladang puluhan tazzer yang digantung, dan puluhan uji tubuh dan mental lainnya yang bakal bikin kamu mengrenyitkan dahi: “ini mereka ngapain,sih?”. Johnny Knoxville, Bam Margera, Ehren McGehey, Steve-O, Preston Lacy, Wee Man, Ryann Dunn dan kawan-kawan akan mengajak anda bertualang menembus batas ketahanan tubuh dan mental manusia. The Boundaries: Tuhan menciptakan tubuh manusia sedemikian rupa agar dapat dipelihara secara baik. Rasa sakit adalah pengingat manusia untuk berhenti melakukan sesuatu yang dirasa berbahaya untuk dirinya. Rasa sakit adalah limiter untuk manusia agar ia berhenti melakukan suatu hal karena itu berbahaya untuk dirinya sendiri. Begitu juga dengan mental, rasa takut, cemas, lelah, adalah batasan manusia dari Tuhan yang menjadi isyarat manusia untuk istirahat. Jackass adalah suatu bentuk penentangan terhadap batasan tersebut.  Nggakpeduli sakit dan lelah, mereka ‘menguji’ diri mereka sendiri sampai batas mana mereka bisa bertahan. Ternyata yah, nggak banyak juga. Banyak erangan kesakitan, atau (maaf) muntah karena nggak kuat dengan hal-hal yang mereka sendiri lakukan. Bodoh? Mungkin, tapi cukup menghibur, dan membuat berpikir, buat apa ada rasa sakit dan rasa lelah. Hehe.  

5. Jiro Dreams of Sushi (2011)

Tuh, denger~
Tuh, denger~ eh, baca~

The Story: Sebuah film dokumenter tentang Jiro Ono, seorang chef Sushi yang tersohor di Jepang. Jiro merintis usahanya dari ia muda, dulunya, ia adalah seorang pembantu di restoran sushi. Hingga akhirnya ia memiliki ‘lisensi’ untuk membuka restorannya sendiri.  Dalam film ini diceritakan bagaimana perjuangan Jiro yang selalu berkembang walaupun sudah berusia 80 tahun. Ada beberapa sudut pandang yang disajikan di dalam film ini, baik itu dari Jiro sendiri, dari anaknya yang menjadi calon penerus Sukiyabashi Jiro, para pekerja dan mantan pekerja yang pernah berguru di Sukiyabashi Jiro, langganan bahan mentah Jiro, hingga seorang kritikus makanan yang mengaku bahwa ia masih sering deg-degan apabila makan di tempat Jiro. Di film ini diceritakan bagaimana Jiro selalu menuntut kesempurnaan dalam setiap bahan sushinya. Baginya, 90% sushi terletak pada persiapan. The Boundaries: Berpuas diri. Itu adalah sebuah frase yang menggambarkan bagaimana manusia membelenggu dirinya sendiri. Ketika ia membatasi dirinya sendiri, maka di situlah ia akan berhenti berkembang. Salah satu nilai yang diceritakan di dalam film ini adalah kaizen yang merupakan nilai yang dianggap khas Jepang, di mana seorang Jepang memang dituntut untuk selalu melakukan perubahan yang baik melalui inovasi-inovasi yang menembus batasan yang sudah ada. Jiro yang sudah berumur lebih dari 80 tahun, mengelola restoran sushi eksklusif yang satu setnya berharga paling murah 30 ribu yen (3 juta rupiah), serta mendapatkan bintang 3 dari Michelin Restaurant Guide, yang merupakan panduan tentang makanan paling bergengsi di dunia saja masih merasa ada yang kurang dari usahanya. Ia selalu mencoba terus dan terus berkembang tiap harinya. Sushi esok hari harus lebih baik daripada sushi hari ini. Lewati batasmu sendiri!

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *