Press "Enter" to skip to content

Geliat Literasi Lokal di “Bandung Zine Fest 2016”

Setelah tiga tahun nggak digelar, akhirnya Bandung Zine Fest kembali memulai geliatnya di tahun 2016. Tentu memunculkan sebuah rasa penasaran tersendiri buat warga kreatif. Eh, emang pada penasaran gitu? Pasti penasaran lah nya? Saya yakin pisan kalau warga kreatif mah pasti punya rasa ingin tau yang tinggi banget. Nggak kayak si saya. Heu.

Kalau dilihat dari tenant yang ikut buka lapakan, jumlahnya memang cukup menjanjikan, ada sekitar 52 tenant yang datang dari berbagai penjuru daerah, salah satunya malah ada dari Kuala Lumpur. Tapi, buat saya, sih, Bandung Zine Fest 2016 terasa begitu seru karena banyak diisi oleh nama-nama baru. Jadi berasa semacam ada angin segar di ranah zine, khususnya, ya, di Kota Bandung. Weits, asa pengamat kieu. Punteun. Kegiatan yang digelar di Spasial yang letak persisnya ada di Jalan Gudang Selatan No.22, selain sebagai agenda dari kolektif muda-mudi zinemaker, ternyata kegiatan Bandung Zine Fest 2016 di hari Sabtu (27/8) kemarin juga dihelat sekaligus sebagai bentuk perayaan terhadap International Zine Month. Mantap, paman!

Nggak nyangka, ternyata antusias pengunjung yang cukup tinggi, berhasil bikin kondisi di Spasial makin pasedek-sedek dan membuat saya jadi patoel-toel dengan pengunjung lain. Tapi, malah hal itu yang membuat Bandung Zine Fest terasa begitu intim. Interaksi antara pengunjung yang datang dan teman-teman tenants pun terasa lebih leluasa, obrolannya pun nggak kaku kayak kamu pas pertama kali chat si doi. Eh, kumaha?

IMG_5864

Selain buka lapakan, tentu si kegiatan ini teh diselenggarakan sebagai platform bagi para pembuat media alternatif, local artist, distributor independen, serta penerbit independen untuk saling berkumpul, bertemu, sambil sharing ini-itu. Menariknya, di Bandung Zine Fest kali ini, ada sharing session barengan Didi Painsugar (Penahitam) dan Yuen KL (Shock&Awe!). Keduanya banyak bercerita tentang semangat awal mereka dalam membuat sebuah zine dan pengalaman naik-turun selama proses pembuatannya. “Awalnya, sih, pasti berawal dari ngerjain apa yang kita seneng, tapi ya, dikemas ke dalam bentuk zine dan bagaimana caranya supaya kita (Penahitam) bisa menjadikan si zine ini menjadi sebuah movement.” Ujar Mas Didi saat sesi talkshow.

Meskipun awalnya zine ini banyak dibuat oleh anak-anak DIY hardcore punk, tapi kalau melihat lapakan-lapakan kemarin, rasanya memang cukup beragam. Nggak melulu berisi soal musik atau sesenian. Tapi tetep, hampir semua zine-nya dibuat dalam bentuk hitam putih atau photo copy, biar tetep kelihatan DIY. Soalnya kalau zine nggak hitam putih atau foto copy teh, asa kurang “zine”. Kalau menurut kamu gimana, warga kreatif?

IMG_5870

Menurut saya, sih, dengan maraknya para zinemaker di Indonesia khususnya di Bandung, tentu akan semakin menambah warna unik, ya, khususnya dalam keberagaman media. Meh teu bosen. Dan sepakat apa kata Mas Didi, bahwa media kita teh bisa digunakan sebagai wadah ataupun movement untuk menyebarkan dan menuntut hal-hal yang jadi kegemaran dan keresahan masing-masing. Yang pasti, sih, media alternatif itu perlu ada sebagai penyeimbang, baik itu dalam bentuk cetak fisik maupun media elektronik.

Keberagaman media pun juga sempat disinggung oleh Yuen, “Tentu akan bagus jika teman-teman punya zine atau media sendiri, karena akan makin banyak hal baru yang bisa dibagikan. Sekalipun hanya menjadi kontributor, itu juga tetap bagus. Bahkan Shock&Awe! pun sangat terbuka untuk kamu yang ingin menyumbang konten, dari daerah mana pun kamu berasal”.

Selain ada sharing session dengan kedua sosok tadi, di BZF kemarin ada juga bincang buku “RSD’ 15 : Seberapa Besar Rp.500.000 Bisa Bicara di Records Store Day 2015” dengan Dokter Marto, tapi si penulis nggak dateng, huft. Lalu gelaran ini ditutup dengan lelang official merchandise yang bikin ngilerzzz. Seru sekali bisa tawaf dan jajan sembrono di Bandung zine Fest 2016. Bukan cuma sekadar menghabiskan uang, tapi teman-teman yang hadir juga bisa menambah kolega dan (mungkin) jadi punya semangat lebih untuk memajukan literasi lokal. Baik itu jadi pembuat media atau mungkin malah buka usaha printing biar bisa ngebantu para zinemaker. Hehehe. Sampai ketemu lagi di kegiatan selanjutnya ya! Maju terus literasi lokal!

Comments are closed.