Press "Enter" to skip to content

Doraemon Stand by Me (2014): Selamat Datang Masa Kecil!

Oke oke, everybody calm down. Film animasi yang paling dinanti sepanjang tahun ini akhirnya rilis, Rabu (10/12). Rasanya nggak ada orang yang nggak tau dongeng robot kucing biru ini. Memang sejak trailer film ini dirilis dengan jargon “bagi anda yang mempunyai masa kecil” semua orang, apalagi lagi anak-anak generasi 80-an, 90-an dan 2000-an jadi larut dalam euforia nostalgia. Tanpa basa-basi busuk lagi mari kita mulai review film ini, yuk ah cuss~

Film yang menandai perayaan 35 tahun Doraemon ini dimulai dengan pengenalan Nobita si anak SD pemalas yang selalu bernasib sial. Ternyata perilaku Nobita ini dipantau oleh Sewashi Nobi, cucu Nobita di masa depan dan tentunya Doraemon. Sewashi yang prihatin terhadap kelakuan kakek buyutnya menugaskan Doraemon untuk menemani Nobita sampai menjadi orang yang lebih baik. Bukannya apa-apa, Nobita dimasa itu memegang penuh masa depan dirinya dan semua orang di sekelilingnya.

Sewashi khawatir jika Nobita nggak berubah menjadi pribadi yang lebih baik, dia nggak akan pernah eksis di masa depan. Dimulailah petualangan Doraemon menemani dan membantu Nobita disetiap masalah yang dia hadapi. Kita akan disuguhkan gadget-gadget canggih Doraemon yang paling terkenal. Mau apa? Baling-baling bambu? Ada, Pintu ke mana saja? Ada, lorong waktu? Ada banget! Pokoknya kalian yang punya masa kecil pasti akan ngeluarin emot :”) deh sepanjang film.

Masih inget kemarin saya bikin artikel tentang kenapa film animasi Jepang itu payah? Khusus buat film saya telan kembali ludah saya. Animasi film ini digarap dengan super duper serius (kayanya mereka baca artikel yang saya tulis haha). Kita nggak usah ragu lagi dengan kualitas animasi Jepang yang super detil dan fluid seperti animasi Final Fantasy VII: Advent Children atau seperti yang paling terakhir, Saint Seiya: Legend of Sanctuary. Tapi animasi di film ini benar-benar mendobrak semua itu. Seumur hidup saya membaca komik Doraemon, belum pernah, tuh, saya merasa gemas pada Doraemon atau Shizuka. Tapi karena penggarapan animasi film ini begitu indah, animasinya begitu detil tapi tetap terasa “kartun”-nya, begitu serius tapi kental sekali terasa lawak khas Jepangnya. Story telling-nya pun bikin kalian gemas sekaligus amazed, terharu sekaligus ngakak, ngerti nggak. sih? Nonton geura ih biar ngerti perasaan ini.

On the other note, (SPOILER ALERT) drama yang jadi jualan utama pada trailer terdahulu film ini terbukti hanya sekedar bualan manis tukang dagang. Memang ada beberapa cirambay moment di tengah-tengah cerita, tapi kayaknya mereka belum tega untuk bikin konklusi cerita yang tidak populer. Tak apa, tadi satu studio semua ngakak dan terharu pada saat yang bersamaan, sebuah atmosfer yang langka saat menonton film. Satu sih yang menarik, waktu kecil dulu, kalau baca komik atau nonton cerita-cerita pop kultur Jepang kita cuma terbatas sebagai penikmat.

Tapi sekarang, kita bisa relate betul ‘pesan’ yang mereka ingin sampaikan pada kehidupan kita. Bagaimana kelakuan sembrono Nobita yang terjadi juga saat kita kecil, kena bully Giant, cinta monyet dengan Shizuka sampai cengeng selalu minta tolong Doraemon, terasa sekali pesannya. Dengan demikian, sekarang kita bisa tahu betul effort yang dilakukan untuk membuat cerita yang lucu, seru dan menarik tapi sekaligus memberikan pesan moral yang cukup berat lewat cara yang subtle. Dengan segala puja puji dan beberapa catatan yang sudah saya sebut, beginilah film Jepang seharusnya dibuat dan saya berani menyebut bahwa film ini adalah benchmark baru film animasi Jepang.

 

Sutradara : Ryuichi Yagi, Takashi Yamazaki

Penulis naskah : Fujiko F. Fujio, Takashi Yamazaki

Durasi : 95 Menit

Genre : Animasi, Komedi, Drama

Voice Actor : Megumi Oohara, Wasabi Mizuta, Yumi Kazaku

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *