Press "Enter" to skip to content

Ikrar Senyawa di Dasawarsa Pertama

Hal baik baru saja hadir di awal tahun ini. Senyawa, unit etnis kontemporer asal Yogyakarta, menggelar hajatan akbar dalam rangka merayakan perjalanan bermusik mereka yang telah menginjak usia sepuluh tahun. Pencapaian yang luar biasa, karena di sana telah bersemayam konsistensi dan segala pertaruhan dalam ragam rupa.

Kabar ini cukup terdengar di perbincangan kecil pelaku seni. Ketika Limunas, akronim dari Liga Musik Nasional, secara resmi mengunggah jadwal tur mandiri Senyawa, akhirnya kita semua tau; Jakarta, Bandung, dan Jatiwangi menjadi tempat perhelatan yang dipilih. Selang satu hari di tiap kota, berlangsung pada 17-19 Januari 2020. Fokus saya jelas tertuju pada Bandung. Helatan di kota ini terintegrasi dengan event Selasar Musik Vol. 2, sebuah program kolaborasi antara Selasar Sunaryo Art Space dan Limunas, serta masuk dalam program Limunas Special Show. Syarikat Dagang, proyek kolaboratif antara Ruru Shop dan Omuniuum, juga berperan penting atas terselenggaranya Senyawa: Dasawarsa Pertama.

Bale Handap, Selasar Sunaryo Art Space, menjadi venue penyelenggaraan pentas perdana Senyawa di Bandung, pada Sabtu (18/1) lalu. Ya, betul, lawatan pertama kali. Sebuah kehormatan menjadi salah satu individu yang turut merayakan dasawarsa pertama sekaligus menyongsong dasawarsa selanjutnya bagi Senyawa. Bagaimana tidak, buat saya, penamaan tur ini menjadi ikrar bagi duo Rully Shabara dan Wukir Suryadi. Tak ada yang tau perjalanan mereka nanti, namun bila ada yang ‘pertama’, tentulah akan ada yang ‘kedua’ ataupun berikutnya.

Dalam babak di Bandung ini, AstoneA didapuk menjadi pembuka pentas. Kelompok seni yang terbentuk di tahun 2003 ini ‘dibangkitkan’ dari hiatus. Panggung kali ini momentumnya tepat, karena rasanya belum ada lagi band lokal Bandung yang bisa mengimbangi Senyawa dalam konsep dan penerapannya.

Set panggung mereka cukup kompleks, berbeda dengan apa yang ditampilkan dalam Pemandangan yang sederhana nan jenaka, tentu saja. Ewing memegang kendali atas alat musik petik yang dibuat dari sapu, parutan keju, dan benda-benda yang umum dijumpai. Juga drumset sederhana dan sebuah papan ketik. Akbar sepanjang pertunjukan duduk menghadap layar laptop memainkan porsinya. Sementara Amenk mengeruk bebunyian dari kanvas lukis berukuran 40×60 cm atau bisa saja salah karena saya tak ahli dalam hal menebak. Aksi membacakan puisi dengan jubah hitam pun menjadi lakonnya malam itu.

Bale Handap terbagi menjadi area pendopo dan tribun pada dua sisi. Jarak penonton dengan stage begitu dekat, karena sekitarnya diperkenankan untuk diisi sambil duduk bersila atau sesukanya. Menyaksikan AstoneA sedekat itu tentu saja memunculkan persepsi, malam seperti apa yang bakal dilalui.

Saya rasa penampilan AstoneA tak sekadar lalu. Mereka menyajikan pertunjukan seni yang intens; menggabungkan visual, bebunyian, aksara, pertunjukan, dan apa pun itu ke dalam kesatuan yang utuh. Output yang mengagetkan namun bukankah di situ letak seninya? Sampai bertemu lagi di panggung selanjutnya yang entah kapan itu bakal terlaksana.

Pukul delapan lewat tiga puluh, dan tak lama lagi panggung menjadi milik Senyawa sepenuhnya.

Sajen diletakkan tepat di depan area stage. Terberkatilah Tanah Ini menjadi sajian pembuka. Sebuah nomor dari album penuh paling anyar, Sujud (2018). Entah harus saya tuliskan bagaimana perasaan itu. Kali pertama menyaksikan Senyawa. Sesaat aktivitas memotret terhenti, menyimak secara saksama apa yang ada di depan mata.

Melihat kedua sosok yang disatukan oleh YesNoWave sepuluh tahun silam ini bisa langsung tergambar, begitu kentara paduan antara tradisional dan eksperimental. Selaras. Dan menyaksikan pertunjukan Senyawa tak ubahnya menyimak langsung proses kreatif mereka dalam bermusik, arena bereksperimen keduanya dalam masing-masing titik.

Wukir, tanpa alas kaki, dengan set alat buatannya yang umumnya kita sebut sebagai gitar, bambu, solet, dan mutant. Rully dengan seperangkat efek vokal dan dua buah mikrofon sembari membunyikan suara-suara dalam ragam khas, ragam tingkat, yang sulit bagi kita untuk memahami, bisa-bisanya ia mencapai titik itu. Ia paham dalam setiap detail, kapan ia harus mendekat, menjauhi, dan menentukan ke arah mana suaranya dilontarkan.

Berturut-turut materi lagu yang mereka kerjakan dalam rentang waktu 2010-2019 dibawakan, dengan energi prima, termasuk set-set panjang. Jeda hanyalah ketika Rully berhenti untuk menyapa dan menghaturkan terima kasih kepada kawan-kawan yang malam itu turut hadir. Ya, tiket pertunjukan babak di Bandung sepenuhnya habis. Bahkan dikonfirmasi oleh pihak Limunas, beberapa orang terpaksa putar balik karena tak ada lagi kemungkinan bisa masuk.

Di akhir penampilan, perwakilan dari Selasar Sunaryo Art Space memberikan sepatah pengantar. Sebagai bentuk penghargaan, Rully kembali meraih mikrofon dan menyuguhkan encore disambut para penonton yang kembali ke tempatnya semula. Entah tak menyangka atau bagaimana, Wukir tampak langsung bergegas menuju arenanya dengan sepatu Reebok GL 6000  hitamnya yang kadung terpasang.

Beberapa cendera mata yang dijajakan menjadi sesuatu yang wajib dimiliki oleh sebagian besar penonton. Tak lupa, rilisan terbaru Senyawa, Rehearsal Session 06/11/2019, yang dicetak dalam format kaset oleh Orange Cliff Records dan cakram padat melalui YesNoShop. Diskografi Senyawa dalam format fisik juga dipamerkan dalam etalase khusus.

Tur mandiri Dasawarsa Pertama benar-benar upaya yang teramat baik dari Senyawa untuk menghargai perjalanan bermusik sejauh ini. Sekalipun panggung mereka lebih banyak di luar negeri, mereka tak lupa berkontemplasi di tanah sendiri.


Galeri pentas babak di Bandung bisa dilihat di sini:

Senyawa: Live at Dasawarsa Pertama

AstoneA: Live at Dasawarsa Pertama