Press "Enter" to skip to content

“Dragon Ball Z: Resurrection F”, Ingatan Masa Kecil di Layar Lebar

Haiiiiiii kembali dengan saya MinBim, pengasuh rubrik review film yang sempat ‘menghilang’ untuk sesaat (beberapa bulan) dari ROI-Zine. Tenang saja, saya sudah kembali, dan siap menyajikan tulisan-tulisan yang me-review film-film yang ada di bioskop Indonesia. Untuk merayakan kembalinya saya dalam rubrik ini, maka saya akan me-review film Dragon Ball Z: Resurrection F. Temanya mirip, sih, sama-sama membangkitkan apa yang sempat mati. Okelah.

Awalnya saya sempat kaget film ini masuk di bioskop duasatu, biasanya ada di bioskop lain yang tiketnya kertas bon. Tapi ya mungkin, itu karena nama besar Dragon Ball, lah. Di manapun film ini muncul, asal di bioskop, pasti akan saya tonton. Jujur, walaupun bajakannya sudah merajalela, sayang sekali, lho, melewatkan film ini ketika tayang di bioskop. Filmnya seru abis!

Ceritanya dimulai dari anak buah Freeza (Ryuusei Nakao) yang bernama Sorbet (Shirou Saitou) dan Tagoma (Kazuya Nakai) yang datang ke bumi untuk mencari Dragon Ball. Tujuannya sederhana, membangkitkan lagi bos mereka, Freeza. Freeza sendiri telah tewas oleh Trunks (Takeshi Kusao) yang muncul dari masa depan (ada di komik dan animenya yang lama). Karena tewas dicincang-cincang, Sorbet ragu untuk langsung menghidupkan Freeza, karena itu ia menunggu pembuatan alat untuk mempersatukan cincangan Freeza selesai. Akhirnya, dengan bantuan Pilaf (Shigeru Chiba), Shou (Tesshou Genda), dan Mai (Eiko Yamada), Sorbet berhasil menghidupkan kembali Freeza. Bagi penggemar Dragon Ball seperti saya, saya agak terusik dengan alasan Sorbet yang menunda kebangkitan Freeza karena menunggu mesin yang dapat mempersatukan cincangan Freeza, padahal itu bisa dengan mudah dikabulkan oleh Shenlon/Dewa Naga (Ryuuzaburo Otomo), seperti yang dulu dilakukan terhadap Krilin (Mayumi Tanaka) yang mati di Planet Namec. Tapi, ya, sudahlah.

Freeza akhirnya bangkit, dan memutuskan untuk berlatih agar menjadi lebih kuat dan bisa membalaskan dendam kepada 2 manusia saiya super yang pernah membunuhnya, Trunks dan Son Goku (Masako Nozawa). Freeza mengakui bahwa dirinya berbakat dan kuat, namun dia nggak pernah berlatih, sehingga dia menjadi lebih lemah daripada Goku. Karena itulah dia berlatih untuk menjadi lebih kuat.

Sementara itu, di bumi, Goku dan Vegeta (Ryou Horikawa), dua petarung terkuat di bumi, sedang berlatih di alam lain bersama Whis (Masakazu Morikita), ahli bela diri yang mengajarkan Beerus (Kouichi Yamadera), dewa kehancuran di bumi, bagaimana cara bertarung. Konon, Whis adalah makhluk paling kuat di alam semesta. Sedangkan Piccolo (Toshio Furukawa), Son Gohan (Masako Nozawa), Ten Shin Han (Hikaru Midorikawa), dan para petarung Bumi lainnya seperti Krilin dan Kamesennin/Jin Kura Kura (Masaharu Satou) menjalani hidup yang damai, sehingga nggak banyak berlatih. Ini cukup menimbulkan masalah kelak.

Setelah bangkit dan berlatih, Freeza kembali datang ke bumi, dengan ratusan ribu anak buahnya. Tentunya ini masalah besar bagi para petarung dan pelindung bumi. Dengan dibantu Jaco (Natsuki Hanae), seorang polisi antargalaksi, mereka berhasil mengalahkan semua anak buah Freeza dengan cukup mudah. Masalah timbul ketika mereka harus berhadapan dengan Freeza sendiri yang sudah menjadi kuat. Gohan yang jarang berlatih nggak mampu menghadapi Freeza yang sudah berubah bentuk.

Nah! Di sinilah poin yang paling menarik dari film ini. Mungkin logikanya begini. Cell adalah lawan yang sangat kuat di Dragon Ball Z, tapi Gohan berhasil mengalahkannya. Sedangkan kekuatan Cell sendiri mungkin 3 kali kekuatan Freeza pada waktu itu. Tapi dalam film ini, Freeza berhasil menjadi lebih kuat dari Gohan, ini karena Freeza berlatih, sedangkan Gohan nggak.

Dalam kondisi yang gawat seperti itu, akhirnya Goku dan Vegeta berhasil kembali ke bumi untuk menghadapi Freeza. Film ini sendiri ber-setting setelah Goku mengalahkan Manusia Iblis Bhuu yang tentunya jauh lebih kuat daripada Freeza. Goku yang pada saat itu juga tentunya sudah jauh lebih kuat daripada Goku yang mengalahkan Freeza di Planet Namec. Namun, dengan logika Freeza adalah jenius yang berlatih, Freeza berhasil mengimbangi Goku. Pada awalnya. Namun di akhir pertarungan, Freeza yang berubah menjadi Golden Freeza, nggak mampu mengalahkan Goku yang sudah menjadi Manusia Saiya Super Legendaris (lebih kuat dari pada Manusia Saiya Super Tingkat 3). Tetapi tentunya, film ini nggak berhenti sampai situ saja. Dengan beberapa strategi yang mengejutkan, Freeza berhasil membalikkan keadaan. Kalau begitu, bagaimanakah nasib bumi? Silakan saksikan sendiri di film Dragon Ball Z: Resurrection F!

Secara keseluruhan, film ini berhasil membangkitkan nostalgia masa kecil saya yang senang sekali menonton Dragon Ball Z di televisi. Dengan kualitas animasi yang luar biasa, kamu-kamu akan dibuat ternganga ketika menyaksikan film ini di layar lebar. Percaya deh, nggak rugi!

 

Judul: (Dragon Ball Z: Resurrection F)

Sutradara: Tadayoshi Yamamuro

Produser: Norihiro Hayashida, Rioko Tomonaga

Musik: Norihito Sumitomo

Sinematografi: Yosuke Motoki

Bahasa: Jepang (subtitle Inggris dan Indonesia)

Waktu: 93 menit

Cast: Ryusei Nakao, Kazuya Nakai, Takeshi Kusao, Shigeru Chiba, Tesshou Genda, Eiko Yamada, Mayumi Tanaka, Masako Nozawa, Ryou Horikawa, Masakazu Morikita, Toshio Furukawa, Hikaru Midorikawa, Masaharu Satou, Ryuuzaburo Otomo, Kouichi Yamadera

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *