Press "Enter" to skip to content

Cerita Danger Ranger Setelah Menelan “Pil Pahit” Major Label

Medio 2010, kalau saya nggak salah ingat. Band ini jadi pembicaraan adik-adik. Sebuah mini album berjudul Party Animal (2010) membawa unit pop-rock ini jadi raja pensi. Seenggaknya, pada masanya, anak SMA Bandung mana yang nggak tau salah satu finalis ajang pencarian band indie terkeren pada masanya itu. Maka, haram hukumnya kalau nggak memboyong mereka jadi line-up pensi sekolah. Cie.

Nggak lama setelah itu, saya mendengar kabar kalau mereka “hijrah” ke Jakarta. Salah satu major label kepincut sama potensi yang mereka punya. Buat saya, sih, ini jadi firasat buruk. Awalnya mungkin “manis”. Kuartet ini muncul di layar kaca. Salah satu program kartun bahkan menjadikan Hidupkan Mimpi jadi OST. Cie lagi deh.

Bener, manisnya sebentar. Kalau ada mitos yang bilang major label itu kejam, dialami sendiri oleh Aldy (bass/vokal), Iing (gitar/vokal), Wahdan (gitar) dan Fajar (drum). “Kita ‘ngambang’. Label waktu itu kayak menghambat. Mau rilis single, dilama-lamain, mau rilis album mereka nggak menyanggupi,” kata Iing.

Dipungkiri atau nggak, kondisi itu yang punya pengaruh besar ke proses kreatif Danger Ranger. “Tertekan banget kita nge-band kayak gitu,” lanjutnya. Pelan-pelan, grafik Danger Ranger mulai menurun, seenggaknya keliatan dari jadwal off-air mereka yang makin lama makin jarang. Produktivitas juga menurun. Butuh waktu lama untuk Danger Ranger merilis materi baru setelah Party Animal.

Mesin Waktu

Pada titik itu, kata Aldy, Danger Ranger merasa butuh sesuatu yang baru untuk nemuin lagi gairah bermusik. Satu keputusan besar diambil. Ya, Danger Ranger kembali ke “habitat”-nya. Kerja sama dengan major label pun diputus. Toh awalnya kita nge-band dari nol, DIY (Do It Yourself, RED) bisa jalan, kok,” kata Iing.

Kalau ada yang ingat Mesin Waktu, sebuah single yang dirilis Danger Ranger tahun 2013, di sanalah mereka menggambarkan fase yang dialami. “Itu (Mesin Waktu, RED) kayak menggambarkan cerita Danger Ranger selama setahun ke belakang,” ungkap Wahdan. Tersirat, kalau pengalaman di major label cukup jadi pukulan telak buat mereka. Kalau saya boleh menyimpulkan maksudnya DR, mereka butuh “mesin waktu” untuk memperbaiki masa lalu, atau ya lebih tepatnya untuk mengembalikan masa jayanya.

Mesin Waktu bukan sekadar lips service. Bukan juga sekadar lagu berisi curhat terselubung. Ada keinginan kuat di lagu itu. Gairah bermusik yang disebut Aldy, pelan-pelan muncul lagi. Produktivitas atau mmm… tepatnya konsistensi bermusik mulai dibangun (lagi). Nggak butuh waktu lama untuk DR merilis single baru menyusul Mesin Waktu.

Iya, Tetaplah Bersinar. Sebuah lagu yang menggambarkan fase selanjutnya dari Danger Ranger. Ada harapan, semangat, dan strategi baru yang dimunculkan Danger Ranger. Seperti apa? Temukan jawabannya di ROI Session episode 7!

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *