Press "Enter" to skip to content

“Berlibur ke Poznan”, Hadirnya Hal-hal yang Takkan Kembali

Bahwa waktu adalah sesuatu yang nggak bisa kita kembalikan merupakan sebuah rahasia umum, semua orang waras sadar ini.  Dan kita semua sepakat seberapa besar usaha kita untuk kembali, nggak akan mampu membawa kita kembali ke waktu yang telah lampau. Seperti suatu kemustahilan untuk bisa kembali ke masa lalu, nggak peduli seberapa dekat hubungan kalian dengan Tuhan, semua hal yang bertujuan untuk membawa raga kita ke masa lalu adalah kemustahilan. Sama mustahilnya dengan mendorong batu karang ke atas gunung seperti yang Sisifus lakukan dalam Le Mythe de Sisyphe, karya Albert Camus.

Raga kita mustahil untuk kembali ke masa lalu, karena mesin waktu hanya sebuah imaji Fujiko F. Fujio yang ia representasikan dalam komik legendaris, Doraemon. Beruntung Tuhan menciptakan sebuah memori dalam kepala kita, berisi bayangan-bayangan yang sempat terjadi dan kita lalui. Maka yang bisa kita lakukan hanya mengenang apa yang telah lalu melalui memori yang tersimpan dalam kepala. Bayangan-bayangan ini bisa muncul dalam sembarang waktu. Ketika saat menumpang angkutan umum di suatu petang sepulang kuliah atau bekerja, obrolan-obrolan hangat bersama kawan atau melalui potongan gambar yang sempat diabadikan lensa kamera. Begitu banyak medium yang mampu menghadirkan hal-hal yang nggak akan kembali itu. Hasil dari itu semua bisa berupa senyuman atau kerutan di dahi.

Namun Littlelute mengenalkan medium lain yang mampu membawa kita menyelami kembali kenangan masa kecil. Saya nggak akan bercerita tentang musik mereka, dengan nama Tesla Manaf di belakang kursi produser, komposisi instrumen yang unik, tambahan vokal seriosa di ujung lagu. Maka komentar saya singkat saja: Berlibur ke Poznan menjadi lagu yang sederhana, nggak njelimet namun tetap berkualitas. Bagi saya yang lahir di pertengahan 90’an, yang waktu itu jabatan Soeharto (sangat perlu bagi saya menyisipkan nama Soeharto dalam tulisan ini mengingat kita masih dalam suasana Hari Kesaktian Pancasila) sudah memasuki usia senja dan Nintendo menjadi mainan primadona, maka menonton klip perdana mereka berjudul Berlibur ke Poznan lebih menarik minat saya.

Video
Video klip Berlibur ke Poznan.

Kesan pertama saya ketika menonton klip mereka seperti menemukan sebuah toples penuh berisi permen karet Yosan yang akan membawa kita ke dalam romantika masa lalu. Melalui klip berdurasi kurang dari lima menit, grup musik yang terbentuk tanggal 29 November ini sukses membuat saya tersenyum-senyum. Melalui cangkir seng, tv hitam putih, mesin jahit dan rumah berdinding bilik khas tempo dulu, Riza Anshori mencoba menghadirkan “hal-hal yang takkan kembali”.

Namun pemilihan font untuk lirik serta warna biru yang digunakan di dalamnya adalah puncak dari segala kegemasan klip musik milik Littlelute ini. Maka saya yakin siapa pun yang melihat klip tersebut akan tersenyum-senyum, lalu mendadak saja kepala kita disesaki segala bayangan tentang klip musik anak-anak tahun 90’an yang dahulu sempat kita saksikan. Secara keseluruhan klip musik Berlibur ke Poznan sangat unik. Melalui klip musik ini juga Littlelute melalui tangan Riza Anshori, sukses menegaskan image grup musik mereka dengan image unik. Hanya saja akting Dhea, sang vokalis, dalam klip ini saya rasa masih terasa kurang natural. Namun itu dapat dipahami mengingat ia seorang musisi bukan aktris.

Maka bagi saya klip berjudul Berlibur ke Poznan ini benar-benar membuat saya sebentar saja berlibur mengunjungi masa lalu dengan perasaan gemas di akhir. Buat kalian silakan cicipi dan rasakan bagaimana hal-hal yang takkan kembali itu dapat kembali. Meski sebentar.

__________________________________

Twitter : @Littlelute_

Soundcloud : soundcloud.com/littlelute

Foto: dok. Littlelute

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *