Press "Enter" to skip to content

Diskusi Tanpa Ruang dan Batas di Peluncuran “Setelah Boombox Usai Menyalak”

Lewat jejaring sosial media Twitter, saya sempet tahu kalau salah satu pentolan Homicide bakal menelurkan sebuah buku. Tentu saya penasaran. Soalnya bisi wacana hungkul tea ningan. Hehehe. Tapi ternyata bukan wacana belaka, Herry Sutresna atau akrab dikenal dengan Ucok Homicide kembali menyeruak di permukaan dengan sebuah karya tulisnya yang berjudul Setelah Boombox Usai Menyalak. Oh, iya, proses penerbitan buku ini dilakukan bersama dengan Elevation Books. Jadi, Elevation Books ini adalah lini teranyar milik label rekaman Elevation Records (Jakarta).

Karena penasaran dan ingin tahu soal ini-itu, akhirnya hari Minggu (7/8) kemarin, saya langsung merapat ke perilisan dan bincang buku Setelah Boombox Usai Menyalak di Kineruku, tepatnya di Jalan Hegarmanah No.52. Sesampainya di Kineruku, parkiran kendaraan sudah terbaris rapi dan terlihat beberapa muda-mudi nangkring di teras. Ternyata itu akibat di dalam sudah cukup penuh, terus karena saya juga datengnya telat, jadi weh teu kabagean tempat calik. Selain Herry ‘Ucok’ Sutresna, ada juga Philip J. Vermonte (CSIS, Jakarta Beat) dan Taufiq Rahman (Elevation Recs & Books) yang turut andil sebagai pembicara di kegiatan diskusi buku siang itu.

IMG_5344 - Copy

Sama seperti kegiatan diskusi yang dilakukan di s.14, proses diskusi dibuat tanpa ruang dan batas antara pembicara dengan yang hadir. Diskusi mengenai bukunya memang nggak banyak, hanya diutarakan di awal-awal diskusi, sisanya, sih, banyak membahas soal sejarah Homicide dan kawan-kawan, tentang bagaimana Ucok membuat sebuah lirik dan perkembangan musik protes di Indonesia. Di sela-sela diskusi, sesekali Ucok berguyon dan disambut oleh Aszy dan beberapa kawan Ucok yang hadir di kegiatan tersebut. Seru, jadi nggak kaku geuning. Apalagi dengan adem-ademnya taman Kineruku ditambah ada jamuan-jamuan ringan beserta cikopi hideung. Jos pisan.

Menurut penuturan Ucok, isi dari buku ini adalah kumpulan tulisannya yang telah dimuat di beberapa media, dan blog pribadi, tapi ada juga beberapa tulisan lama yang belum pernah diterbitkan dan yang diperbarui sesuai perkembangan terkini, baik itu suasana politik dan perkembangan di kancah musik. Menariknya, sih, meski bahasan di sesi diskusi kemarin dirasa kurang “galak”, tapi cukup seru melihat seorang Ucok memadukan bahasan antara ikatan erat sebuah pertemanan dengan musik dan politik. Sugan teh teu antik. Hehehe. Teu.

IMG_5346-1024x710

Sesi diskusi buku pun ditutup dengan sebuah seremonial do’a dan dilanjut dengan sesi paraf buku bagi yang punya. Jadi kayak habis tarawehan pokoknya mah. Dari beberapa penuturan di sesi diskusi kemarin, saya jadi pengen tahu lebih banyak tentang sudut pandang seorang Ucok melihat problematika politik, musik, serta sisi lain Ucok lewat buku Setelah Boombox Usai Menyalak.

Nah, kalau warga kreatif sekalian juga penasaran, buku Setelah Boombox Usai Menyalak bisa kamu dapetin di Kineruku dan Omuniuum dengan kocek sebesar Rp70.000. Sok atuh, rada dikeruk-keruk dulu dompet sama tabungannya biar bisa lebih mendalami dan dibikin mikir sama buku dari Herry ‘Ucok’ Sutresna.

Comments are closed.