Press "Enter" to skip to content

Geliat Street Artist Lokal dalam Gelaran “Street Scape”

Akhir tahun sebelum semarak kaleidoskop, resolusi-resolusian, dan transaksi petasan yang bakal penuhin visual harian, ada sebuah kolaborasi yang menarik untuk didatangi. Iya jadi pas Sabtu (16/11) kemarin, aku merasa dehidrasi akan sesuatu berbau seni. Edan. Aku dikasih tau sama feed Instagram, Bodypack lagi bikin semacam showcase. Kalau kamu ngikutin aktivitas mereka selain jualan, pasti tau dong sebegitu concern-nya Bodypack dalam ranah seni, dibuktikan dengan rutinnya event musik yang mereka garap. Tapi, kali ini lain. Giliran skena graffiti dan street artist yang dibuat mantap.

Kolaborasi antara Bodypack dan beberapa street artist lokal menyajikan pameran bertitel Street Scape, diselenggarakan di Gudang Selatan No. 22, Bandung. Baruan ada acara lagi, nih, ya di Gudang Selatan semenjak beresnya kontrak Spasial. Padahal tadinya mah aku mau sewa itu gedung buat dibikin lapang futsal. Tapi, apa boleh buat.

Ketika masuk melewati sederet store, sih, ya masih seperti biasanya aja. Terus dari Kozi belok kanan. Barulah terlihat instalasi lampu setinggi kurang lebih empat setengah meter yang menyala bergantian. Wedeh, ngahuleng bentar saking kerennya. Sambil fofotoan, sambil registrasi juga sebelum masuk. Ada beberapa instalasi karya yang dipajang mengelilingi venue.

Pas aku dateng, di area tengah lagi ada live bag painting persembahan dari Loudsonic, Addy Debil, Olderplus, dan Wormo, yang memanfaatkan tas sebagai medianya. Lampu meja fokus menyorot aktivitas mereka. Emang mantap, sih, ngeliat visual artist lokal ngejalanin proses ketika berkarya teh. Sayang banget, di sana nggak ada kompetisi time-trial atau ajang memasak yang dipandu Chef Juna. Jadi nggak ada yang bisa dikekeak hahaha.

Lanjut menuju ke arah belakang, terdapat lorong dengan instalasi pencahayaan. Apiknya lelightingan ini dikerjakan oleh UVisual dan Andre14k yang mungkin kamu pernah liat gambarnya di viaduct. Yang realis itu, lho, pasti kamu ngeh. Tiba-tiba terdistrak oleh free flow burger yang disediakan oleh rekan-rekan Parti Gastronomi. Eh, mengantri dong! Sambil antri, aku ngeliat sekeliling masih ada live painting dan pameran custom bags yang melibatkan 28 artist lokal. Nyaman sekali mengunyah sambil mengapresiasi karya seni. Oh iya, DJ E-One Cronik bertanggungjawab atas vibes street art yang tercipta lewat musik yang diputarnya. Saik!

Dari pengunjung biasa, kawan-kawan komunitas graffiti, sampai warlok turut hadir, baik dari dalam maupun luar Bandung. Bergumul dalam kumpulan besar maupun intim, sambil menenggak infused water yang disediakan, duduk nyantei di rerumputan. Seru parah. Apalagi denger-denger dari obrolan, aku jadi tau bahwa beberapa street artist perdana berkarya kembali setelah hiatus sesaat. Makin seneng dengernya padahal aku nggak berkontribusi apa-apa.

Setelah mulai jarang terdengarnya kegiatan di perskenaan street art, Street Scape membangun kembali silaturahmi dan reuni mereka tanpa jas almamater. Hal ini jadi dampak positif juga, sih, buat brand lokal melihat potensi warga Bandung, ruang yang cukup buat meramaikan lagi skena Bandung yang lagi hangat-hangatnya ini. Rangkaian Street Scape ditutup oleh Krowbar yang membawakan nomor-nomor berbahaya di album Swagto Nirojim. Lontar botol kristal ke muka rockstar!

Terima kasih, Bodypack. Aku jadi semangat beresin kuliah biar bisa visual-visualan tanpa mikirin sisa SKS yang harus diambil. Kamu mah liat-liat galeri foto aja ya di bawah ini. Ada keluarga Domba juga pada dateng. Baleg aku mah.