Press "Enter" to skip to content

Boniex Noer, For Revenge, dan Manuver Selanjutnya

Senin, 30 Desember 2019, sebuah siaran pers sampai di tangan saya. Nama file itu tertulis “Press Release Boniex”. Selama mengenal Boniex Noer, vokalis sekaligus frontman yang kini berdomisili di Jakarta, bila apa yang dia kirim berbentuk file berformat .word atau .pdf, itu artinya materi tersebut penting. Dan bener aja, isinya kabar tentang kembalinya Boniex bersama For Revenge, unit post-hardcore/emo asal Bandung, yang pada tahun 2015 lalu ia tinggalkan karena satu dan lain hal yang sulit dijelaskan. Ngapain juga dijelasin, kan bukan sesi interview rekrutmen CPNS.

Selama itu pula, media sosial miliknya terus menerus dibanjiri celetukan ringan hingga yang berkesan serius, “Bang Boniex, plis comeback!” Saya termasuk di antaranya, dengan beberapa kali menaruh komentar di postingan Instagram-nya dengan sepenggal lirik, “tertawalah, anggap ku tak ada.” Hahahaha.

Minggu, 19 Januari 2020, Boniex memberi kabar melalui pesan Whatsapp, “Gue di Dago atas.” Ini menjadi kesempatan buat saya untuk melempar banyak pertanyaan seputar masanya di era yang kedua. Sore itu sedang berlangsung sesi syuting untuk pembuatan video klip For Revenge (selanjutnya disingkat FR) yang terbaru. Simak percakapannya berikut ini.


Halo, apa kabar? Gimana perasaan setelah kembali pulang?

Boniex: Naon, sih, geuleuh.

Hahahahaha. Maksudnya gimana akhirnya balik lagi ke FR setelah 4 tahun lamanya?

Boniex: Gimana ya. Balik lagi juga karena masih berhubungan baik sama yang lain, terutama Chimot masih suka ketemu. Pas ditawarin balik lagi juga ya ayo. Gue juga masih ngikutin FR, termasuk pas kemarin Simon Simorangkir (vokalis sebelumnya, RED) cabut. Cuma ada semacam kesepakatan di awal, kembalinya gue ini biar kami mulai lagi dari awal, nggak usah ngeliat lagi ke belakang.

Oh termasuk postingan FR yang pada dihapus itu ya?

Boniex: Hahaha. Itu, sih, gimmick aja. Tapi pada akhirnya memang mending sekalian dari awal. Postingan media sosial dihapus-hapusin, termasuk video-video manggung di YouTube juga.

Panggung pertama pascakembali itu di Lampung? Bawa materi lagu 2 album pertama kah?

Boniex: Sebetulnya pertama banget tuh di Cikarang, Desember 2019. Tapi diem-diem aja. Jadi yang waktu itu pada nonton udah tau kayaknya gue bakal balik. Bawain materi-materi di album Second Chance.

Ini lagi syuting untuk single Derana ya?

Boniex: Iya, dibikin video klipnya. Ini hari ke-2. Kemarin take untuk band di daerah Cicaheum. Single-nya nanti rilis tanggal 22 Januari. Apal teu director-na saha?

Nggak tau.

Boniex: Kabogoh aing.

*Baca juga berita perilisan single Derana di sini: For Revenge Resmi Rilis “Derana”, Karya Perdana di Era yang Kedua

Siap… Banyak yang kaget, tapi juga banyak yang bahagia dengan kembalinya Boniex ke FR. Banyak kerinduan yang tentunya dibarengi dengan harapan FR bisa balik lagi ke masa emasnya. Ada beban untuk mengembalikan itu?

Boniex: Nggak, biasa aja. Bikin karya aja. Kecuali buat yang menaruh ekspektasi ya mau gimana.

Single Derana  dan Serana itu berbeda ya?

Boniex: Keduanya single yang berbeda, cuma berkaitan. Derana itu kan kalau menurut KBBI artinya bertahan, nggak cepet nyerah. Nah, Serana itu kebalikannya. Kayak merana gitu. Jadi keduanya nunjukin dua sifat yang berlawanan.

Momentum apa yang membuat formasi terbaru ini bisa tancap gas selepas putusnya kerja sama dengan Simon?

Boniex: Itu balik lagi ke soal kesepakatan di awal tadi. Gue pengen dari awal banget dan langsung mulai. Jadi pas masuk studio buat jamming, kekumpul materi lagu. Tapi pas didengerin rekamannya kayak dapet dua materi. Yaudah bikin dua tapi dibikin nyambung, ada kaitannya.

Apa yang didapat dari proses bermusik bareng Eirene?

Boniex: Banyak. Selama bareng mereka banyak rencana buat bikin ini-itu. Bikin video klip, cara ngemas lagu, eksplorasi musik.

Termasuk promosi melalui cara video reaksi musisi/influencer yang sekarang diterapkan di FR?

Boniex: Yaaa termasuk lah, karena jadinya banyak diaplikasikan di FR.

Eirene jadi bubar semenjak Boniex comeback ke FR.

Boniex: Kata siapa? Band-nya masih ada kok. Hapus postingan itu termasuk gimmick juga. Salt (gitaris Eirene, RED) bilang, “hayu ah pamit juga biar kayak FR, biar piomongeun.”

Hahahahaha.

Boniex: Hubungannya masih baik. Bahkan Salt nawarin diri untuk bantu jadi music director-nya FR.

Dari formasi terakhir saat Boniex di For Revenge, ada perubahan dalam personil. Hagie keluar, Izha masuk. Sudah bisa mengimbangi?

Boniex: Gue rasa aman. Orang-orangnya masih ini kok, dan masih suka ketemu, kontakan. Izha juga kan dulunya udah bareng FR, dulu masih roadman. Oh ya, sama ini, FR punya personil baru, gitaris. Nih, orangnya.

Beneran?

Boniex: Serius. Tanya aja.

Nanti deh, lanjut pertanyaan dulu. Boniex bukan orang baru di FR, dan saya musti tanyakan ini. Empat belas tahun bermusik, sudah berada di titik mana, nih, FR?

Boniex: Oh enya nya 14 tahun? Berarti geus lila. Titik mana apanya?

Kayak, apakah udah merasa puncak, atau justru merasa lagi di bawah.

Boniex: Kalau puncak belum lah, masih jauh. Belum pernah manggung di luar negeri. Dan buat gue, For Revenge itu harus naik tingkat. Secara kualitas maupun apresiasi. Karena makin tua makin banyak yang kami perjuangkan. Gue pengen For Revenge lebih dari apa yang udah dicapai.

Tanya soal video klip atuh.

Oh boleh.

Boniex: Gimana proses kreatifnya, gitu.

Nah, boleh, gimana tuh? Hahahaha.

Boniex: Konsep video klipnya dibikin nyambung antara Derana dan Serana. Masing-masing sisi ngasih perspektif yang beda. Jadi diibaratkan ada dua orang, si cowok itu Derana, si cewek Serana. Derana ini bisa bangkit setelah dibantu sama Serana, tapi Derana ini tetep nahan kegelisahan dia sendiri. Dipendem, menyerana gitu. Ini ada kaitannya sama isu mental health yang jadi isu penting di masyarakat. Makanya pemilihan talent-nya juga serius, karena meraninnya harus dapet.

*tiba-tiba Pevita Pearce dateng nawarin pisang molen*

Oh gitu. Director-nya… beneran teteh itu?

Boniex: Jadi awalnya gue ngobrol ke Mas Eko Kristianto (Director program The East NET, RED), dulu pernah kerja bareng di NET. Bilang pengen bikin video klip buat FR. Akhirnya oke, lalu diarahin ke Pevita Pearce. Ada adegan ranjangnya.

Serius?

Boniex: Itu liat aja ada kasur. Sama ada adegan kursi, adegan meja.

Serius atuh~ Alone at last ngegas lagi setelah Yas comeback.  Killing Me Inside bikin format reunion. Yang aktif orang-orang lama. Menurut Boniex, apa yang terjadi dengan skena emo saat ini?

Boniex: Apa ya. Dibilang turun, nggak, sih. Masih ada kok sekarang. Dan Bandung beda dari Jakarta, nggak terlalu kerasa. Kalau gue ngeliat fenomena ambyar-nya Didi Kempot, meledak banget kan. Secara lirik itu desperate loh, emo banget. Tapi orang-orang menikmati itu. Mungkin trennya lagi ke situ. Dan gue ngerasa, tren berikutnya mengarah lagi ke emo. Udah lewat lah masa-masa folk senja.

Dan soal kehadiran Alone at Last atau Killing Me Reunion, itu sebagai pemantik aja. Bahwa skena ini masih ada geliatnya.

Oh ya, salah satu media menyebut musik kalian saat ini sebagai modern rock. Awal mulanya kan kalian bisa dibilang post-hardcore/emo. Adakah perubahan warna musik yang cukup kentara?

Boniex: Emo aja, sih. Post-hardcore tuh malu sama hardcore. Udah mah hardcore, post lagi. Tapi modern rock juga oke. Kayak keren gitu. Berkelas. Yaudah nggak apa-apa, itu aja. Hahaha.

Oke deh, sukses untuk langkah  berikutnya. Ada kutipan yang bisa disampaikan kepada For Revenge Family yang seneng dengan kembalinya Boniex?

Boniex: Terima kasih kalau itu membuat kalian senang dan bahkan bisa bahagia. Gue ngeband lagi bukan untuk gaya-gayaan. Cuma biar keren aja. Hahaha.


Obrolan sore itu diakhiri dengan pisang molen terakhir yang dihabiskan oleh gitaris anyar For Revenge. Teka-tekinya akan terjawab sesegera mungkin. Sementara proses syuting video klip Derana/Serana berlanjut, saya pamit untuk melanjutkan touring menuju Bandung Kota. Ada perasaan lega akhirnya Boniex kembali. Karena hal itu menandakan jokes “Boniex Revenge” kembali relevan untuk digunakan. Seenggaknya di tongkrongan saya.


Twitter: @FORREVENGE

Instagram: instagram.com/forrevengeofficial

Foto: dok. For Revenge