Press "Enter" to skip to content

Hotel Rwanda (2004): Arti Perdamaian di Antara Rasialisme & Kolonialisme

Review film kali ini sedikit spesial, karena film yang kami pilih berkenaan dengan tema kami bulan ini: Perdamaian. Banyak sekali film-film yang berkisah tentang peperangan, tentang bagaimana menyeramkannya perang, tentang bagaimana teknologi-teknologi canggih dalam peperangan mempermudah manusia untuk membunuh sesamanya, juga tentang bagaimana peperangan hanya akan menghasilkan dendam yang pada akhirnya akan menimbulkan peperangan lagi.Kami memilih film Hotel Rwanda dengan alasan, banyak sekali yang dapat dipelajari dari film ini, terutama tentang makna kemanusiaan, yang nanti pada ujungnya akan berkenaan dengan toleransi dan perdamaian.

Oke, film ini dimulai dengan perkenalan tokoh utama yaitu Paul Rusesabagina (Don Cheadle), seorang manajer hotel di Rwanda, Hotel des Mille Collines. Paul hidup di Rwanda bersama istrinya Tatiana (Sophie Okonedo), dan anak-anaknya. Hidup Paul berubah total ketika ia dihadapkan oleh sebuah kenyataan pelik yang menyelimuti negaranya: Ada konflik hebat antar suku Hutu dan Tutsi di mana Paul adalah seorang Hutu dan istrinya, Tatiana adalah seoarang Tutsi. Suku Hutu menganggap bahwa Suku Tutsi adalah kecoak-kecoak yang wajib dimusnahkan. Ya, kecoak, dalam narasi di film ini, suku Hutu memanggil suku Tutsi dengan sebutan kecoak.

HotelRwanda

Suku Hutu pada masa itu ialah ras mayoritas yang berkuasa di Rwanda. Mereka memegang kuasa penuh atas pemerintahan, dan setelah berbagai konflik yang terjadi, terutama setelah terbunuhnya presiden Habyarimana (yang mirip dengan Muhammad Ali, coba googling deh) mereka ingin membantai -genosida, tepatnya- suku Tutsi dengan alasan yang menyedihkan: balas dendam atas perilaku suku Tutsi ketika Belgia menjajah Rwanda, di mana suku Tutsi menjadi bagian dari pemerintah kolonial Belgia.

Pembantaian pun dimulai dengan membabi buta, siapapun yang memiliki cap Tutsi di identitasnya, akan langsung dikumpulkan lalu dibunuh. Awalnya, Paul tidak percaya dengan kabar burung ini, hingga ia melihat sebuah video yang direkam secara nekad oleh Jack Daglish (Joaquin Phoenix), seorang wartawan berkebangsaan Inggris. Melihat video itu, Paul sadar akan ancaman yang ia –terutama istrinya- hadapi. Di saat-saat inilah pintu kemanusiaan Paul terketuk, ia siap pasang badan untuk melindungi para pengungsi Tutsi yang kebanyakan adalah tetangganya. Ia rela menggadaikan hartanya untuk menyogok jenderal-jenderal busuk dari pihak Hutu. Ia pun menggunakan jabatannya sebagai manajer hotel untuk menjadikan hotel tersebut menjadi tempat pengungsian sementara untuk para suku Tutsi.

Yang menyedihkan, ketika melihat tentara gabungan ‘barat’ –tidak disebutkan apa saja negara yang tergabung, namun di dalamnya yang jelas ada Amerika Serikat dan sekutunya- datang ke Rwanda hanya untuk mengevakuasi kaum kulit putih. Salah satu dialog paling keras dan menusuk dari film ini adalah, ketika Colonel Oliver (Nick Nolte), berkata bahwa “kalian, bagi ‘kami’, barat, hanyalah kotoran. Kalian bahkan lebih rendah daripada Nigger (kata slang untuk orang kulit hitam di Amerika Serikat, RED), kalian hanyalah orang Afrika”. Colonel Oliver berkata demikian karena ia telah merasa gagal untuk melindungi nyawa-nyawa para pengungsi Tutsi ini.

Film ini terfokus kepada bagaimana konflik batin yang terjadi dalam diri Paul Rusesabagina, siapa yang harus ia dulukan ? Dirinya sendiri ? Keluarganya ? Atau para pengungsi. Konflik-konflik yang terjadi dalam film ini, akan menyadarkan kita, bagaimana pentingnya arti kedamaian. Dalam konflik antar suku seperti ini, oleh film ini kita ‘diajak’ untuk melihat fakta menyeramkan tentang konflik tersebut, salah satunya adalah adegan ketika Paul dan anak buahnya, Gregoire (Tony Kgoroge) melewati jalanan yang sangat jelek. Namun bukan karena jalanannya bolong seperti kebanyakan jalanan di Bandung, tetapi karena mereka harus melindasi (iya, melindasi, karena ada banyak, bukan melindas !) kumpulan mayat Suku Tutsi yang berserakan di tengah jalan. Lalu bagaimana mental breakdown Paul setelah ia melihat tumpukan mayat sebanyak itu.

Oh iya, satu lagi, fakta yang paling menyeramkan dari film ini: film ini diambil dari kisah nyata Paul Rusesabagina dalam peristiwa Genosida Rwanda.

Produk Kolonialisme
Selain menceritakan kegilaan perang antar suku, film ini juga menceritakan bagaimana jahatnya kolonialisme yang tentunya sangat bertentangan dengan nilai-nilai perdamaian. Suku Hutu dan Tutsi awalnya tidak saling membenci. Mereka hidup damai. Hingga bangsa Belgia yang menjajah mereka, mulai melakukan pembedaan terhadap suku-suku yang hidup di sana. Tutsi yang dianggap lebih unggul oleh orang Belgia, karena lebih tinggi, berhidung mancung, dan berkulit lebih terang dijadikan para kaum ‘Priyayi’ yang mendukung kolonialisme Belgia, oleh mereka. Penindasan yang muncul sesama orang Rwanda ini lah yang kelak berujung kepada genosida Rwanda, karena setelah Belgia pergi meninggalkan Rwanda, malah orang-orang Hutu (kaum mayoritas) menguasai Rwanda.

hotel-rwanda_scene-600x370

Mungkin kita sebagai seorang Indonesia sudah sering dengar ketika SD: Divide et impera, atau politik adu domba. Ya, itulah yang terjadi dalam sejarah Rwanda. Itulah strategi yang digunakan oleh Bangsa Eropa dalam melakukan penjajahan di mana-mana. Dengan mempraktikkan strategi ini, para penjajah membuat gap yang sangat jauh di antara sesama pribumi, sehingga menimbulkan kebencian di antara sesamanya. Karena saling benci dan saling berperang, mereka tidak bisa bersatu, dan mudah untuk dikalahkan. Okelah, sebagai strategi ‘perang’, itu sangat baik. Jika kamu di posisi mereka, kamu juga akan berpikir demikian, dan mungkin akan melakukan hal yang sama.

Namun, jahatnya Divide et impera, bukan hanya di mana mereka mengalahkan lawan, tetapi apa yang muncul setelahnya. Mungkin para penjajah tidak berpikir sampai sejauh itu, sampai bangsa yang dijajahnya merdeka, mungkin inginnya mereka menjajah bangsa ini selamanya, namun, yang terjadi tidak demikian. Ketika penjajah berhasil diusir, maka fragmentasi dari divide et impera ini masih ada, dan berpotensi untuk membangkitkan kembali konflik fiksional antar sesama bangsa terjajah. Ini terjadi di Rwanda, apakah terjadi di Indonesia ? Pertanyaannya kami kembalikan kepada kalian, apa kalian pernah merasa ada rasa benci terhadap suku tertentu karena ‘katanya’ dan ‘konon’ ? Atau mungkin jangan benci,deh, ada rasa “ih males sama orang xxxx” karena ‘katanya’ dan ‘konon’ begini begitu ? Kalau iya, itu adalah contoh produk jahat kolonialisme.

Bagi kami, film Hotel Rwanda adalah film yang sangat wajib untuk ditonton untuk lebih mengetahui lagi tentang makna perdamaian, tentang makna kemanusiaan. Andai saja suku Hutu dan Tutsi melupakan masa lalunya, lalu hidup bertoleransi (seperti apa yang sudah diceritakan secara panjang lebar di editorial kita bulan ini), maka Genosida Rwanda tidak perlu terjadi. Salam perdamaian untuk kita semua, semoga selalu damai dalam berperilaku dan berpikir ! Malu dooonggg kalau sebagai warga kreatif kepalanya panasan ?

 

Judul: Hotel Rwanda

Sutradara: Terry George

Penulis Cerita: Keir Pearson, Terry George

Durasi : 121 menit

Genre: Drama

Pemeran: Don Cheadle, Sophie Okonedo, Nick Nolte

Genre: Drama

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *