Press "Enter" to skip to content

Dawn of the Planet of the Apes: Kembali Ke Konflik Klasik

Mungkin banyak kamu-kamu yang ragu menonton film ini karena belum menonton film sebelumnya; Rise of the Planet of the Apes (2011). Jangan ragu, saya juga awalnya begitu. Tetapi, setelah  menonton, keraguan itu sirna. Iya, kamu nggak perlu menonton prequel dari film ini, apalagi prequel dari zaman jebotnya yang ada banyak banget. Jujur, sih, saya juga baru menonton prequel-nya setelah menonton yang ini. Jujur, bukan karena penasaran sama storyline-nya, tapi karena film ini memang keren.

Awalnya, diceritakan kalau bumi sudah porak-poranda karena manusia mulai punah ketika mereka diserang oleh Simian Flu (flu monyet, RED), yang muncul akibat mutasi gen dari monyet-monyet pintar ini. Dalam keadaan yang berbau post-apocalyptic, monyet-monyet pintar yang sudah hidup berkelompok, bertemu dengan manusia-manusia para survivor dari Simian Flu itu.

Konflik awal terjadi ketika Carver (Kirk Acevedo)  seorang manusia, panik melihat monyet yang menunjukkan gestur offensive, lalu secara insting menembak salah satu dari monyet itu. Lalu sang pemimpin monyet, Caesar, tiba-tiba berbicara menyuruh para manusia tersebut untuk pergi dan nggak balik lagi ke wilayahnya

Sialnya, para manusia ini mau nggak mau harus mendatangi lagi wilayah monyet-monyet, karena monyet-monyet tersebut menduduki tempat yang dulunya adalah pembangkit listrik tenaga air, yang sangat dibutuhkan untuk menyalakan listrik demi mengadakan kontak dengan para survivor lainnya. Singkat cerita, setelah tokoh utama kita, Malcolm (Jason Clarke), berdiplomasi dengan para monyet, para monyet ini setuju untuk membantu. Namun, ada seekor monyet yang nggak setuju, karena pada dasarnya ia membenci manusia. Ia adalah Koba,  seorang monyet percobaan yang menaruh dendam pada manusia. Setelah Koba berhasil ‘meliciki’ Caesar, ia berhasil mengkudeta posisi Caesar sebagai pemimpin, dan mulai menyerang para manusia.

Nggak Ada Kawan Abadi

Yang seru dari film ini, bagaimana konflik yang terjadi antara kera dan manusia adalah  kisah klasik dari sejarah manusia. Mungkin banyak yang nggak sadar, tetapi dalam film ini, perang pecah setelah satu peluru menembus dada seorang Caesar yang notabene adalah pemimpin para kera. Terdengar seperti kisah Gavrillo Principe dan Franz Ferdinand di Perang Dunia Pertama?

Selain itu, konflik juga terjadi karena membawa “atas nama ras”, kalau dalam hal ini “atas nama spesies”. Ya, hubungan konfliktual antar-ras berhasil dibawa ke ranah hubungan konfliktual antar-spesies. Ini unik, karena pada dasarnya, nggak mungkin terjadi di dunia nyata, karena tentunya monyet nggak bisa berpikir sejauh itu. Namun, hubungan konfliktual seperti ini adalah hubungan konfliktual klasik. Di mana perang diawali oleh perbedaan.

Dalam political realism, konflik terjadi karena adanya perbedaan kepentingan di antara dua pihak. Sedangkan kerjasama terjadi karena ada kesamaan kepentingan di antara kedua pihak. Mengutip Bapak Winston Churchill, “There are no eternal friends or eternal enemiesonly eternal interests”. Semua terjadi di film ini. Nggak ada kawan yang abadi, manusia dan kera sempat bekerjasama, namun akhirnya berkonflik lagi. Juga nggak ada musuh yang abadi, manusia dan monyet sempat berhenti berperang, lalu bekerjasama. Namun ada satu yang nggak berubah, kepentingan untuk sama-sama mempertahankan hidup spesiesnya. Adeuh samaan.

Bagi saya, ini sangatlah menarik. Karena kejadian-kejadian dalam film ini mengingatkan saya pada konflik-konflik yang terjadi sepanjang sejarah manusia. Bagaimana perbedaan kepentingan menjadi sumber masalah, juga bagaimana sebuah peluru menjadi trigger untuk perubahan sejarah.

Representasi Perasaan Binatang

Oh iya, ada satu poin lagi yang menarik dari jalan cerita film ini. Bisa disebut “what-if? Moment kali, ya? Jalan cerita ini semacam menggambarkan bagaimana jika binatang bisa berbicara, berpikir, layaknya secerdas manusia? Jawabannya bisa dilihat dalam film ini. Kebencian Koba terhadap manusia adalah produk dari perbuatan manusia terhadap Koba sendiri yang semena-mena. Koba ini bisa jadi semacam representasi dari binatang-binatang yang dibunuhi kawan-kawannya, atau dijadikan kelinci percobaan.

Jadi, terbayang, kan, kalau hewan bisa berpikir secerdas manusia? Mungkin nantinya ada Dawn of the Planet of the Elephants, yang si ‘Koba’-nya adalah gajah yang gadingnya diambil para pemburu. Nggak terbayang bagaimana epic-nya komplotan gajah menyerbu para survivor di markasnya.

Satu hal terakhir yang menggugah perhatian saya dalam film ini, yaitu tentang Scoring-nya. Scoring film ini sangatlah menarik, ada nuansa-nuansa etnis yang muncul. Saya tahu ini brengsek, karena semacam mengasosiasikan nuansa etnis di Afrika, dengan kehidupan para monyet, tetapi ya begitulah konstruksi yang ada. Tapi, ya, mungkin itu karena di Afrika masih banyak hutan, jadi nuansanya memang cociks. Kalau mau dipertanyakan kembali, ya, silakan, selamat menderita brain itch.

Terakhir dan agak penting, di akhir film ini kedua pihak akhirnya saling berpamitan dan bersiap-siap untuk berperang menghadapi satu sama lain. Entah apa yang akan terjadi di film berikutnya, yang pasti akan sangat epic, dan wajib ditunggu, mengingat prequel lama dari serial ini berada di planet lain, dan monyet-monyet ini adalah para astronot!

 

Judul : Dawn of the Planet of the Apes

Sutradara: Matt Reeves

Penulis Cerita: Mark Bomback, Rick Jaffa, Amanda Silver

Durasi: 130 menit

Genre: Fantasy, Action, Soft Sci-Fi

Pemeran: Jason Clarke, Gary Oldman, Keri Russel, Kodi Smit-Mcphee

 

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *