Press "Enter" to skip to content

Earthlings (2005): Alternatif Lain Melihat Hubungan Hewan-Manusia

Manusia, hewan, dan tumbuhan. Itulah Earthlings. Earthlings, penghuni bumi. Kiranya itulah yang ingin disampaikan oleh Shaun Monson, sutradara dari film ini. Filmnya sendiri merupakan potongan-potongan dokumentasi dengan narasi dari Joaquin Phoenix dan musik dari MOBY. Iya, MOBY yang itu, tuh. Semuanya adalah vegan. Vegan sendiri adalah orang yang sama sekali tidak menggunakan produk hewani dalam hidupnya. Entah itu makanan, minuman, pakaian, hingga obat-obatan yang menggunakan hewan untuk uji cobanya. Bahkan produk makanan yang dihasilkan hewan seperti madu dan susu pun tidak mereka konsumsi.

Oke, film ini dimulai dari ‘justifikasi’ pandangan mereka tentang spesiesisme. Dulu, manusia sudah mengalami masa-masa di mana ada ketidakadilan dalam hubungan antar-ras. Kita mengenalnya dengan rasisme. Perbudakan, politik apartheid, perbedaan hak memilih dan dipilih adalah sebagian kecil dari rasisme tersebut. Dalam spesiesisme, ketika kita memakan atau menggunakan hewan dengan semena-mena, itu adalah tindakan yang melanggar etika.

Jadi, manusia dan hewan adalah setara. Memang, dalam ilmu pengetahuan biologi, manusia adalah hewan. Manusia adalah mamalia. Kita diklasifikasikan sebagai homo sapiens. Dalam ilmu tersebut, kita setara dengan felis familiaris atau kucing, dengan orcinus orca atau paus pembunuh, bahkan dengan periplaneta americana atau kecoak Amerika. Intinya, kita sama-sama makhluk hidup.

Dalam film ini diperlihatkan dokumentasi-dokumentasi yang merupakan actual footage dari rumah potong hewan, yang seringkali membunuh hewan dengan cara yang tidak ‘hewani’ (coba baca lagi editorial kita bulan ini, karena tidak mungkin disebut manusiawi), ada juga rumah potong hewan yang cara memotongnya tidak sesuai dengan standar kosher (halal-nya orang Yahudi, karena film ini dibuat Amerika, di mana banyak populasi Yahudi). Cara yang tidak ‘hewani’ menurut film ini adalah ketika dipelihara, banyak sekali hewan yang diperlakukan dengan semena-mena, ada yang ditendangi, dibentak, disetrum oleh tongkat listrik, dan lain-lain.  Bahkan ketika akan dipotong, ada hewan yang diputar-putar dulu di dalam sebuah mesin agar lebih mudah mendapatkan titik untuk memotongnya.

Selain itu, film ini juga mengkritisi dog breeding yang menyebabkan adanya overpopulasi anjing, di mana nantinya anjing itu harus dibunuhi dengan berbagai macam cara. Ada juga tentang hewan yang digunakan sebagai hiburan, seperti gajah sirkus dan banteng matador, yang tentunya sangat tidak ‘hewani’ dalam pandangan mereka. Selain itu ada lagi, tentang industri makanan laut. Di mana industri makanan laut tidak memperhatikan ketahanan biota laut yang mereka panen. Sehingga banyak hewan laut yang berkurang drastis jumlahnya akibat konsumsi manusia.

Industri fesyen pun tidak lepas dari pengamatan mereka. Baju-baju mahal yang dibuat dari kulit rubah, ternyata dibuat dengan cara yang sangat tidak hewani. Rubah liar ditangkap, diperlakukan dengan semena-mena, lalu dikuliti untuk diambil kulitnya. Sisanya ? Menjadi pakan rubah-rubah yang lain. Kejam memang.

Namun, di sisi lain, ada beberapa bagian di film ini yang membuat kita cenderung malah akan menjadi ‘jijik’ dengan perbuatan non-vegan. Mungkin, ini mungkin yah, karena efek psikologis yang ditimbulkan dengan betapa brutalnya adegan-adegan pemotongan yang ada. Saya menonton film ini ketika di sebelah saya teman saya membuka bungkusan nasi padang. Jujur, saat itu saya langsung eneg mencium bau rendang ketika ada adegan pemotongan sapi. Begitu graphic-nya film ini, apabila anda tidak memiliki pegangan yang kuat untuk menjustifikasi hobi anda memakan daging, bisa jadi begitu selesai menonton film ini, anda akan berhenti menjadi pemakan daging, dan mulai memakan sayur-sayuran saja.

Kekurangan film ini cuma satu: bakal membuat orang yang bukan vegan merasa mereka adalah orang paling jahat (terhadap hewan) di dunia. Padahal, baiknya tidak demikian. Namun yah, mungkin karena ini adalah film semacam propagana untuk Go Vegan, apa mau dikata? Film ini menyajikan pandangan baru tentang sikap manusia terhadap hewan, bagi saya itu menarik, namun karena saya masih pemakan daging, dan bagi saya, argumen-argumen dalam film ini agak bertentangan dengan argumen-argumen yang saya pegang dan percaya, saya beri 7 dari 10.

 

 

Sutradara: Shaun Monson

Narator: Joaquin Phoenix

Musik: Moby

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *