Press "Enter" to skip to content

Dari Manga Sampai Gadget, Ada di Pameran “CRYPTOBIOSIS”

Berawal dari penemuan tim arkeolog Australia yang menemukan lukisan goa tertua di dunia, tepat di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Lukisan cap tangan manusia dan hewan ini menjadi inspirasi bagi para seniman, dalam pengertian bahwa sesuatu yang tersembunyi dalam tiap-tiap karya diberikan kehidupan baru dan akan terus hidup melalui empati. Edan yah, berat bahasanya.

Pameran ini merupakan kerja sama antara Badan Urusan Kebudayaan dan Pemerintah Jepang untuk menyelenggarakan pameran CRYPTOBIOSIS: Seeds of the World, pameran khusus dari The Japan Media Arts Festival. Pameran ini adalah hasil karya pemenang penghargaan The Japan Media Arts Festival yang diselenggarakan setiap tahun sejak 1997.

Apaan, sih, The Japan Media Arts Festival? Sebuah festival seni media komprehensif yang menghargai karya-karya istimewa dalam beragam media, dari animasi dan komik hingga seni media dan games. Pameran ini menyebar luas di luar negera Jepang, maka pemeran ini juga merupakan ajang promosi penciptaan, pengembangan dan pemahaman, kesadaran, apresiasi seni media. Bisa ae…

Que voz feio
Que voz feio.

Di dalam pameran CRYPTOBIOSIS ini nggak semuanya seniman dari Jepang, kok. Dari tuan rumah pun juga ada, Bagus Pandega dengan karyanya berjudul Listening to The Silence. Pameran ini dibagi ke dalam 3 kategori, ada memories and latent capabilities evoked yaitu salah satunya “Que voz feio (plain voices)” oleh Yamamoto Yoshihiro, karya yang menampilkan 2 orang kembar yang berbeda tempat namun keduanya saling menceritakan kejadian yang sama semasa kecilnya. Karya tersebut berhasil memenangkan kategori Art Division Grand Prize of the 15th Japan Media Arts Festival untuk video installation tahun 2011. Salut, Mak!

Untuk kategori lain seperti Backwar-flowing technology dan Nature, Archives, and big data as an artistic release juga mendapat apresiasi yang tinggi oleh warga kreatif Bandung, khususnya. Pengaplikasian dari media elektronik yang modern menjadikan satu karya yang menarik dari Jepang memang patut dicontoh oleh seniman Indonesia, lah!

The SKOR Codex, dari perancis.
“The SKOR Codex” dari Perancis.

Nah, buat kamu warga kreatif yang ingin memperdalam sense seninya, bisa langsung main aja ke Ruang B dan Ruang Sayap Selasar Sunaryo Art Space. Pameran ini berlangsung sampai tanggal 15 Februari 2015 nanti. Masih lama! Nih, dikasih list event selanjutnya, biar nggak ketinggalan.

 

Pemutaran Film

Animated Short Program 2014 dan The Q of Moving Image | Minggu (1/2), pukul 13:00-16:00 | Bale Handap

Beyond the Technology dan Portrait of Japanese Animation | Sabtu (7/2), pukul 13:00-16:00 | Bale Handap

JAPAN POP ENERGY | Minggu (8/2), pukul 13:00 | Bale Handap, SSAS

Beautiful Drawing – Drawing’s Endless Allure | Minggu (15/2), pukul 13:00 | Bale Handap

 

Lokakarya

“Between Sense & Senseless: Drawing Workshop with Man and Machine” | bersama Yamaguchi Takahiro

Minggu (15/2), pukul 16:00 | Ruang Sayap

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *