Press "Enter" to skip to content

“Festival Arsitektur Parahyangan 2015”, Pesta Rakyat di Pinggir Kota

Pada Sabtu malam (6/6), lagi banyak acara banget di Bandung. Keliatannya, sih, gara-gara mau masuk bulan Ramadhan. Biasa lah, anak muda mikirin soal penutupan. Ehm. Daripada pusing berargumen sama si do’i buat pergi ke mana, akhirnya saya memutuskan buat dateng ke acara bikinan mahasiswa Arsitektur UNPAR yang bernama Festival Arsitektur Parahyangan 2015, Sharing in Between: Redefining Sidewalk. Keren euy, pake bahasa Inggris gitu.

Bertempat di Taman Film, gelarannya bertemakan tentang mengembalikan fungsi trotoar. Kan, sekarang kita sering liat, kalau trotoar bukan milik pejalan kaki lagi melainkan milik pengendara motor, pedagang kaki lima atau menjadi lahan parkir. Kesel sama yang kayak begitu. Tapi, orang-orang juga udah lumayan males jalan kaki, jadi mubazir.

Menurut poster yang tersebar di mana-mana, acaranya mulai jam 3 sore, tapi saya dateng sekitar jam 7 malam, dan langsung disambut sama penampilan Bara Suara. Suasana sekitar panggung emang penuh, tapi orang-orang pada duduk, jadi saya ikutan duduk aja dulu biar nggak dibilang antimainstream.

Baru pertama kali ya, nonton Bara Suara? Sama
Baru pertama kali ya, nonton Bara Suara? Sama

Saya berada di waktu yang tepat, selain mau nyaksiin pertama kali penampilan Bara Suara, saya emang berniat buat liat Pandai Besi yang kini ban kaptennya udah balik lagi ke tangan Cholil dan juga performance dari The Upstairs yang memang sudah lama sekali saya tunggu buat main di Bandung. Berdansa resah.

Saat The Upstairs tampil, semua orang berdiri, nggak ada yang duduk-duduk lagi. Venue langsung penuh sama berbagai kalangan masyarakat yang mengkuti irama, dari anak-anak muda kece sampai warga sekitar yang pengen bersenang-senang juga tentunya. Pokoknya seru, deh, atmosfer yang ditawarin kayak dateng ke pesta rakyat.

Nggak cuma musik aja yang ditampilin, di sela-sela acara, tersuguh pertunjukan theatrical dance dari Komunitas Jalan Kecil dan tari Saman dari Samanars. Mungkin biar nggak monoton. Ens banget pokoknya. Apalagi, dekorasi yang ditawarkan dari pintu masuk sampai tempat kumpul, dibikin sangat menarik. Berbentuk labirin yang di setiap belokan ada pameran kecilnya. Yang ditampilin di situ, semuanya dari rangkaian acara sebelumnya, salah satunya Sinemars 2015.

Pionir dansa resah
Pionir dansa resah

Walaupun semua bahagia, pas baru merapat, saya merasa kesal sedikit karena harus nungguin tukang parkir yang pusing ngurusin area sekitar yang macet dan juga nggak adanya papan petunjuk pintu masuk, jadi harus muter dulu. Selain itu, saya, si anu, dan yang lainnya merasa sangat terpuaskan. Sukses buat mahasiswa Arsitektur UNPAR, semoga acara berikutnya makin keren.

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *