Press "Enter" to skip to content

Curhatan Ibu Pertiwi Tentang Cucu-cucunya

Kali ini saya mendapatkan tugas untuk mewawancarai seorang nenek, nenek yang sudah tua. Usianya 69 tahun. Namanya Ibu Pertiwi. Saya menemui beliau di sebuah panti jompo yang bernama Negeri Bawah Angin. Di sana, ia tinggal bersama 9 orang rekannya sesama jompo. Tetapi, saya hanya diberitahukan beberapa di antaranya saja, ada Ibu Merli, Ibu Maria Clara, dan Ibu Neang Neak. Sedangkan 6 orang yang lainnya sedang diam dan asyik sendiri, lebih baik nggak saya ganggu.

Ibu Pertiwi sendiri ketika saya datang, nampaknya sedang bertengkar dengan salah satu penghuni panti itu. Namanya saya nggak tahu, tapi Ibu Pertiwi memanggil dia Lay-Lay. Mereka saling berteriak, namun nggak ada saling pukul. Ya maklum mungkin, ya, namanya ibu-ibu lagi berantem. Ketika Ibu Pertiwi melihat saya, ia lalu mengusir Ibu Lay-Lay ini. “Pergi sana! Mau kamu aku ganyang!? Ini cucuku datang!”. Wah saya agak tertegun juga, nih, disebut cucu sama nenek yang masih terlihat kokoh, walaupun bajunya agak berantakan. Lalu, ya, saya mulai saja wawancara dengan beliau.

Saya (S): Perkenalkan Nek, saya Bima, dari ROI. Nenek sehat?
Ibu Pertiwi (IP): Iya, saya tahu kamu Bima, masa saya lupa sama cucu sendiri? Saya sehat-sehat saja. Oh iya, jangan panggil saya nenek, panggil saja Ibu.
S: Oh iya, maaf Nek, eh Bu. Bu, sekarang Ibu sedang berulang tahun yang ke-69, ya? Bisa diceritakan, Bu? Cerita-cerita ibu semasa muda gitu.
IP: Iya, saya lahir di Jakarta 69 Tahun yang lalu. Pukul 10 pagi. Dokter saya ada 2 orang, namanya Dokter Karno dan Dokter Hatta.

Dokter Soekarno dan Dokter Hatta.
Dokter Karno dan Dokter Hatta.

S: Wah ibu, atuh kejauhan kalau sampai cerita dokter pas lahiran?
IP: Kamu tanya sejarah saya, kan?
S: Eh iya, Ibu, maaf.
IP: Nah, dokter saya itu, ya, orang berdua tadi. Beliau-beliau itu orang hebat. Tapi kadang-kadang, kalian, cucu-cucu saya, suka lupa kalau selain dokter-doker tadi, ada juga orang lain yang ikut membantu persiapan kelahiran saya. Seperti bapak Melik yang mensterilkan alat-alat operasi, juga ada dokter dari Jepang, Dokter Maeda, yang menyediakan ruang operasi untuk operasi caesar saya.
S: Hmm, maaf Bu, Ibu lahir caesar gitu?
IP: Iya, saya lahir di caesar. Sebenarnya Dokter Karno sebagai kepala tim operasi, inginnya saya lahir normal, tapi ada kelompok dokter-dokter baru, dengan ilmu kedokteran yang lebih mumpuni, berpendapat saya lebih baik lahir di caesar, karena mengancam kesehatan ibu saya.

S: Oh begitu. Bisa saya tahu penyakit apa yang mengancam kesehatan ibu dari Ibu?
IP: Saya nggak bisa bilang, tapi yang pasti, ibu saya sudah mengandung terlalu lama. 350 tahun.

S: Oh iya, pasti nggak enak, ya. Lalu bagaimana lagi ceritanya, Bu?
IP: Ya, lalu saya tumbuh besar diasuh oleh dua dokter tadi. Ada juga mantri-mantri lain sebagai pembantu mereka. Awal-awal masa kelahiran saya, itu masa sulit. Keadaan kacau karena habis perang. Jadi, ya, mereka mati-matian melindungi saya. Saya nggak mau bercerita awal kehidupan saya, karena penuh darah dan air mata. Saya ceritakan saja kisah kehebatan Pak Karno pada tahun 60-an. Waktu itu, saya pernah ribut dengan teman saya yang tadi, si Lay-Lay, itu gara-gara si Lay-Lay terus diajak nakal sama orang yang namanya Pak Bull. Dia orang Eropa. John Bull namanya. Pokoknya, si Lay-Lay ini diajak nggak benar lah.

S: Lalu bagaimana Pak Karno membela Ibu?
IP: Ya, Pak Karno mengajak anak-anak saya bersatu, untuk sama-sama ganyang si Lay-Lay.

S: Wah, berani juga, ya, Pak Karno, padahal sama orang bule. Orang bule, kan, biasanya lebih wah gitu, ya?
IP: Begitulah Nak.

Yang katanya penerus bangsa sedang bertengkar.
Cucunya Ibu Pertiwi sedang bertengkar.

S: Lalu, bagaimana menurut Ibu, cucu-cucu Ibu sekarang? Ada yang sehebat Pak Karno?
IP: Saya rasa nggak. Kamu bisa lihat sendiri lah. Cucu saya yang lebih tua dari kamu, sekarang setiap hari bertengkar di apa itu, kaca yang ada gambarnya?

S: Televisi, Bu?
IP: Bukan, itu apa, ti… Apa?

S: TV? Iya Bu, TV teh televisi.
IP: Kamu menggurui saya?

S: Nggak Bu, maaf. Silakan diteruskan.
IP: Iya, itu memalukan lah. Mereka berlomba-lomba ingin menjadi pengasuh saya. Padahal saya ini orang yang merepotkan, lho. Banyak maunya. Kamu tau sendiri lah. Kamu sendiri mau jadi pengurus saya?

S: Eh, ya, mungkin Bu. Nanti Ibu saya kasih perhatian yang istimewa deh, Bu.
IP: Gombal kamu. Sama aja kayak yang berantem di TV itu. Jujur, saya sedih melihatnya. Ah, selain itu, banyak juga cucu saya yang berantem hanya karena mereka memilih jalan yang berbeda. Jujur, saya sedih, mereka saling hina, saling ejek, padahal mereka lahir dari nenek yang sama. Memiliki darah yang sama, darah saya.

*di sini, si Ibu mulai menangis*

Beginilah nangisnya Ibu Pertiwi.
Beginilah nangisnya Ibu Pertiwi.

S: Bu, jangan nangis atuh, jangan sedih, nanti saya ngebodor biar Ibu nggak sedih.
IP: Saya nangis bukan karena sedih, ya. Saya nangis karena saya kesal. Kenapa cucu-cucu saya sebodoh ini, sih? Apa salah saya? Saya sudah menerapkan aturan yang jelas di rumah. Apapun yang terjadi, kalian tetap satu. Seperti film apa itu, film Tiongkok yang ada si botak gendut, siapa? Boboho.

S: Waduh, film apa, ya?
IP: Itu, yang ada 10 bersaudara.

S: Oh, Ten Brothers?
IP: Iya, itu. Coba kamu lihat film itu. Cucu-cucu saya juga harus lihat. 10 orang berbeda, tapi bersatu untuk satu tujuan. Seperti apa yang selalu saya teriakkan. Bhinneka Tunggal Ika. Walaupun berbeda, tetap satu jua!

S: Wah, Ibu berapi-api seperti itu saya jadi terkesima, Bu.
IP: Kamu kerja di media, kan? Sampaikan pesan ibu yang barusan!

S: Iya Bu, siap.
IP: Saya sekarang sudah capek. Mau istirahat. Kamu mau langsung pulang atau bagaimana?

S: Wah Bu, sebenarnya saya masih ingin tanya-tanya lagi, tapi kalau ibu mau istirahat, silakan, saya pulang saja.
IP: Ada ongkosnya?

S: Ada Bu, gampang. Makasih ya Ibu, selamat istirahat. Selamat ulang tahun juga, dirgahayu. Semoga panjang umur, dan cucu-cucunya cepat cageur, ya, Bu. Salam sama penghuni panti lainnya.
IP: Iya. Kamu hati-hati di jalan.

S: Iya Bu.
Saya akhirnya pergi meninggalkan panti. Sekali lagi, selamat ulang tahun, ya, Ibu Pertiwi. Satu do’a saya. Jangan menangis, Ibu Pertiwi. Tetap kuat, tetap jaya, kita bisa!

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *