Press "Enter" to skip to content

Hariz “A.F.F.E.N.”: Kalau Berkarya Jangan Pernah Mau Dibatasi

Sore hari santai setelah nyoblos, Rabu, 9 April. Saya mewawancarai Hariz Attamimi via LINE messenger sambil selonjoran. Vokalis, gitaris, sekaligus peulis lirik dari unit indie-rock A.F.F.E.N. ini bercerita kepada saya tentang banyak hal. Proyek akustiknya bersama Senandung Taman, pendapatnya tentang “sokongan” sponsor produk rokok dan minuman keras dalam festival musik, rasa penasarannya dengan suara gitar elektrik, dan perihal batasan dalam berkarya yang sangat menyebalkan bagi dirinya. Simak yuk. Yang tertulis tebal, itu pertanyaan dari saya, sementara yang tertulis dengan tanda petik dibawahnya, itu jawaban dari Hariz.

Riz, sehat? Lagi sibuk ngapain?

“Sehat, Ndo, alhamdulillaah. Belakangan ini lagi asyik sibuk sama proyek musik akustik namanya Senandung Taman.”

Nah, bisa diceritain langsung tentang si Sendandung Taman ini? Apa itu teh?

“Ya awalnya semuanya muncul karena emang lagi ditengah kekosongan jadwal dan ada beberapa persen kejenuhan. Senandung Taman itu grup musik bertiga, saya main gitar dan nyanyi, ada Dhea yang lead vocal, dibantu sama Elmo (lead guitarist dari A.F.F.E.N.) juga main gitar.”

Oh, grup baru lagi? Kok bisa terbentuk, Riz?

“Bodor sih, saya ketemu si Dhea waktu itu di UNPAD Jatinangor. Waktu itu Dhea jadi semacam Liaison Officer buat si A.F.F.E.N., terus lanjut kita ngobrol, eh suaranya unik gitu kalau nyanyi. Ya udah saya ajak bikin si Senandung Taman. Belakangan Elmo ikutan karena emang kayaknya ada yang kurang aja kalau cuma berdua.”

Kalau si Senandung taman ini emang diproyeksikan untuk jadi proyek serius? Untuk bikin rilisan misalnya? Apa cuma jadi sampingan belaka ditengah kosongnya jadwal si A.F.F.E.N.?

“Serius ih ini. Serius banget. Bagi saya mah ngga ada batasan dalam berkarya. Kalau di A.F.F.E.N. emang ada batasan bentuknya kaya pattern atau bentuk musik tertentu gitu. Nah, Senandung Taman ini ibaratnya kaya tempat saya buat pulang. Karena emang pribadi saya ternyata selalu jatuh cinta sama instrumen akustik. Jadi kaya nemu rumah nyaman gitu di Senandung Taman.”

 

Ditengah percakapan, saya teringat tentang desas-desus yang bermunculan tentang masa depan A.F.F.E.N.. A.F.F.E.N. adalah salah satu grup musik independen muda kota ini dengan perkembangan karir yang melesat tajam. Setidaknya itu menurut saya. Gatal rasanya jika tidak menanyakan tentang ini kepada sumbernya langsung. Sikat!

Oke, mantap. Sambil nanya sekalian ah, A.F.F.E.N. apa kabar? Kayaknya udah jarang manggung full-set ya?

“Hahaha. A.F.F.E.N. ada, Ndo. Lagi ada perbaikan semacam refresh ulang di segala macam hal. Intinya mah sedang sedang di tahap masuk bengkel dan di treatment  supaya bisa ngegas lagi.”

Menanggapi desas-desus underground (ciyee) yang bermunculan, beneran ada rombak formasi di A.F.F.E.N.?

“Rombak formasi ada. Karena emang ya namanya band, kepalanya banyak. Harus rutin nyamain lagi visi misi barengan. Klise sih, tapi ya demi kemajuan si organisasi nya emang harus ada yang dibenahi.”

Terakhir A.F.F.E.N. manggung di Witching Hours 4 seminggu lalu, itu kan yang main cuma bertiga, pada kemana itu teh?

“Iya waktu itu cuma ada saya main gitar sambil nyanyi, Ican (bass), dan Bre (drums) yang nampil. Yang lain sibuk sama kerjaan.. tapi emang disesuaikan juga sama venue dan demand dari penyelenggara acara juga buat tampil akustik minimalis gitu. Hehehe.”

Jadi, A.F.F.E.N. sekarang siapa aja?

“Hahaha keluar juga euy pertanyaan ini. Sekarang ada saya di vokal dan gitar, Elmo pada gitar dan backing vokal, Ican di bass, Bre di drum. Kita berempat sekarang. Dibantu juga sama Ebong di keyboard dan cello tapi kali ini sebagai additional player. Oh iya si Dhea Senandung Taman juga ikut jadi backing vocal.

 

Jengjengjengjeng! Terjawab juga kan akhirnya desas-desus tersebut. Badai yang sedang menerpa ini ternyata tidak menyurutkan tawaran manggung dan kerinduan para peni’mat musyik A.F.F.E.N. sendiri. Belakangan mereka masuk dalam 10 besar Jack Daniel’s  On Stage. Sebuah kompetisi musik yang diadakan oleh brand minuman keras ternama. Ya tau sendiri lah nama minuman nya apa.

Terakhir nih, Riz, kata kamu oke-oke aja nggak sih untuk ikutan di ajang musik yang “disokong” sponsor dari produk rokok atau minuman keras?

“Saya ngewakilin anak-anak yah, mikirnya sih sah-sah aja selama nggak ada intervensi yang jadinya ngerugiin si musisinya. Misalnya si personil harus ngerokok sekali hisap 10 batang, kan kasian juga. Hahaha. Sebetulnya sih miris ya kenapa yang concern dan konstan nyediain sumber dana untuk perkembangan seni musik sekarang teh merk-merk tersebut. Kenapa nggak pemerintah. Ya moga-moga cepat berangsur membaik deh.”

 

Saya pribadi mengenal Hariz sejak beberapa tahun lalu. Dan yang memang jelas terlihat dari dirinya adalah ambisi dan antusiasme nya dalam bermusik. Wajar jika pembatasan zona untuk berkarya menjadi hal yang sangat menyebalkan untuk do’i. Apapun yang terjadi berikutnya, semoga menyenangkan ya, Riz.

“Iya. Aamiin. Doain yah.”

Begitu tutupnya.

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *