Press "Enter" to skip to content

Bermanfaat Lewat Berkendara Bareng “The Distinguished Gentleman’s Ride”

Halo, apa kabar kalian wahai warga kreatif? Siapa di antara kamu semua yang seneng atau hobi momotoran? Aya? Oke, buat kamu yang hobi momotoran apalagi motor kustom atau motor klasik, pasti nggak asing sama kegiatan yang namanya The Distinguished Gentleman’s Ride. Iya, kan?

Kegiatan The Distinguished Gentleman’s Ride adalah kegiatan amal tahunan yang diinisiasi oleh para penggemar motor klasik, dengan cara berkumpul dan melakukan riding dengan menggunakan pakaian ala distinguished gentleman. Acara amal global ini bertujuan untuk menggalang dana bagi kepentingan riset global kesehatan pria, khususnya penyakit kanker prostat yang memang tercatat sebagai salah satu jenis kanker yang paling banyak diidap oleh para kaum pria. Kegiatan DGR dan riset global ini diprakarsai oleh The Foundation Of Man dari Australia.

Nah, di Indonesia kegiatan amal dilaksanakan untuk ke-3 kalinya. Tercatat ada 1117 riders asal Indonesia yang terdaftar resmi di website resmi DGR, tapi yang ikut lebih dari itu, sob! Rame pisan! Kegiatan ini sendiri diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia, kota yang terdaftar untuk ikut serta di kegiatan ini. Ada Bali, Bandung, Jakarta, Balikpapan, Jambi, Kebumen, Malang, Semarang, Solo, Surabaya, Purwokerto, Yogyakarta, Palembang, dan Padang Sidempuan.

Acaranya sendiri gratis, tapi untuk riders yang ingin melakukan donasi, bisa langsung daftar dan memberikan donasinya secara online lewat web di atas. Besaran minimal untuk menyumbang adalah 1$ saja. Untuk donasi nya nanti, akan dilimpahkan ke Yayasan Kanker di kota masing-masing.

Acara DGR ini serentak dilaksanakan di seluruh dunia pada hari Minggu (27/9). Di Bandung sendiri, ada lebih dari 1000-an riders yang ikut serta. Kegiatan dimulai jam 10 pagi dengan agenda awal berkumpul di Babakan Siliwangi dan yang keren adalah para riders teu ngaret! Tepat waktu semua, keren abis! Nggak kayak kuliah, sok ngaret.

Waktu saya ke sana jam 9 pagi, Baksil udah lumayan rame sama motor, motornya bagus-bagus, sedangkan saya malu sendiri soalnya motornya biasa aja, masih polosan kayak motor yang ditawar-tawarin di pinggir jalan sama sales. Selain itu, jok belakang kosong nggak ada yang dibonceng. So sad. Setelah jam 10 teng, para riders mulai nge-gas dari Baksil, berputar menuju Jalan Tamansari, lalu menyusuri Jalan Cipaganti, sampai akhirnya tiba di Manggala Giri (Lembang) sebagai finish point.

Blar... Blar... Gandeng...
Blar… Blar… Gandeng…

Yang kerennya lagi dari para riders adalah mereka tetap melakukan safety riding, tetap mematuhi rambu lalu lintas, berhenti saat lampu merah, nggak mengambil lajur lawan arah, dan yang terpenting adalah menghormati sesama pengguna jalan. Laki banget! Kenapa coba saya bilang keren? Soalnya, kadang kalau lagi momotoran terus tiba-tiba ada pawai dari club motor tertentu, pasti ada saja oknum pengendara yang melanggar hal-hal tadi. Kan, itu teh amat sangat nggak keren, coy! Meski motor oke, tapi attitude jelek mah, kurs euy!

Memang, selain adanya penggalangan dana untuk amal, acara ini juga dilakukan para riders motor klasik atau kustom sebagai ajang “klarifikasi” bahwa riders motor klasik atau kustom adalah pengendara motor yang santun, yang mengerti dan paham betul akan aturan lalu lintas.

Saya nggak berlama-lama di acara DGR, setelah mencapai finish point serta ngaso sebentar, saya langsung balik lantaran ditelepon mamah. Dan sayangnya acara ini cuma sampe jam 4 sore karena beberapa alasan tertentu. Salah satunya untuk mengurangi penumpukan jumlah kendaraan. Daerah Lembang tea atuh, kalau weekend pasti pinuh sama wisatawan. Selepas jam 4 sore acara langsung dibubarkan dan para riders pulang secara terpisah, nggak ada pawai riding untuk menuju rumah masing-masing. Karunya anu beda arah.

Hese Parkir
Hese parkir.

Pokoknya acara ini melengkapi list di September Ceria, selain beramal, bisa ketemu temen baru, bisa tau banyak hal baru soal motor, bisa ngeceng tentunya jadi tau jalan. Hehehe. Jadi, siapa yang masih bilang kalau hobi momotoran nggak bisa bermanfaat? siapa sok? Ya, orang tua saya, lah. So sad banget. Bae, lah, yang penting, tetap ride with responsibility! Gitu.

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *