Press "Enter" to skip to content

Griffin’s Holy Grove Kembali dengan Nuansa Progressive Rock yang Kental

Jujur, saya sering banget nonton pentas musik yang bandnya belum pernah saya dengar sebelumnya dan tepat pada waktu yang sama saya langsung jatuh hati. Iya, bener. Contohnya, ketika saya nonton band asal Bandung, Griffin’s Holy Grove disekitaran tahun 2011 silam. Banyak banget alasan kenapa saya bisa langsung suka, salah satunya karena permainan mereka yang gahar. Kalau kalian belum tau, dulu Griffin’s Holy Grove punya lagu yang megang banget. Di antaranya adalah Mati Terjepit Di Selangkangan Anjing dan Tempurung Iblis Tanduk Bulan Setan. Beuh, segan!

Nah, walaupun mereka jarang banget kedengaran beberapa tahun terakhir, akhirnya mereka come back lagi, guys! Kasih keprok dan selamat. Hehe. Sebenarnya, sih, saya udah curiga atas kembalinya mereka. Kecurigaan saya diperkuat dengan pentasnya mereka pada bulan Oktober ini dan nggak yakin kalau mereka kembali tanpa ngasih apa-apa. Eh, bener aja, pada hari Senin (26/10), Griffin’s Holy Grove baru aja ngerilis single terbaru mereka yang berjudul Hollow. Lagu tersebut menjadi suguhan pertama dari album perdana mereka yang bertajuk Mala dan direncanakan bakal rilis dekat-dekat ini dibawah naungan Sorge Records. Om Sorge, kasih tau, ya, kalau udah rilis.

Band yang beranggotakan Mas Joko Jodi Satriya (gitar, lead vokal), Ferdi Adriansyah (bass, backing vokal), dan Yusuf Zulkibri (drum) ini, merupakan band pengisi regular gigs yang diadakan oleh Sorge. Dari awal kemunculannya di tahun 2008, Griffin’s Holy Grove selalu tampil dengan musik cadas yang intens dan teknikal. Dalam lima tahun terakhir, Griffin’s Holy Grove secara perlahan mulai merubah kiblat musiknya. Mereka sedikit demi sedikit meninggal sound metal yang kental dengan mempertebal lantunan-lantunan progressive rock. Hal ini dibuktikan dengan single yang mereka rilis pada tahun 2012, Winter’s Calling.

Well, di tahun 2015 ini, Griffin’s Holy Grove kembali “nakal” dengan eksplorasi musiknya. Tradisi musik dengan durasi panjang, mereka lanjutkan di single Hollow. 7 menit 50 detik diisi dengan musik yang bukan gampangan. Tempo lambat-sedang, komposisi quietloud, twisting and turning, hingga ruang yang disisihkan untuk instrumental. Dari segi lirik, Hollow menceritakan tentang masyarakat pribumi yang terjepit sistem tuan tanah oleh penjajah pada masa Hindia Belanda. Tau tuan tanah nggak? Buka dulu buku sejarahnya. Hehe.

Overall, saya suka sama movement dari mereka, bikin warna baru di skena indie lokal. Yaudah, nikmatin aja dulu lagunya, ya. Silakan, mamam!

[soundcloud url=”https://api.soundcloud.com/tracks/230107755″ params=”color=ff5500&auto_play=false&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false” width=”100%” height=”166″ iframe=”true” /]

                                                                                 

Twitter : @GHGofficial

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *