Press "Enter" to skip to content

Burgerkill Resmi Merilis Buku Dokumenter “Spit The Venom Tour 2013”

Senin (23/12). Saat itu, udara dingin menyelimuti Kota Bandung. Penyebabnya adalah hujan yang sedari siang mengguyur langit kota ini tanpa ampun. Namun sepertinya, hujan dan udara dingin bukanlah penghalang berarti bagi saya dan para pasukan hitam, yang menyebut diri mereka dengan nama Begundal (fanbase Burgerkill, RED) untuk hadir sebagai saksi sejarah dalam peluncuran buku Burgerkill Spit The Venom Tour 2013 Photo Book, di Galeri Graha Parahyangan, Jalan Dayang Sumbi No. 10.

Burgerkill Spit The Venom Tour 2013 Photo Book ini sendiri merupakan sebuah buku, yang di dalamnya memuat dokumentasi sakral para awak Burgerkill saat mereka menghajar lebih dari 30 kota dalam gelaran tour bertajuk  Spit The Venom pada tahun 2013 lalu. Buku setebal 320 halaman ini berisikan 386 foto hasil jepretan Refantho Ramadhan, Bow, Fauziah, dan Agung Gogeng, yang nggak lain merupakan official photographer dari band yang telah terbentuk sejak 1995 ini. Selain itu, pada buku yang dirilis dalam jumlah terbatas ini terdapat sebuah video dokumenter berdurasi 40 menit, yang menampilkan kisah perjalanan tour mereka dalam bentuk DVD. Enak!

Menjelang senja, acara yang dimulai dari jam 1 siang ini mulai dipenuhi gerombolan manusia berpakaian hitam dengan segala pernak-pernik metalnya. Oh ya, gelaran ini menyuguhkan berbagai rangkaian acara, macem photography exhibition yang menampilkan beberapa pameran foto saat Burgerkill melibas tour Spit The Venom, lalu screening movie yang menyuguhkan pemutaran film dokumenter perjalanan Burgerkill, serta book signing talkshow.

dd
Sedep bener.

Gerombolan manusia semakin menyesaki venue, terlebih ketika pemutaran film dokumenter yang mengisahkan perjalanan Eben cs. dalam mengarungi tour, yang disebut-sebut sebagai tour terpanjang Burgerkill sejak 19 tahun karir bermusik mereka. Sebuah pesan tersirat penuh makna, dapat kita petik dalam video dokumenter tersebut. Dalam film yang digarap oleh BKTV (Burgerkill TV, RED) ini mereka seakan ingin membuktikan bahwa mimpi dan cita-cita dapat diraih dengan usaha keras tanpa menyerah, seperti apa yang telah mereka lakukan selama ini.

Beres pemutaran video dokumenter, riuh tepuk tangan kebanggaan membahana membuat bising venue. Acara yang digelar dalam dua hari, yaitu Senin (23/12) dan Selasa (24/12) ini dilanjutkan dengan talkshow tentang jurnalisme musik yang dipandu oleh Gustav (founder Common room) sebagai moderator, lalu Kimung (ex-Burgerkill, Karinding Attack, penulis), Refantho Ramadhan (official photographer Burgerkill), Bow (official photographer Burgerkill, BKTV), dan Yayat Ahdiat (music producer) yang menjadi pembicara.

swr
Ada photography exhibition juga neh.

Dalam talkshow-nya, Kimung memberikan sebuah apresiasi luar biasa terhadap Burgerkill untuk peluncuran buku ini. Baginya, baru Burgerkill lah yang bisa memberikan ruang kreasi khusus bagi para crew-nya untuk berkarya. “Nggak banyak band, bahkan belum ada band di Indonesia yang memberikan ruang bagi crew-nya untuk berkarya, dan baru ini dilakukan oleh Burgerkill,” ucap Kimung.

Selain itu, Kimung beranggapan bahwa buku ini dapat membawa ranah musik Indonesia untuk menjadi lebih baik lagi. “Dalam buku ini Burgerkill seolah ingin merepresentasikan empat hal yang bisa membuat ranah musik nasional untuk menjadi lebih baik. Stage, performing, professionalism, dan merchandising,” terang Kimung dalam talkshow-nya.

Nggak banyak band di Indonesia yang memiliki prestasi secemerlang Burgerkill. Dalam peluncuran bukunya ini, Vicky Mono (vokal), Eben (gitar), Abah Andris (drum), Agung Hellfrog (gitar), dan Ramdhan (bass) seolah ingin memacu semangat para generasi musik menjanjikan Indonesia untuk terus bermimpi dan berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita mereka dalam bermusik. Hayu atuh kita bareng-bareng ikuti apa yang udah ditorehkan Burgerkill!

 

Foto : Septian Nugraha & Istimewa

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *