Press "Enter" to skip to content

Bermacam Perspektif di Pameran “Rumah Bernama Bandung”

Hai warga kreatif! Apa, sih, yang terlintas di kepala kalian ketika mendengar kata “Bandung”? Kreatif? Inovatif? Macet? Kue cubit green tea? Atau yang lagi hits, nih, batu ali? Hmm yaya, Bandung emang nggak ada matinya. Persib atau mati.

Menurut Surayah Pidi Baiq, Dan Bandung, bagiku, bukan cuma masalah geografis. Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan”.  Ya, aku setuju dengan pernyataan dari Surayah. Bandung selalu menjadi tempat favorit kalau untuk hangout dan belanja, tapi lebih dari itu Bandung memang selalu membawa aura berbeda untuk para pencinta seni.

Representasi tentang Bandung tersebut, kemudian ditumpahkan oleh mahasiswa seni yang berasal dari beberapa kampus seperti ITENAS, ITB, Unikom, dan Telkom University. Semua hasil karya para mahasiswa, terpajang dengan indah di pameran yang berjudul Rumah Bernama Bandung. Pameran ini merupakan pameran seni rupa pertama yang diadakan oleh Bandung Satu Kata Art Project. Pameran ini mengambil tempat di Urbane, Galeri Yuliansyah Akbar, dan berlangsung sejak tanggal 30 Januari sampai 7 Februari 2015. Bentar lagi beres, nih!

"Ketidak Sempurnaan yang Sempurna" oleh Andrianto
“Ketidak Sempurnaan yang Sempurna” oleh Andrianto.

“Bandung dalam hal ini dipandang sebagai rumah bersama, di mana masing-masing subjek mempunyai sudut pandang masing-masing, sekaligus terus-menerus menegosiasikan sudut pandang tersebut di ruang bersama, lengkap dengan keragaman perspektifnya,”  ujar Bandung Satu Kata Art Project pada pameran tersebut.

Jadi dari pameran ini, kamu bisa melihat Bandung dari sisi seninya, di mana Bandung itu sebenarnya kota yang penuh dengan seni di dalamnya, dan kuliner, sih, sebenernya hahaha. Pameran ini menyejajarkan dua hal yang bertentangan, yaitu ruang di mana kita dikenali, dengan ruang di mana kita perlu terus-menerus mengekspresikan diri kita. Ah, syedap!

"Bandung, part 1" yang menyentuh kolbu
“Bandung, Part 1” yang menyentuh kolbu.

Pameran ini lebih banyak memperlihatkan tentang sisi Kota Bandung yang dulu, yang jarang macet, masih banyak lapangan kosong, dan bukan dengan gedung-gedung besar seperti sekarang ini. Mungkin kita memang rindu dengan Bandung yang dijuluki kota kembang. Pameran ini juga bisa menjaring beberapa tafsir tentang Kota Bandung dalam banyak pengertian, seperti ruang tempat hidup bersama ataupun sebagai ruang tempat ekspresi individual. Pameran ini membuat kita semakin berkaca tentang apa yang telah kita perbuat pada Kota Bandung. Mari menjaga Bandung dan pastinya makin sayang sama Bandung!

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *