Press "Enter" to skip to content

Budi Warsito, Pemburu Barang Vintage

Memori adalah sejarah masa lalu, tersimpan lewat barang, musik, bacaan, apa pun. Coba, deh, liat sekeliling kamu, kita nggak bisa terlepas dari kenangan-kenangan masa lalu yang berupa barang vintage, kan? Nah, ngomong-ngomong soal itu, saya sempat ngobrol santai bareng seseorang yang hobi banget mengoleksi barang-barang vintage, nih. Ini dia Budi Warsito. Biar makin akrab manggilnya Mas Budi aja yah. Menurut Mas Budi, barang-barang lawas selalu punya kisah tersendiri dari masa ke masa. Pengen tau lebih lanjut, yuk, simak kisahnya!

Gimana awalnya dia mengoleksi barang vintage, ternyata ada ceritanya. Waktu itu Mas Budi masih bocah, kelas 6 SD di pelosok Jawa Tengah. Suatu hari dia harus naik bis sendirian, ceritanya mau pulang dari Kotamadya ke rumahnya di Kabupaten. Wah bisnya penuh! Terpaksa deh harus berdiri desak-desakan dengan penumpang lain.

Di tengah perjalanan, salah seorang penumpang, Bapak-bapak penjual sayur, bangkit dari kursinya sambil bilang ke kondektur, “kiri, kiri!” lalu buru-buru turun setelah melempar keranjang dagangannya ke luar bis. Ada beberapa majalah ketinggalan di kursi. Mas Budi kecil pengen teriak manggil si bapak tukang sayur itu, yang sayangnya udah keburu lompat dari bis, dan di saat bersamaan dia harus sigap mengamankan kursi kosong itu. Cangkeul meureun berdiri terus.

Ternyata, itu adalah majalah-majalah Intisari, edisi tua tahun ’60-‘70an, sampul-sampulnya udah lapuk dan halamannya copot-copot. Lucunya, Mas Budi tertarik membacanya cuma gara-gara salah satu tanggal terbitnya mirip tanggal lahirnya, meski tahunnya beda jauh. Ternyata isinya seru. Dari situ dia baru tahu bahwa ternyata ikan mujair itu dinamai dari penemunya, seorang nelayan asal Jawa Timur bernama Pak Mudjair. Saking keasyikan baca, Mas Budi sampai lupa turun, kebablasan beberapa kilometer dari rumah. Dan kebablasan juga sampai sekarang, kesukaannya pada barang-barang vintage.

Alhasil, Mas Budi mulai rajin mengumpulkan majalah lama, buku-buku lawas, juga kaset-kaset tua sampai lulus SMA. Pindah ke Bandung untuk kuliah, dia mulai mengumpulkan piringan hitam, terutama plat-plat musik Indonesia lama. Salah satunya, nih. Waktu heboh soal lagu Rasa Sayange diklaim Malaysia dan beberapa orang mulai mencari plat cenderamata resmi The 4th Asian Games Djakarta 1962: Souvenir from Indonesia, yang memuat lagu itu dengan ejaan lama Rasa Sajange, ternyata Mas Budi, lho, yang punya piringan hitam itu… Mantap ih.

“Entah kenapa, kayak ada sesuatu di barang-barang tua itu, yang bikin saya pengen koleksi dan menggali cerita-cerita di baliknya,” katanya antusias. Tahun 2003, Mas Budi bergabung dengan perpustakaan Rumah Buku, yang kini bernama Kineruku. Nomor keanggotaannya masih 2 digit waktu itu. Sekarang, sih, udah ribuan. Di sana kita bisa baca buku, denger musik, nonton film, beli CD/kaset/vinyl, sambil pesan makan minum di kafenya. Lokasinya di sebuah rumah tua yang dijadikan tempat baca yang nyaman, sejuk dan hijau, banyak pohon.

Pendirinya, Ariani Darmawan, juga suka mengumpulkan barang vintage. Cocok banget, deh, sama Mas Budi. Ariani, atau yang akrab dipanggil Mbak Rani, keidean menjual sebagian koleksinya lewat blog. Awalnya cuma arloji tua dan kacamata vintage. Ternyata laku dan banyak peminatnya. Seiring berjalannya waktu, Mas Budi dan Mbak Rani yang awalnya berteman, lalu jadi partner kerja, dan sekarang partner hidup, mulai membuka toko vintage Garasi Opa di tahun 2012.

Garasi Opa

Dinamakan Garasi Opa, karena tokonya berada di bekas garasi milik kakeknya Mbak Rani, di sebelah perpustakaan tadi itu. Banyak banget barang vintage keren di Garasi Opa, lho. Mulai dari mesin tik, kamera analog, koper, telepon putar, televisi, radio, perabotan rumah tangga, cangkir dan piring antik, arloji, jam dinding, kacamata, cermin, majalah, foto, poster, vinyl, gramofon 78rpm, proyektor film 16mm, dan masih banyak lagi. Bahkan ada kereta bayi dari era awal 1900-an segala!

Dari mana, sih, mereka bisa dapet barang-barang itu semua? Ternyata kuncinya ada di rajin hunting sana-sini, di dalam negeri maupun luar negeri. “Mencari nafkah dari sesuatu yang disukai, rasanya lebih menyenangkan,” kata Mas Budi soal aktivitas full-time mereka ini. “Serunya berburu barang vintage, selalu ada kejutan di situ. Kita nggak pernah tau barang apa aja yang bakal kita temukan hari ini,” tambahnya.

Nah, kalau kamu suka barang lawas juga, silakan datang belanja ke Garasi Opa, toko vintage yang berlokasi di perpustakaan Kineruku, Jalan Hegarmanah no. 52, Bandung. Mereka menerima jual-beli juga, lho. Artinya, kamu bisa juga menawarkan barang vintage ke mereka, kalau cocok bisa langsung mereka beli. Ada juga web-nya di garasiopa.com , dan instagram: @garasiopa. Mari ber-vintage-ria, yuhu!

Kalau kamu-kamu lebih peka terhadap sekitar, semakin banyak orang-orang yang mengikuti jejak Mas Budi, jadi kolektor barang vintage. Seneng aja liatnya, bahwa orang-orang nggak lupa akan barang-barang yang memiliki nilai sejarah dan kenangan. Sok sana belajar sama Mas Budi, atau sekadar ngobrol-ngobrol gitu. Siapa tau nantinya tukeran barang vintage. Kan mantap.

Comments are closed.