Press "Enter" to skip to content

Berkeringat Enak di “Release Party Bloodlines Compilation”

Pas hari Minggu (17/01) kemarin, langit Bandung yang sebelumnya cerah, mendadak gelap. Entah karena langitnya lagi galau atau kenapa, dan akhirnya hujan pun turun. Kalau pas hujan nggak dipake gerak teh bawaannya jadi ngantuk dan nggak produktif. Eh, kebeneran sebelumnya saya dapet info ada acara di hari itu. Acara yang saya maksud adalah Release Party Bloodlines: Keeping It Alive Compilation Vol.01. Setelah liat line-up-nya, beuh, ini mah moshing-able semua, jadi pengen ikutan berkeringat. Tapi kalem. Saya moshing? Wae, sih. Ah, liat nanti weh, yang penting datang dulu.

Acara release party ini merupakan acara launching dari album kompilasi yang baru aja dibikin sama Bloods Records. Sebuah sub-divisi dari Bloods Industries, salah satu distro asal Bandung yang terkenal itu, lho. Setelah bertahun-tahun Bloods Records berdiri, baru kali ini mereka merilis rekaman perdananya. Kompilasi ini merupakan awal dari bentuk apresiasi dan dukungan terhadap rilisan fisik. Setelah melakukan proses audisi yang dimulai dari Agustus-September 2015, akhirnya kompilasi ini rampung dan berisi track-track terbaru dari para band pengisinya.

Total ada 10 band asal berbagai kota yang ikut meramaikan Bloodlines: Keeping It Alive Compilation Vol.01 ini. Mereka adalah Ametis, Mosh Fight, Search Engine, Tiger Work, Dysplasia, Holocaust, Jerusalem, Servants of Devinity, The Horror Tribe dan Fat In Diet. Beberapa nama mungkin udah familiar buat yang suka dateng ke gigs kolektifan di Bandung, tapi beberapa nama lainnya juga nggak boleh luput dari perhatian. Ahayab, sob!

Pake lekbong biar gak hareudang.
Pake lekbong biar nggak hareudang.

Acara sebenernya dimulai sekitar jam setengah 1 siang, tapi gegara masih nugas buat UAS terus dilanjut sama hujan. Jadi aja saya baru datang jam 4an. Ngaret pisan datangnya. Jangan ditiru, barudak. Jadi aja saya ngelewatin penampilan dari Search Engine, The Horror Tribe, Holocoust, Dysplasia, dan One Spirit For All yang merupakan band opener release party ini. Sad.

Penampilan dari Ametis jadi favorit saya pada malam itu. Kuartet experimental hardcore asal Bandung ini tampil lebih atraktif dari beberapa band sebelumnya. Yang paling menonjol adalah aksi vokalisnya, Aldit, yang motah pisan, ujlang-ajleng sana-sini, gugulitikan, sampai sempet turun juga dari panggung buat memicu penonton biar moshing. Ah, terbaik. Dan pas ngebawain lagu terbarunya, Transmutasi, visual yang ditampilin bikin saya bingung antara mau nonton bandnya atau mantengin visualnya sampai beres. Bikin betah diliat soalnya, kek si dia. Ciegitu.

Ametis merupakan penampil terakhir dari band pengisi album kompilasi tersebut, sebelum akhirnya Godless Symptoms naik panggung. Nggak mau ketinggalan, Godless Symptoms juga merilis sebuah video klip dan juga single pada malam itu. Beruntunglah buat orang-orang yang datang di acara Bloodlines kemarin, karena mereka berkesempatan buat nonton video klip terbaru dari Godless Symptoms.

Servants of Devinity yang men666erikan.
Holocoust yang men666erikan.

Acara beres sekitar jam 8 malam. Yaa, keitung masih siang, kalau dibandingin sama beberapa acara musik yang sebelumnya pernah digelar di Auditorium IFI. Jadi masih bisa keburu buat ngelanjutin nge-date buat yang punya doi. Tapi ada hal yang disayangkan di acara release party ini, entah gegara publikasinya yang kurang atau gimana, penonton yang datang nggak terlalu ramai. Padahal kalau diliat dari line-up-nya mah, worthed banget buat ditonton. Apalagi buat yang suka musik-musik cadas. Cadas pangeran. Garing, maapin.

Harapan saya, ke depannya band-band yang ikut di kompilasi ini lantas nggak cepet puas dan terus berkarya buat meramaikan khazanah per-indie-an Indonesia. Soalnya, banyak banget band-band potensial yang sayang banget kalau berhenti di tengah jalan. Da kalau berhenti di tengah jalan teh, bikin macet. Naon. Dan buat Bloods Records, semoga proyek album kompilasi ini nggak berhenti di vol.01 aja, bisa berlanjut sampai vol.02, 03, 04, dst. Sukses terus lah pokoknya mah!

Foto: Yakub P.W. Atmaja

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *